Sulit Fokus ke Kamera

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona mengubah banyak hal. Tak terkecuali cara berdakwah para dai. Dahulu para pendakwah dengan masyarakat bertemu di satu tempat. Sementara kini, melalui gawai, pendakwah dengan masyarakat bisa bertemu. Perubahan ini harus ditangkap sebagai peluang berdakwah di era digital. Namun, nilai-nilai dakwah virtual tetap harus disampaikan.

Tidak sedikit, perubahan ini membuat beberapa pendakwah harus segera beradaptasi. Seperti yang dialami oleh Ustad Muhyiddin Sholeh. Salah satu ustad dalam Kuliah Ramadan tersebut berbagi pengalaman ke Jawa Pos Radar Semeru. “Banyak yang harus disiapkan untuk dakwah virtual. Pertama adalah materi. Dan kedua adalah mental,” ujar lelaki yang akrab disapa Ustad Muhyiddin tersebut.

Dai asal Wonorejo tersebut mengatakan, persiapan yang dilakukan harus ekstra. Mulai dari materi dan mental. “Saya harus menyiapkan materi dakwah dengan ekstra. Membaca kitab, buku-buku, dan yang lainnya untuk menunjang materi. Semuanya dilakukan agar materi yang disampaikan sesuai dan benar. Tidak sekadar materi, tetapi memang benar-benar ada sumbernya,” katanya.

Lelaki yang memulai dakwah melalui audio tersebut mengungkapkan, ada perbedaan yang besar antara dakwah audio dan audiovisual. “Pertama kali dakwah melalui radio. Kalau dari radio agak ringan persiapannya. Karena saya bisa menuliskan poin-poin penting dalam kertas. Kalau lupa, masih bisa melihat kembali materinya. Nah, kalau audiovisual seperti di Kuliah Ramadan Radar Semeru TV, kemarin, saya harus mempersiapkannya dengan matang. Tentu, coretan itu sudah harus saya rekam di pikiran,” ungkapnya.