alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Ini Daerah yang Terancaman Krisis Air Bersih di Lumajang

Mendekati akhir tahun, krisis air bersih mulai terjadi. Sedikitnya terjadi di tujuh kecamatan. Upaya bantuan air bersih terus dilakukan hingga akhir Desember. Selain itu, apa saja yang dilakukan pemerintah daerah untuk menanggulanginya?

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Krisis air bersih mulai melanda tujuh kecamatan di Lumajang. Penyebabnya masih belum diketahui. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang memastikan sumber mata air sangat kecil.

Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Wawan Hadi Siswo menyebutkan, Kecamatan Lumajang Kota termasuk dalam tujuh kecamatan krisis air bersih. Yakni Desa Blukon dan Desa Boreng. “Selain Kecamatan Kota, ada Kecamatan Gucialit, Padang, Kedungjajang, Klakah, Randuagung, dan Kecamatan Ranuyoso,” katanya.

Total ada 24 desa yang mengalami krisis. Sementara, pihaknya memberikan bantuan dropping air bersih ke 52 dusun atau titik. Dalam sehari, empat armada truk air bersih beroperasi. Masing-masing membawa lima ribu liter air selama enam kali dalam sehari. Mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 19.00.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kami tidak tahu mengapa sumber mata air di Lumajang sangat kecil. Namun, kami akan lakukan pengiriman air bersih dua atau tiga hari sekali ke satu titik sebagai upaya antisipasi krisisnya. Hal ini sudah kami mulai bulan Oktober hingga 24 Desember mendatang,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Lumajang Indra Wibowo Laksana menjelaskan, masyarakat yang mengalami krisis air bisa melaporkan hal itu ke kepala desa (kades). Selanjutnya, kades akan meneruskan ke kecamatan hingga diterima BPBD Lumajang. Laporan yang diterima langsung ditindaklanjuti maksimal sehari setelahnya.

Tim asesmen BPBD akan melakukan pengecekan di lapangan. Mulai dari jumlah kebutuhan liter air, jumlah kepala keluarga, hingga akses jalan dan lokasi medan yang dituju. Pihaknya mengimbau agar masyarakat bisa lebih menghemat penggunaan air.

“Kami mengimbau agar ada penghematan air. Karena air ini merupakan kebutuhan urgen, maka kebutuhan yang lebih penting seperti minum dan memasak bisa didahulukan. Selanjutnya, jangan sembarangan memotong pohon. Harus segera dilakukan reboisasi agar sumber air bisa lestari, terlindungi, dan tidak mengalami kekeringan. Sehingga pohon dapat menyimpan air,” tegasnya.

 

 

Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Melalui Program Berkelanjutan

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Krisis air bersih mulai melanda tujuh kecamatan di Lumajang. Penyebabnya masih belum diketahui. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang memastikan sumber mata air sangat kecil.

Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Wawan Hadi Siswo menyebutkan, Kecamatan Lumajang Kota termasuk dalam tujuh kecamatan krisis air bersih. Yakni Desa Blukon dan Desa Boreng. “Selain Kecamatan Kota, ada Kecamatan Gucialit, Padang, Kedungjajang, Klakah, Randuagung, dan Kecamatan Ranuyoso,” katanya.

Total ada 24 desa yang mengalami krisis. Sementara, pihaknya memberikan bantuan dropping air bersih ke 52 dusun atau titik. Dalam sehari, empat armada truk air bersih beroperasi. Masing-masing membawa lima ribu liter air selama enam kali dalam sehari. Mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 19.00.

“Kami tidak tahu mengapa sumber mata air di Lumajang sangat kecil. Namun, kami akan lakukan pengiriman air bersih dua atau tiga hari sekali ke satu titik sebagai upaya antisipasi krisisnya. Hal ini sudah kami mulai bulan Oktober hingga 24 Desember mendatang,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Lumajang Indra Wibowo Laksana menjelaskan, masyarakat yang mengalami krisis air bisa melaporkan hal itu ke kepala desa (kades). Selanjutnya, kades akan meneruskan ke kecamatan hingga diterima BPBD Lumajang. Laporan yang diterima langsung ditindaklanjuti maksimal sehari setelahnya.

Tim asesmen BPBD akan melakukan pengecekan di lapangan. Mulai dari jumlah kebutuhan liter air, jumlah kepala keluarga, hingga akses jalan dan lokasi medan yang dituju. Pihaknya mengimbau agar masyarakat bisa lebih menghemat penggunaan air.

“Kami mengimbau agar ada penghematan air. Karena air ini merupakan kebutuhan urgen, maka kebutuhan yang lebih penting seperti minum dan memasak bisa didahulukan. Selanjutnya, jangan sembarangan memotong pohon. Harus segera dilakukan reboisasi agar sumber air bisa lestari, terlindungi, dan tidak mengalami kekeringan. Sehingga pohon dapat menyimpan air,” tegasnya.

 

 

Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Melalui Program Berkelanjutan

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Krisis air bersih mulai melanda tujuh kecamatan di Lumajang. Penyebabnya masih belum diketahui. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang memastikan sumber mata air sangat kecil.

Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Wawan Hadi Siswo menyebutkan, Kecamatan Lumajang Kota termasuk dalam tujuh kecamatan krisis air bersih. Yakni Desa Blukon dan Desa Boreng. “Selain Kecamatan Kota, ada Kecamatan Gucialit, Padang, Kedungjajang, Klakah, Randuagung, dan Kecamatan Ranuyoso,” katanya.

Total ada 24 desa yang mengalami krisis. Sementara, pihaknya memberikan bantuan dropping air bersih ke 52 dusun atau titik. Dalam sehari, empat armada truk air bersih beroperasi. Masing-masing membawa lima ribu liter air selama enam kali dalam sehari. Mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 19.00.

“Kami tidak tahu mengapa sumber mata air di Lumajang sangat kecil. Namun, kami akan lakukan pengiriman air bersih dua atau tiga hari sekali ke satu titik sebagai upaya antisipasi krisisnya. Hal ini sudah kami mulai bulan Oktober hingga 24 Desember mendatang,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Lumajang Indra Wibowo Laksana menjelaskan, masyarakat yang mengalami krisis air bisa melaporkan hal itu ke kepala desa (kades). Selanjutnya, kades akan meneruskan ke kecamatan hingga diterima BPBD Lumajang. Laporan yang diterima langsung ditindaklanjuti maksimal sehari setelahnya.

Tim asesmen BPBD akan melakukan pengecekan di lapangan. Mulai dari jumlah kebutuhan liter air, jumlah kepala keluarga, hingga akses jalan dan lokasi medan yang dituju. Pihaknya mengimbau agar masyarakat bisa lebih menghemat penggunaan air.

“Kami mengimbau agar ada penghematan air. Karena air ini merupakan kebutuhan urgen, maka kebutuhan yang lebih penting seperti minum dan memasak bisa didahulukan. Selanjutnya, jangan sembarangan memotong pohon. Harus segera dilakukan reboisasi agar sumber air bisa lestari, terlindungi, dan tidak mengalami kekeringan. Sehingga pohon dapat menyimpan air,” tegasnya.

 

 

Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Melalui Program Berkelanjutan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/