alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Terinspirasi Teman yang Kena Lemparan Sampah di Sungai

Saiful, Edukasi Masyarakat melalui Karya Seni Limbah SampahBanyak cara seseorang bisa terinspirasi dan membuat inovasi. Salah satunya saat memancing ikan di sungai. Seperti yang diungkapkan Saiful. Berawal dari teman yang terkena lemparan bungkusan sampah plastik di sungai, dia menghasilkan karya seni dari limbah sampah.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ingatan lemparan sampah saat memancing di sungai masih terekam jelas di benak Saiful. Lelaki bertopi tersebut menceritakan, lemparan itu membuatnya bisa berinovasi dengan limbah sampah. Alhasil, sampah-sampah tersebut bernilai jual tinggi. Tak jarang, pembeli datang dari mancanegara.
“Tahun 2014 itu awal saya terjun di bidang ini (seni limbah sampah, Red). Gara-gara teman memancing terkena lemparan sampah. Ternyata di Lumajang, banyak masyarakat yang masih tidak peduli terhadap lingkungan. Buktinya, mereka masih sering membuang sampah di sungai. Padahal kita sudah ada bank sampah. Semestinya, kita bisa memanfaatkan itu,” ujarnya.
Menurutnya, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan masih rendah. Oleh sebab itu, dia berinisiatif membuat karya seni dari limbah sampah. Sebab, sampah-sampah tersebut masih bisa dimanfaatkan. Dan di tangan orang yang tepat, sampah bisa bernilai jual tinggi. “Kita hanya butuh orang yang tepat untuk konsen terhadap lingkungan, terutama sampah,” katanya.
Saiful mengungkapkan, selama ini sampah hanya dikumpulkan tanpa dimanfaatkan. Meski ada bank sampah di desa, fungsinya sudah berbeda. “Selama ini, masyarakat hanya membuang saja. Meski ada bank sampah, hal itu tidak dimanfaatkan dengan sempurna. Padahal ada banyak peluang dari sana. Salah satunya, limbah diolah dan dijadikan karya seni,” ungkapnya.
Tempat tinggal yang dikelilingi kebun tebu membuatnya tergugah. Apalagi saat musim tebang, banyak sampah tebu yang berserakan tanpa penanganan. Petani dan pemilik lahan hanya membakar tanpa dimanfaatkan. “Karya seni dari limbah pertama kali dari limbah tebu. Daun-daun dan lidinya saya jadikan kereta. Dan itu bernilai jual tingi. Sampai-sampai dari luar negeri membelinya,” tuturnya.
Sampah-sampah tersebut, lanjutnya, tidak hanya dikumpulkan lalu dijual ke pengepul. Meskipun itu menghasilkan uang, tidak ada nilai lebih yang dapat diperoleh masyarakat. Oleh karena itu, sentuhan kepedulian masyarakat yang memahami seni perlu dihadirkan dalam pengelolaan sampah.
“Kita harus beda. Jangan hanya dikumpulkan lalu dijual. Tetapi harus ada inovasi yang baru. Makanya, saya berinisiatif membuat karya seni dari limbah. Bisa dibuat patung, hiasan, bahkan lukisan tiga dimensi. Dan semua itu memiliki filosofi, tidak sekadar bernilai jual tinggi,” lanjutnya.
Saiful berharap, di tengah krisis kepedulian sampah, dia bisa menginspirasi masyarakat agar menjaga lingkungan dengan edukasi. “Kita perlu galakkan lagi edukasi pengelolaan sampah menjadi karya seni di masyarakat. Kita harus memperjuangkan itu,” harapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ingatan lemparan sampah saat memancing di sungai masih terekam jelas di benak Saiful. Lelaki bertopi tersebut menceritakan, lemparan itu membuatnya bisa berinovasi dengan limbah sampah. Alhasil, sampah-sampah tersebut bernilai jual tinggi. Tak jarang, pembeli datang dari mancanegara.
“Tahun 2014 itu awal saya terjun di bidang ini (seni limbah sampah, Red). Gara-gara teman memancing terkena lemparan sampah. Ternyata di Lumajang, banyak masyarakat yang masih tidak peduli terhadap lingkungan. Buktinya, mereka masih sering membuang sampah di sungai. Padahal kita sudah ada bank sampah. Semestinya, kita bisa memanfaatkan itu,” ujarnya.
Menurutnya, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan masih rendah. Oleh sebab itu, dia berinisiatif membuat karya seni dari limbah sampah. Sebab, sampah-sampah tersebut masih bisa dimanfaatkan. Dan di tangan orang yang tepat, sampah bisa bernilai jual tinggi. “Kita hanya butuh orang yang tepat untuk konsen terhadap lingkungan, terutama sampah,” katanya.
