alexametrics
24.7 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Arungi Sungai untuk ke Sekolah, Ini Kisah Siswa Sekitar Gunung Semeru

Senyum anak-anak Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, merekah. Maklum, mereka bisa kembali merasakan nyamannya pembelajaran tatap muka di sekolah sejak Senin (24/1) lalu. Sebab, jalur alternatif melintasi Sungai Regoyo sudah bisa dilalui.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Puluhan anak-anak Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, kembali sekolah tatap muka. Sebab, akses jalan alternatif yang dibuat Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas sudah bisa dilintasi sejak Senin (24/1) lalu. Alhasil, kebosanan siswa selama beberapa hari menimba ilmu di bawah tenda darurat dan teras rumah warga langsung sirna.

Tidak hanya siswa, orang tua juga merasa jenuh. Salah satu wali murid asal Dusun Sumberlangsep, Aripin, mengaku khawatir saat mengantar anaknya ke sekolah menyeberangi sungai. Dua hari ini, dia mengantar anaknya hingga depan SD Negeri 03 Jugosari menggunakan sepeda motor. Meski sudah ada jalur alternatif yang dibuat, jalur tersebut belum sepenuhnya aman. Terlebih jika hujan turun, jalur tidak bisa dilalui lagi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kami sangat senang akses bisa dilalui. Karena banyak orang tua jenuh anak-anak tidak bisa ikut pembelajaran tatap muka di sekolah. Tetapi, mau bagaimana lagi, kondisinya masih begini. Kalau cuaca mendukung dan jalur bisa dilalui, ya, tetap melintas. Kalau tidak aman, daring lagi. Kadang kami juga tetap mengantar melalui jembatan gantung dengan jarak yang cukup jauh,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 03 Jugosari Mohamad Hasan mengatakan, pembelajaran bagi puluhan siswa asal Dusun Sumberlangsep tersebut sebenarnya bersifat kondisional. Sejak dam putus, awal bulan lalu, pihaknya tidak pernah memaksa siswa masuk sekolah tatap muka. Namun, pembelajaran tetap diberikan secara daring atau tatap muka di tenda dan rumah warga.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Puluhan anak-anak Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, kembali sekolah tatap muka. Sebab, akses jalan alternatif yang dibuat Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas sudah bisa dilintasi sejak Senin (24/1) lalu. Alhasil, kebosanan siswa selama beberapa hari menimba ilmu di bawah tenda darurat dan teras rumah warga langsung sirna.

Tidak hanya siswa, orang tua juga merasa jenuh. Salah satu wali murid asal Dusun Sumberlangsep, Aripin, mengaku khawatir saat mengantar anaknya ke sekolah menyeberangi sungai. Dua hari ini, dia mengantar anaknya hingga depan SD Negeri 03 Jugosari menggunakan sepeda motor. Meski sudah ada jalur alternatif yang dibuat, jalur tersebut belum sepenuhnya aman. Terlebih jika hujan turun, jalur tidak bisa dilalui lagi.

“Kami sangat senang akses bisa dilalui. Karena banyak orang tua jenuh anak-anak tidak bisa ikut pembelajaran tatap muka di sekolah. Tetapi, mau bagaimana lagi, kondisinya masih begini. Kalau cuaca mendukung dan jalur bisa dilalui, ya, tetap melintas. Kalau tidak aman, daring lagi. Kadang kami juga tetap mengantar melalui jembatan gantung dengan jarak yang cukup jauh,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 03 Jugosari Mohamad Hasan mengatakan, pembelajaran bagi puluhan siswa asal Dusun Sumberlangsep tersebut sebenarnya bersifat kondisional. Sejak dam putus, awal bulan lalu, pihaknya tidak pernah memaksa siswa masuk sekolah tatap muka. Namun, pembelajaran tetap diberikan secara daring atau tatap muka di tenda dan rumah warga.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Puluhan anak-anak Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, kembali sekolah tatap muka. Sebab, akses jalan alternatif yang dibuat Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas sudah bisa dilintasi sejak Senin (24/1) lalu. Alhasil, kebosanan siswa selama beberapa hari menimba ilmu di bawah tenda darurat dan teras rumah warga langsung sirna.

Tidak hanya siswa, orang tua juga merasa jenuh. Salah satu wali murid asal Dusun Sumberlangsep, Aripin, mengaku khawatir saat mengantar anaknya ke sekolah menyeberangi sungai. Dua hari ini, dia mengantar anaknya hingga depan SD Negeri 03 Jugosari menggunakan sepeda motor. Meski sudah ada jalur alternatif yang dibuat, jalur tersebut belum sepenuhnya aman. Terlebih jika hujan turun, jalur tidak bisa dilalui lagi.

“Kami sangat senang akses bisa dilalui. Karena banyak orang tua jenuh anak-anak tidak bisa ikut pembelajaran tatap muka di sekolah. Tetapi, mau bagaimana lagi, kondisinya masih begini. Kalau cuaca mendukung dan jalur bisa dilalui, ya, tetap melintas. Kalau tidak aman, daring lagi. Kadang kami juga tetap mengantar melalui jembatan gantung dengan jarak yang cukup jauh,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 03 Jugosari Mohamad Hasan mengatakan, pembelajaran bagi puluhan siswa asal Dusun Sumberlangsep tersebut sebenarnya bersifat kondisional. Sejak dam putus, awal bulan lalu, pihaknya tidak pernah memaksa siswa masuk sekolah tatap muka. Namun, pembelajaran tetap diberikan secara daring atau tatap muka di tenda dan rumah warga.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/