23.7 C
Jember
Saturday, 4 February 2023

Pajak Minerba Lumajang Tak Capai Target, Hanya Rp 10 M

Penataan tata niaga pertambangan pasir tahun ini cukup efektif. Selama semester kedua, perolehan pajak minerba lebih banyak dari semester pertama. Kenaikan tersebut tembus hingga Rp 10,1 miliar per 23 Desember 2021.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pada semester pertama, bulan Januari sampai bulan Juni, pendapatan pajak pasir baru mencapai Rp 3.412.774.251. Karenanya, pada saat itu Pemkab Lumajang memutar otak untuk mendongkrak pendapatan pasir. Sampai-sampai memasang portal di beberapa titik mulut tambang.

Pada bulan Juni, kenaikan itu mulai terlihat. Sebab, bulan Juli realisasinya jebol Rp 1 miliar. Padahal, bulan sebelumnya pendapatan pasir selalu kurang dari Rp 1 miliar. Namun, sejak bulan Juli hingga November, realisasi itu terus meroket. Bahkan dalam sebulan minimal Rp 1,2 miliar masuk kas daerah.

Alhamdulillah jebol. Karena sudah tembus dari pendapatan tahun kemarin. Apalagi saat ini kan sebetulnya masih suasana korona. Tetapi, kami berhasil membuktikan dapat meningkatkan target tersebut. Naik sekitar Rp 3 miliar dari tahun 2020,” kata Kabid Penagihan Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) Lumajang Catur Prayogi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meskipun kenaikannya lumayan signifikan, perolehan pajak tersebut belum mengejar target pajak minerba yang sudah disepakati eksekutif dan legislatif sebesar Rp 25 miliar. Pencapaian tahun ini memang melebihi tahun kemarin. Namun, perolehan Rp 10,1 miliar masih jauh panggang dari api.

Di bulan Desember realisasi pajak pasir cenderung menurun. Sebab, pada awal bulan ini Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran (APG). Kondisi itu membuat para penambang menghentikan aktivitasnya. “Ada sekitar tujuh penambang yang terdampak bencana ini, tapi sebagian tetap bayar,” ujarnya.

Catur melanjutkan, realisasi pajak pasir bakal terus bertambah. Sebab, ada beberapa penambang yang belum melunasi hingga akhir tahun. Kemungkinan besar bakal bertambah sekitar seratus juta. “Ini teman-teman masih gerilya di lapangan. Kami akan terus ingatkan mereka sampai akhir tahun untuk pembayaran pajaknya,” tambahnya.

Beberapa sektor target pajak memang ada penurunan dan kenaikan. Namun, utak-atik nominal itu tidak mengubah target PAD tahun ini meskipun melewati pembahasan perubahan anggaran kabupaten (PAK). “Tetap target kami sebesar Rp 90,4 miliar,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pada semester pertama, bulan Januari sampai bulan Juni, pendapatan pajak pasir baru mencapai Rp 3.412.774.251. Karenanya, pada saat itu Pemkab Lumajang memutar otak untuk mendongkrak pendapatan pasir. Sampai-sampai memasang portal di beberapa titik mulut tambang.

Pada bulan Juni, kenaikan itu mulai terlihat. Sebab, bulan Juli realisasinya jebol Rp 1 miliar. Padahal, bulan sebelumnya pendapatan pasir selalu kurang dari Rp 1 miliar. Namun, sejak bulan Juli hingga November, realisasi itu terus meroket. Bahkan dalam sebulan minimal Rp 1,2 miliar masuk kas daerah.

Alhamdulillah jebol. Karena sudah tembus dari pendapatan tahun kemarin. Apalagi saat ini kan sebetulnya masih suasana korona. Tetapi, kami berhasil membuktikan dapat meningkatkan target tersebut. Naik sekitar Rp 3 miliar dari tahun 2020,” kata Kabid Penagihan Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) Lumajang Catur Prayogi.

