alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Nekat Tanam Tanpa Mitra

Perlu Kemitraan untuk Jamin Harga

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beberapa bulan terakhir, tak sedikit petani yang tiba-tiba mengganti lahan perkebunan yang sebelumnya ditanami padi beralih ke tanam pisang cavendish. Padahal penjualan komoditas tersebut belum menemukan pasar. Bahkan dari ratusan hektare lahan pisang yang tertanam, hanya sepuluh hektare yang bermitra.

Catatan Dinas Pertanian Lumajang, setidaknya ada 130 hektare lahan pertanian pisang cavendish. Rata-rata tersebar di Kecamatan Pasrujambe, Tempursari, dan Kecamatan Klakah. Sebanyak 120 di antaranya dikelola secara swadaya, sedangkan 10 hektare lahan lainnya telah bermitra dengan salah satu perusahaan.

Nizar, salah satu petani pisang cavendish di Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, mengatakan, ketertarikannya menanam pisang cavendish melihat harganya yang cukup menjanjikan lewat media sosial. Tahun 2020 lalu dirinya memutuskan untuk menanam ratusan pohon di pekarangan belakang rumahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Tertariknya awalnya karena trending, juga harga jualnya yang di atas jenis pisang lainnya. Tapi sejak ada korona, ternyata harganya anjlok dan bertahan sampai sekarang. Rata-rata anjloknya hanya di pasar tradisional,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beberapa bulan terakhir, tak sedikit petani yang tiba-tiba mengganti lahan perkebunan yang sebelumnya ditanami padi beralih ke tanam pisang cavendish. Padahal penjualan komoditas tersebut belum menemukan pasar. Bahkan dari ratusan hektare lahan pisang yang tertanam, hanya sepuluh hektare yang bermitra.

Catatan Dinas Pertanian Lumajang, setidaknya ada 130 hektare lahan pertanian pisang cavendish. Rata-rata tersebar di Kecamatan Pasrujambe, Tempursari, dan Kecamatan Klakah. Sebanyak 120 di antaranya dikelola secara swadaya, sedangkan 10 hektare lahan lainnya telah bermitra dengan salah satu perusahaan.

Nizar, salah satu petani pisang cavendish di Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, mengatakan, ketertarikannya menanam pisang cavendish melihat harganya yang cukup menjanjikan lewat media sosial. Tahun 2020 lalu dirinya memutuskan untuk menanam ratusan pohon di pekarangan belakang rumahnya.

“Tertariknya awalnya karena trending, juga harga jualnya yang di atas jenis pisang lainnya. Tapi sejak ada korona, ternyata harganya anjlok dan bertahan sampai sekarang. Rata-rata anjloknya hanya di pasar tradisional,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beberapa bulan terakhir, tak sedikit petani yang tiba-tiba mengganti lahan perkebunan yang sebelumnya ditanami padi beralih ke tanam pisang cavendish. Padahal penjualan komoditas tersebut belum menemukan pasar. Bahkan dari ratusan hektare lahan pisang yang tertanam, hanya sepuluh hektare yang bermitra.

Catatan Dinas Pertanian Lumajang, setidaknya ada 130 hektare lahan pertanian pisang cavendish. Rata-rata tersebar di Kecamatan Pasrujambe, Tempursari, dan Kecamatan Klakah. Sebanyak 120 di antaranya dikelola secara swadaya, sedangkan 10 hektare lahan lainnya telah bermitra dengan salah satu perusahaan.

Nizar, salah satu petani pisang cavendish di Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, mengatakan, ketertarikannya menanam pisang cavendish melihat harganya yang cukup menjanjikan lewat media sosial. Tahun 2020 lalu dirinya memutuskan untuk menanam ratusan pohon di pekarangan belakang rumahnya.

“Tertariknya awalnya karena trending, juga harga jualnya yang di atas jenis pisang lainnya. Tapi sejak ada korona, ternyata harganya anjlok dan bertahan sampai sekarang. Rata-rata anjloknya hanya di pasar tradisional,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/