alexametrics
27.9 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Jadikan yang Menghina sebagai Kawan

Mudiyono, Atlet Difabel Peraih Beragam Penghargaan Tidak ada manusia yang sempurna. Semua memiliki keterbatasan. Namun, keterbatasan itu bukan menjadi penghalang untuk meraih prestasi. Salah satunya Mudiyono. Meski hanya memiliki satu kaki yang normal, dia bisa membuktikan prestasinya hingga tingkat nasional.

Mobile_AP_Rectangle 1

Seiring waktu, hinaan tersebut tidak lagi dihiraukan. “Awalnya memang tidak terima. Karena saat itu masih kecil, belum tahu. Seiring waktu, setiap ada yang menghina, saya datangi. Bukan untuk dilawan, tetapi untuk dijadikan kawan,” tambah peraih juara tiga tolak peluru Peparnas 2013 tersebut.

Menurut dia, menjadikan orang lain sebagai kawan akan menumbuhkan semangat menjalin kebersamaan. Oleh karena itu, dia selalu berterima kasih atas setiap hinaan atau pujian. “Mereka memang belum tahu, sesulit apa saya ketika jatuh. Maka dari itu, saya tidak pernah menganggapnya lawan. Justru, saya harus berterima kasih dan berbuat baik kepadanya,” jelasnya.

Lelaki peraih tiga emas dalam Perpaprov Jawa Timur ini, akhir pekan lalu, menuturkan, mental yang kuat harus dimiliki setiap penyandang disabilitas. Sebab, masih banyak orang belum memahami kehidupan difabel. “Terutama bagi atlet difabel.  Maka, kuncinya adalah mental yang kuat. Kalau mental kuat, latihan rutin, dan terus konsisten, prestasi akan mudah diraih,” pungkas atlet difabel ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

- Advertisement -

Seiring waktu, hinaan tersebut tidak lagi dihiraukan. “Awalnya memang tidak terima. Karena saat itu masih kecil, belum tahu. Seiring waktu, setiap ada yang menghina, saya datangi. Bukan untuk dilawan, tetapi untuk dijadikan kawan,” tambah peraih juara tiga tolak peluru Peparnas 2013 tersebut.

Menurut dia, menjadikan orang lain sebagai kawan akan menumbuhkan semangat menjalin kebersamaan. Oleh karena itu, dia selalu berterima kasih atas setiap hinaan atau pujian. “Mereka memang belum tahu, sesulit apa saya ketika jatuh. Maka dari itu, saya tidak pernah menganggapnya lawan. Justru, saya harus berterima kasih dan berbuat baik kepadanya,” jelasnya.

Lelaki peraih tiga emas dalam Perpaprov Jawa Timur ini, akhir pekan lalu, menuturkan, mental yang kuat harus dimiliki setiap penyandang disabilitas. Sebab, masih banyak orang belum memahami kehidupan difabel. “Terutama bagi atlet difabel.  Maka, kuncinya adalah mental yang kuat. Kalau mental kuat, latihan rutin, dan terus konsisten, prestasi akan mudah diraih,” pungkas atlet difabel ini.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

Seiring waktu, hinaan tersebut tidak lagi dihiraukan. “Awalnya memang tidak terima. Karena saat itu masih kecil, belum tahu. Seiring waktu, setiap ada yang menghina, saya datangi. Bukan untuk dilawan, tetapi untuk dijadikan kawan,” tambah peraih juara tiga tolak peluru Peparnas 2013 tersebut.

Menurut dia, menjadikan orang lain sebagai kawan akan menumbuhkan semangat menjalin kebersamaan. Oleh karena itu, dia selalu berterima kasih atas setiap hinaan atau pujian. “Mereka memang belum tahu, sesulit apa saya ketika jatuh. Maka dari itu, saya tidak pernah menganggapnya lawan. Justru, saya harus berterima kasih dan berbuat baik kepadanya,” jelasnya.

Lelaki peraih tiga emas dalam Perpaprov Jawa Timur ini, akhir pekan lalu, menuturkan, mental yang kuat harus dimiliki setiap penyandang disabilitas. Sebab, masih banyak orang belum memahami kehidupan difabel. “Terutama bagi atlet difabel.  Maka, kuncinya adalah mental yang kuat. Kalau mental kuat, latihan rutin, dan terus konsisten, prestasi akan mudah diraih,” pungkas atlet difabel ini.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/