23.7 C
Jember
Saturday, 4 February 2023

Pembeli Sapi Masih Minim, Meski Harga Jual Mulai Normal

Mobile_AP_Rectangle 1

JOGOTRUNAN, Radar Semeru – Melandainya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lumajang melegakan para peternak dan pedagang. Sebab, hal itu berdampak positif terhadap harga jual hewan. Khususnya harga jual sapi yang mulai kembali normal.

BACA JUGA : Tukang Becak Perkosa Gadis Cilik Tetangga Sendiri

Selain melandainya kasus, pasar hewan yang dibuka lagi juga mendorong harga penjualan kembali seperti semula. Salah satunya di Pasar Hewan Jogotrunan, Lumajang. Sebab, setelah dibuka, para pembeli dari luar daerah terus berdatangan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah satu penjual, Ali, mengaku senang aktivitas itu kembali normal. Meski harga belum pulih sepenuhnya, peminatnya mulai banyak. Harga sapi pun terus mengalami kenaikan setelah anjlok saat PMK.

Seekor sapi ukuran kecil hanya dihargai di bawah Rp 5 juta selama wabah PMK. Namun, beberapa pekan yang lalu, harganya bisa mencapai Rp 10 juta. “Kalau besar itu mulai normal lagi. Kisaran Rp 25 juta ke atas. Padahal sebelumnya mentok di harga Rp 15 juta. Tergantung jenis sapinya apa,” ujarnya.

Penjual asal Desa Sawaran Lor, Kecamatan Klakah, itu mengatakan, meski harga normal, pembeli masih pilih-pilih. Sebab, melandainya kasus tidak menjamin sapi benar-benar sehat. Karena itu, penjual maupun pembeli harus benar-benar mencermati kondisi kesehatan sapi. “Jumlahnya masih sedikit,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pasar Hewan Lumajang Darsun menjelaskan, peningkatan jumlah sapi yang masuk cukup baik. Akan tetapi, hal itu belum diimbangi dengan sapi yang terjual ke luar. Pihaknya mencatat dalam sehari jumlah sapi yang terjual masih di bawah seratus ekor.

Memang para pembeli dari luar kota banyak berdatangan. Terutama pembeli asal Surabaya. Harapannya, dalam waktu dekat jumlah transaksi di Pasar Patok Lumajang itu mengalami peningkatan yang signifikan. “Kami hanya bisa mendorong agar jumlah transaksi semakin banyak. Kalau dari sisi kebersihan, kami menjamin sudah bersih dan steril. Karena setelah maupun sebelum hari pasaran, kami sterilkan dengan disinfektan,” pungkasnya. (kin/c2/fid)

 

- Advertisement -

JOGOTRUNAN, Radar Semeru – Melandainya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lumajang melegakan para peternak dan pedagang. Sebab, hal itu berdampak positif terhadap harga jual hewan. Khususnya harga jual sapi yang mulai kembali normal.

BACA JUGA : Tukang Becak Perkosa Gadis Cilik Tetangga Sendiri

Selain melandainya kasus, pasar hewan yang dibuka lagi juga mendorong harga penjualan kembali seperti semula. Salah satunya di Pasar Hewan Jogotrunan, Lumajang. Sebab, setelah dibuka, para pembeli dari luar daerah terus berdatangan.

Salah satu penjual, Ali, mengaku senang aktivitas itu kembali normal. Meski harga belum pulih sepenuhnya, peminatnya mulai banyak. Harga sapi pun terus mengalami kenaikan setelah anjlok saat PMK.

Seekor sapi ukuran kecil hanya dihargai di bawah Rp 5 juta selama wabah PMK. Namun, beberapa pekan yang lalu, harganya bisa mencapai Rp 10 juta. “Kalau besar itu mulai normal lagi. Kisaran Rp 25 juta ke atas. Padahal sebelumnya mentok di harga Rp 15 juta. Tergantung jenis sapinya apa,” ujarnya.

Penjual asal Desa Sawaran Lor, Kecamatan Klakah, itu mengatakan, meski harga normal, pembeli masih pilih-pilih. Sebab, melandainya kasus tidak menjamin sapi benar-benar sehat. Karena itu, penjual maupun pembeli harus benar-benar mencermati kondisi kesehatan sapi. “Jumlahnya masih sedikit,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pasar Hewan Lumajang Darsun menjelaskan, peningkatan jumlah sapi yang masuk cukup baik. Akan tetapi, hal itu belum diimbangi dengan sapi yang terjual ke luar. Pihaknya mencatat dalam sehari jumlah sapi yang terjual masih di bawah seratus ekor.

Memang para pembeli dari luar kota banyak berdatangan. Terutama pembeli asal Surabaya. Harapannya, dalam waktu dekat jumlah transaksi di Pasar Patok Lumajang itu mengalami peningkatan yang signifikan. “Kami hanya bisa mendorong agar jumlah transaksi semakin banyak. Kalau dari sisi kebersihan, kami menjamin sudah bersih dan steril. Karena setelah maupun sebelum hari pasaran, kami sterilkan dengan disinfektan,” pungkasnya. (kin/c2/fid)

 

JOGOTRUNAN, Radar Semeru – Melandainya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lumajang melegakan para peternak dan pedagang. Sebab, hal itu berdampak positif terhadap harga jual hewan. Khususnya harga jual sapi yang mulai kembali normal.

BACA JUGA : Tukang Becak Perkosa Gadis Cilik Tetangga Sendiri

Selain melandainya kasus, pasar hewan yang dibuka lagi juga mendorong harga penjualan kembali seperti semula. Salah satunya di Pasar Hewan Jogotrunan, Lumajang. Sebab, setelah dibuka, para pembeli dari luar daerah terus berdatangan.

Salah satu penjual, Ali, mengaku senang aktivitas itu kembali normal. Meski harga belum pulih sepenuhnya, peminatnya mulai banyak. Harga sapi pun terus mengalami kenaikan setelah anjlok saat PMK.

Seekor sapi ukuran kecil hanya dihargai di bawah Rp 5 juta selama wabah PMK. Namun, beberapa pekan yang lalu, harganya bisa mencapai Rp 10 juta. “Kalau besar itu mulai normal lagi. Kisaran Rp 25 juta ke atas. Padahal sebelumnya mentok di harga Rp 15 juta. Tergantung jenis sapinya apa,” ujarnya.

Penjual asal Desa Sawaran Lor, Kecamatan Klakah, itu mengatakan, meski harga normal, pembeli masih pilih-pilih. Sebab, melandainya kasus tidak menjamin sapi benar-benar sehat. Karena itu, penjual maupun pembeli harus benar-benar mencermati kondisi kesehatan sapi. “Jumlahnya masih sedikit,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pasar Hewan Lumajang Darsun menjelaskan, peningkatan jumlah sapi yang masuk cukup baik. Akan tetapi, hal itu belum diimbangi dengan sapi yang terjual ke luar. Pihaknya mencatat dalam sehari jumlah sapi yang terjual masih di bawah seratus ekor.

Memang para pembeli dari luar kota banyak berdatangan. Terutama pembeli asal Surabaya. Harapannya, dalam waktu dekat jumlah transaksi di Pasar Patok Lumajang itu mengalami peningkatan yang signifikan. “Kami hanya bisa mendorong agar jumlah transaksi semakin banyak. Kalau dari sisi kebersihan, kami menjamin sudah bersih dan steril. Karena setelah maupun sebelum hari pasaran, kami sterilkan dengan disinfektan,” pungkasnya. (kin/c2/fid)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca