alexametrics
23 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Cara Unik, Forkompimda Lumajang ‘Ngeliwet’ Nasi

Jadi Momentum Pengingat Santri

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Meski Hari Santri Nasional sudah lewat, gaung santri masih terus bergema. Salah satunya memasak ala santri atau ngeliwet nasi. Bahkan, hal ini juga dilombakan. forkopimda dan istri pimpinan pondok pesantren berlomba membuat nasi pada akhir pekan dan kemarin. Hal itu menjadi momentum pengingat para santri.

Madiono, salah satu juri lomba di Pondok Pesantren Darun Najah, Petahunan, Sumbersuko, mengungkap, proses memasak nasi itu dinilai. Ada sejumlah indikator penilaian. Mulai dari kekompakan, kebersihan, rasa, dan ketepatan waktu. Masing-masing juri menilai indikator tersebut. “Kalau ada yang tidak sesuai, ya, dikurangi poinnya,” katanya.

Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama Ketua TP PKK Lumajang Musfarinah Thoriq memasak nasi liwet dengan lauk 5T dalam lomba Ngeliwet Nasi Nawaning, kemarin. Yakni tempe, tahu, telur, teri, dan terong. Menurut Bunda Indah, lomba memasak ini mengingatkan para santri zaman dahulu. Sebab, saat itu untuk memasak masih sangat sulit.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau sekarang memasaknya lebih enak. Menggunakan kompor gas. Jadi, ini memberikan gambaran bagi santri sekarang bahwa santri zaman dulu tidak hanya belajar ngaji saja. Tetapi, mau memasak saja harus menggunakan kayu. Itu menariknya agar bisa menjadi pengingat,” jelasnya.

Bunda berkeinginan agar para santri dan perempuan bisa memasak. Sebab, setinggi apa pun karir, lanjut bunda, masakan paling nikmat dibuat oleh seorang istri.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Meski Hari Santri Nasional sudah lewat, gaung santri masih terus bergema. Salah satunya memasak ala santri atau ngeliwet nasi. Bahkan, hal ini juga dilombakan. forkopimda dan istri pimpinan pondok pesantren berlomba membuat nasi pada akhir pekan dan kemarin. Hal itu menjadi momentum pengingat para santri.

Madiono, salah satu juri lomba di Pondok Pesantren Darun Najah, Petahunan, Sumbersuko, mengungkap, proses memasak nasi itu dinilai. Ada sejumlah indikator penilaian. Mulai dari kekompakan, kebersihan, rasa, dan ketepatan waktu. Masing-masing juri menilai indikator tersebut. “Kalau ada yang tidak sesuai, ya, dikurangi poinnya,” katanya.

Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama Ketua TP PKK Lumajang Musfarinah Thoriq memasak nasi liwet dengan lauk 5T dalam lomba Ngeliwet Nasi Nawaning, kemarin. Yakni tempe, tahu, telur, teri, dan terong. Menurut Bunda Indah, lomba memasak ini mengingatkan para santri zaman dahulu. Sebab, saat itu untuk memasak masih sangat sulit.

“Kalau sekarang memasaknya lebih enak. Menggunakan kompor gas. Jadi, ini memberikan gambaran bagi santri sekarang bahwa santri zaman dulu tidak hanya belajar ngaji saja. Tetapi, mau memasak saja harus menggunakan kayu. Itu menariknya agar bisa menjadi pengingat,” jelasnya.

Bunda berkeinginan agar para santri dan perempuan bisa memasak. Sebab, setinggi apa pun karir, lanjut bunda, masakan paling nikmat dibuat oleh seorang istri.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Meski Hari Santri Nasional sudah lewat, gaung santri masih terus bergema. Salah satunya memasak ala santri atau ngeliwet nasi. Bahkan, hal ini juga dilombakan. forkopimda dan istri pimpinan pondok pesantren berlomba membuat nasi pada akhir pekan dan kemarin. Hal itu menjadi momentum pengingat para santri.

Madiono, salah satu juri lomba di Pondok Pesantren Darun Najah, Petahunan, Sumbersuko, mengungkap, proses memasak nasi itu dinilai. Ada sejumlah indikator penilaian. Mulai dari kekompakan, kebersihan, rasa, dan ketepatan waktu. Masing-masing juri menilai indikator tersebut. “Kalau ada yang tidak sesuai, ya, dikurangi poinnya,” katanya.

Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama Ketua TP PKK Lumajang Musfarinah Thoriq memasak nasi liwet dengan lauk 5T dalam lomba Ngeliwet Nasi Nawaning, kemarin. Yakni tempe, tahu, telur, teri, dan terong. Menurut Bunda Indah, lomba memasak ini mengingatkan para santri zaman dahulu. Sebab, saat itu untuk memasak masih sangat sulit.

“Kalau sekarang memasaknya lebih enak. Menggunakan kompor gas. Jadi, ini memberikan gambaran bagi santri sekarang bahwa santri zaman dulu tidak hanya belajar ngaji saja. Tetapi, mau memasak saja harus menggunakan kayu. Itu menariknya agar bisa menjadi pengingat,” jelasnya.

Bunda berkeinginan agar para santri dan perempuan bisa memasak. Sebab, setinggi apa pun karir, lanjut bunda, masakan paling nikmat dibuat oleh seorang istri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/