Meskipun kenaikannya lumayan signifikan, perolehan pajak tersebut belum mengejar target pajak minerba yang sudah disepakati eksekutif dan legislatif sebesar Rp 25 miliar. Pencapaian tahun ini memang melebihi tahun kemarin. Namun, perolehan Rp 10,1 miliar masih jauh panggang dari api.

Di bulan Desember realisasi pajak pasir cenderung menurun. Sebab, pada awal bulan ini Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran (APG). Kondisi itu membuat para penambang menghentikan aktivitasnya. “Ada sekitar tujuh penambang yang terdampak bencana ini, tapi sebagian tetap bayar,” ujarnya.

Catur melanjutkan, realisasi pajak pasir bakal terus bertambah. Sebab, ada beberapa penambang yang belum melunasi hingga akhir tahun. Kemungkinan besar bakal bertambah sekitar seratus juta. “Ini teman-teman masih gerilya di lapangan. Kami akan terus ingatkan mereka sampai akhir tahun untuk pembayaran pajaknya,” tambahnya.

Beberapa sektor target pajak memang ada penurunan dan kenaikan. Namun, utak-atik nominal itu tidak mengubah target PAD tahun ini meskipun melewati pembahasan perubahan anggaran kabupaten (PAK). “Tetap target kami sebesar Rp 90,4 miliar,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pada semester pertama, bulan Januari sampai bulan Juni, pendapatan pajak pasir baru mencapai Rp 3.412.774.251. Karenanya, pada saat itu Pemkab Lumajang memutar otak untuk mendongkrak pendapatan pasir. Sampai-sampai memasang portal di beberapa titik mulut tambang.

Pada bulan Juni, kenaikan itu mulai terlihat. Sebab, bulan Juli realisasinya jebol Rp 1 miliar. Padahal, bulan sebelumnya pendapatan pasir selalu kurang dari Rp 1 miliar. Namun, sejak bulan Juli hingga November, realisasi itu terus meroket. Bahkan dalam sebulan minimal Rp 1,2 miliar masuk kas daerah.

Alhamdulillah jebol. Karena sudah tembus dari pendapatan tahun kemarin. Apalagi saat ini kan sebetulnya masih suasana korona. Tetapi, kami berhasil membuktikan dapat meningkatkan target tersebut. Naik sekitar Rp 3 miliar dari tahun 2020,” kata Kabid Penagihan Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) Lumajang Catur Prayogi.

Meskipun kenaikannya lumayan signifikan, perolehan pajak tersebut belum mengejar target pajak minerba yang sudah disepakati eksekutif dan legislatif sebesar Rp 25 miliar. Pencapaian tahun ini memang melebihi tahun kemarin. Namun, perolehan Rp 10,1 miliar masih jauh panggang dari api.

Di bulan Desember realisasi pajak pasir cenderung menurun. Sebab, pada awal bulan ini Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran (APG). Kondisi itu membuat para penambang menghentikan aktivitasnya. “Ada sekitar tujuh penambang yang terdampak bencana ini, tapi sebagian tetap bayar,” ujarnya.

Catur melanjutkan, realisasi pajak pasir bakal terus bertambah. Sebab, ada beberapa penambang yang belum melunasi hingga akhir tahun. Kemungkinan besar bakal bertambah sekitar seratus juta. “Ini teman-teman masih gerilya di lapangan. Kami akan terus ingatkan mereka sampai akhir tahun untuk pembayaran pajaknya,” tambahnya.

Beberapa sektor target pajak memang ada penurunan dan kenaikan. Namun, utak-atik nominal itu tidak mengubah target PAD tahun ini meskipun melewati pembahasan perubahan anggaran kabupaten (PAK). “Tetap target kami sebesar Rp 90,4 miliar,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Pupuk Jiwa Korsa, Cintai NKRI

Kendalikan Inflasi lewat Sektor Wisata

Penanganan Stunting Harus dari Hulu