alexametrics
23.5 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Sembilan Bayi Lahir di Tengah Pengungsian Gunung Semeru

Total 58 Ibu Hamil yang Terdampak

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ibu hamil, menyusui, dan bayi merupakan tiga kelompok rentan yang perlu mendapatkan perhatian khusus selama di tempat pengungsian bencana awan panas Gunung Semeru. Data yang berhasil dihimpun, ada 58 ibu hamil yang tersebar di sejumlah titik pengungsian. Sementara, sembilan ibu sudah melahirkan bayi dalam keadaan sehat. Sembilan bayi tersebut lahir di tengah pengungsian.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Lumajang Farianingsih mengungkapkan, 58 ibu hamil tersebut tersebar di 12 puskesmas. Sebenarnya, pihaknya meminta seluruh ibu hamil berada di rumah tunggu kelahiran (RTK) di beberapa titik Desa/Kecamatan Pasirian. Namun, hal itu bukan kewajiban. Terpenting, seluruhnya terpantau oleh bidan dan tenaga kesehatan terdekat.

Faria menjelaskan, 14 ibu diperkirakan melahirkan di bulan ini. Sembilan di antaranya sudah melahirkan secara normal maupun operasi Caesar di fasilitas kesehatan. Sementara lima lainnya diperkirakan melahirkan di akhir tahun ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, hal itu merupakan respons cepat penanganan. Khususnya bagi ibu hamil. “Kami respons cepat ketika ada bencana dengan mapping ibu hamil di kawasan pengungsian maupun di keluarga. Artinya, mereka yang berada di pengungsian keluarga dan jauh di posko pengungsian pusat. Selanjutnya, kami melakukan pemeriksaan. Baik secara langsung kepada ibu hamil di lokasi maupun keliling bersama spesialis obgyn,” jelasnya.

Dia menilai, RTK menjadi tempat khusus yang aman bagi ibu hamil, menyusui, maupun bayi. Sebab, tempat tersebut jauh dari kerumunan pengungsi yang lain. Sehingga nyaman dan pelayanan bisa maksimal. Oleh karena itu, pihaknya bisa memetakan ibu hamil yang berisiko tinggi ataupun risiko rendah

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ibu hamil, menyusui, dan bayi merupakan tiga kelompok rentan yang perlu mendapatkan perhatian khusus selama di tempat pengungsian bencana awan panas Gunung Semeru. Data yang berhasil dihimpun, ada 58 ibu hamil yang tersebar di sejumlah titik pengungsian. Sementara, sembilan ibu sudah melahirkan bayi dalam keadaan sehat. Sembilan bayi tersebut lahir di tengah pengungsian.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Lumajang Farianingsih mengungkapkan, 58 ibu hamil tersebut tersebar di 12 puskesmas. Sebenarnya, pihaknya meminta seluruh ibu hamil berada di rumah tunggu kelahiran (RTK) di beberapa titik Desa/Kecamatan Pasirian. Namun, hal itu bukan kewajiban. Terpenting, seluruhnya terpantau oleh bidan dan tenaga kesehatan terdekat.

Faria menjelaskan, 14 ibu diperkirakan melahirkan di bulan ini. Sembilan di antaranya sudah melahirkan secara normal maupun operasi Caesar di fasilitas kesehatan. Sementara lima lainnya diperkirakan melahirkan di akhir tahun ini.

Menurut dia, hal itu merupakan respons cepat penanganan. Khususnya bagi ibu hamil. “Kami respons cepat ketika ada bencana dengan mapping ibu hamil di kawasan pengungsian maupun di keluarga. Artinya, mereka yang berada di pengungsian keluarga dan jauh di posko pengungsian pusat. Selanjutnya, kami melakukan pemeriksaan. Baik secara langsung kepada ibu hamil di lokasi maupun keliling bersama spesialis obgyn,” jelasnya.

Dia menilai, RTK menjadi tempat khusus yang aman bagi ibu hamil, menyusui, maupun bayi. Sebab, tempat tersebut jauh dari kerumunan pengungsi yang lain. Sehingga nyaman dan pelayanan bisa maksimal. Oleh karena itu, pihaknya bisa memetakan ibu hamil yang berisiko tinggi ataupun risiko rendah

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ibu hamil, menyusui, dan bayi merupakan tiga kelompok rentan yang perlu mendapatkan perhatian khusus selama di tempat pengungsian bencana awan panas Gunung Semeru. Data yang berhasil dihimpun, ada 58 ibu hamil yang tersebar di sejumlah titik pengungsian. Sementara, sembilan ibu sudah melahirkan bayi dalam keadaan sehat. Sembilan bayi tersebut lahir di tengah pengungsian.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Lumajang Farianingsih mengungkapkan, 58 ibu hamil tersebut tersebar di 12 puskesmas. Sebenarnya, pihaknya meminta seluruh ibu hamil berada di rumah tunggu kelahiran (RTK) di beberapa titik Desa/Kecamatan Pasirian. Namun, hal itu bukan kewajiban. Terpenting, seluruhnya terpantau oleh bidan dan tenaga kesehatan terdekat.

Faria menjelaskan, 14 ibu diperkirakan melahirkan di bulan ini. Sembilan di antaranya sudah melahirkan secara normal maupun operasi Caesar di fasilitas kesehatan. Sementara lima lainnya diperkirakan melahirkan di akhir tahun ini.

Menurut dia, hal itu merupakan respons cepat penanganan. Khususnya bagi ibu hamil. “Kami respons cepat ketika ada bencana dengan mapping ibu hamil di kawasan pengungsian maupun di keluarga. Artinya, mereka yang berada di pengungsian keluarga dan jauh di posko pengungsian pusat. Selanjutnya, kami melakukan pemeriksaan. Baik secara langsung kepada ibu hamil di lokasi maupun keliling bersama spesialis obgyn,” jelasnya.

Dia menilai, RTK menjadi tempat khusus yang aman bagi ibu hamil, menyusui, maupun bayi. Sebab, tempat tersebut jauh dari kerumunan pengungsi yang lain. Sehingga nyaman dan pelayanan bisa maksimal. Oleh karena itu, pihaknya bisa memetakan ibu hamil yang berisiko tinggi ataupun risiko rendah

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/