Saiful mengungkapkan, selama ini sampah hanya dikumpulkan tanpa dimanfaatkan. Meski ada bank sampah di desa, fungsinya sudah berbeda. “Selama ini, masyarakat hanya membuang saja. Meski ada bank sampah, hal itu tidak dimanfaatkan dengan sempurna. Padahal ada banyak peluang dari sana. Salah satunya, limbah diolah dan dijadikan karya seni,” ungkapnya.
Tempat tinggal yang dikelilingi kebun tebu membuatnya tergugah. Apalagi saat musim tebang, banyak sampah tebu yang berserakan tanpa penanganan. Petani dan pemilik lahan hanya membakar tanpa dimanfaatkan. “Karya seni dari limbah pertama kali dari limbah tebu. Daun-daun dan lidinya saya jadikan kereta. Dan itu bernilai jual tingi. Sampai-sampai dari luar negeri membelinya,” tuturnya.
Sampah-sampah tersebut, lanjutnya, tidak hanya dikumpulkan lalu dijual ke pengepul. Meskipun itu menghasilkan uang, tidak ada nilai lebih yang dapat diperoleh masyarakat. Oleh karena itu, sentuhan kepedulian masyarakat yang memahami seni perlu dihadirkan dalam pengelolaan sampah.
“Kita harus beda. Jangan hanya dikumpulkan lalu dijual. Tetapi harus ada inovasi yang baru. Makanya, saya berinisiatif membuat karya seni dari limbah. Bisa dibuat patung, hiasan, bahkan lukisan tiga dimensi. Dan semua itu memiliki filosofi, tidak sekadar bernilai jual tinggi,” lanjutnya.
Saiful berharap, di tengah krisis kepedulian sampah, dia bisa menginspirasi masyarakat agar menjaga lingkungan dengan edukasi. “Kita perlu galakkan lagi edukasi pengelolaan sampah menjadi karya seni di masyarakat. Kita harus memperjuangkan itu,” harapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ingatan lemparan sampah saat memancing di sungai masih terekam jelas di benak Saiful. Lelaki bertopi tersebut menceritakan, lemparan itu membuatnya bisa berinovasi dengan limbah sampah. Alhasil, sampah-sampah tersebut bernilai jual tinggi. Tak jarang, pembeli datang dari mancanegara.
“Tahun 2014 itu awal saya terjun di bidang ini (seni limbah sampah, Red). Gara-gara teman memancing terkena lemparan sampah. Ternyata di Lumajang, banyak masyarakat yang masih tidak peduli terhadap lingkungan. Buktinya, mereka masih sering membuang sampah di sungai. Padahal kita sudah ada bank sampah. Semestinya, kita bisa memanfaatkan itu,” ujarnya.
Menurutnya, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan masih rendah. Oleh sebab itu, dia berinisiatif membuat karya seni dari limbah sampah. Sebab, sampah-sampah tersebut masih bisa dimanfaatkan. Dan di tangan orang yang tepat, sampah bisa bernilai jual tinggi. “Kita hanya butuh orang yang tepat untuk konsen terhadap lingkungan, terutama sampah,” katanya.
Saiful mengungkapkan, selama ini sampah hanya dikumpulkan tanpa dimanfaatkan. Meski ada bank sampah di desa, fungsinya sudah berbeda. “Selama ini, masyarakat hanya membuang saja. Meski ada bank sampah, hal itu tidak dimanfaatkan dengan sempurna. Padahal ada banyak peluang dari sana. Salah satunya, limbah diolah dan dijadikan karya seni,” ungkapnya.
Tempat tinggal yang dikelilingi kebun tebu membuatnya tergugah. Apalagi saat musim tebang, banyak sampah tebu yang berserakan tanpa penanganan. Petani dan pemilik lahan hanya membakar tanpa dimanfaatkan. “Karya seni dari limbah pertama kali dari limbah tebu. Daun-daun dan lidinya saya jadikan kereta. Dan itu bernilai jual tingi. Sampai-sampai dari luar negeri membelinya,” tuturnya.
Sampah-sampah tersebut, lanjutnya, tidak hanya dikumpulkan lalu dijual ke pengepul. Meskipun itu menghasilkan uang, tidak ada nilai lebih yang dapat diperoleh masyarakat. Oleh karena itu, sentuhan kepedulian masyarakat yang memahami seni perlu dihadirkan dalam pengelolaan sampah.
“Kita harus beda. Jangan hanya dikumpulkan lalu dijual. Tetapi harus ada inovasi yang baru. Makanya, saya berinisiatif membuat karya seni dari limbah. Bisa dibuat patung, hiasan, bahkan lukisan tiga dimensi. Dan semua itu memiliki filosofi, tidak sekadar bernilai jual tinggi,” lanjutnya.
Saiful berharap, di tengah krisis kepedulian sampah, dia bisa menginspirasi masyarakat agar menjaga lingkungan dengan edukasi. “Kita perlu galakkan lagi edukasi pengelolaan sampah menjadi karya seni di masyarakat. Kita harus memperjuangkan itu,” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/