alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Sisihkan Uang untuk Beli Buku Anak-Anak

Indeks pembangunan manusia (IPM) Lumajang masih menempati urutan ketiga dari bawah se-Provinsi Jawa Timur. Salah satu faktornya ialah literasi yang masih rendah. Hal tersebut mendorong Ghoniyah Khusnul untuk menggalakkan literasi sejak dini.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perempuan yang menjabat sebagai pengawas SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang tersebut mengatakan, literasi di Lumajang sedang diupayakan untuk digalakkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pembiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. “Membiasakan anak-anak gemar membaca tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ada pembiasaan literasi sejak dini,” katanya.

Tidak ada batasan usia bagi anak-anak belajar, terutama membaca. Sebab, menurutnya anak-anak tidak harus disuruh membaca. Mereka bisa diperdengarkan melalui cerita-cerita dari orang tua atau keluarga. “Jadi, mereka tidak harus disuruh membaca. Tetapi, orang tualah yang harus sering membaca. Karena mereka akan menceritakannya ke anak-anak. Nah, dari situ, anak-anak akan timbul perasaan suka membaca,” jelasnya.

Pembiasaan sejak dini, lanjut Ghoniyah, akan membentuk pola kritis anak. Maka dari itu, peran keluarga sangat penting dalam literasi. Mereka harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Sebab, mereka adalah figur yang selalu berinteraksi dengan anak. “Sering kali orang tua menyuruh anak untuk membaca. Tetapi, dia sendiri tidak membaca. Ini kan teladan yang tidak bagus. Padahal mereka itu sosok dan figur yang akan memengaruhi pola belajar anak-anak,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Oleh karena itu, orang tua harus memfasilitasi kebutuhan literasi anak-anak. Salah satunya adalah dengan menyediakan buku bacaan. Hal tersebut diyakini dapat mendorong semangat literasi anak-anak sejak dini. “Sisihkan rezeki untuk membeli buku anak-anak. Ajak mereka ke toko buku. Perlihatkan buku-buku, baik buku cerita, buku gambar, maupun lainnya,” ungkapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perempuan yang menjabat sebagai pengawas SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang tersebut mengatakan, literasi di Lumajang sedang diupayakan untuk digalakkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pembiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. “Membiasakan anak-anak gemar membaca tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ada pembiasaan literasi sejak dini,” katanya.

Tidak ada batasan usia bagi anak-anak belajar, terutama membaca. Sebab, menurutnya anak-anak tidak harus disuruh membaca. Mereka bisa diperdengarkan melalui cerita-cerita dari orang tua atau keluarga. “Jadi, mereka tidak harus disuruh membaca. Tetapi, orang tualah yang harus sering membaca. Karena mereka akan menceritakannya ke anak-anak. Nah, dari situ, anak-anak akan timbul perasaan suka membaca,” jelasnya.

Pembiasaan sejak dini, lanjut Ghoniyah, akan membentuk pola kritis anak. Maka dari itu, peran keluarga sangat penting dalam literasi. Mereka harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Sebab, mereka adalah figur yang selalu berinteraksi dengan anak. “Sering kali orang tua menyuruh anak untuk membaca. Tetapi, dia sendiri tidak membaca. Ini kan teladan yang tidak bagus. Padahal mereka itu sosok dan figur yang akan memengaruhi pola belajar anak-anak,” lanjutnya.

Oleh karena itu, orang tua harus memfasilitasi kebutuhan literasi anak-anak. Salah satunya adalah dengan menyediakan buku bacaan. Hal tersebut diyakini dapat mendorong semangat literasi anak-anak sejak dini. “Sisihkan rezeki untuk membeli buku anak-anak. Ajak mereka ke toko buku. Perlihatkan buku-buku, baik buku cerita, buku gambar, maupun lainnya,” ungkapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perempuan yang menjabat sebagai pengawas SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang tersebut mengatakan, literasi di Lumajang sedang diupayakan untuk digalakkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pembiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. “Membiasakan anak-anak gemar membaca tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ada pembiasaan literasi sejak dini,” katanya.

Tidak ada batasan usia bagi anak-anak belajar, terutama membaca. Sebab, menurutnya anak-anak tidak harus disuruh membaca. Mereka bisa diperdengarkan melalui cerita-cerita dari orang tua atau keluarga. “Jadi, mereka tidak harus disuruh membaca. Tetapi, orang tualah yang harus sering membaca. Karena mereka akan menceritakannya ke anak-anak. Nah, dari situ, anak-anak akan timbul perasaan suka membaca,” jelasnya.

Pembiasaan sejak dini, lanjut Ghoniyah, akan membentuk pola kritis anak. Maka dari itu, peran keluarga sangat penting dalam literasi. Mereka harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Sebab, mereka adalah figur yang selalu berinteraksi dengan anak. “Sering kali orang tua menyuruh anak untuk membaca. Tetapi, dia sendiri tidak membaca. Ini kan teladan yang tidak bagus. Padahal mereka itu sosok dan figur yang akan memengaruhi pola belajar anak-anak,” lanjutnya.

Oleh karena itu, orang tua harus memfasilitasi kebutuhan literasi anak-anak. Salah satunya adalah dengan menyediakan buku bacaan. Hal tersebut diyakini dapat mendorong semangat literasi anak-anak sejak dini. “Sisihkan rezeki untuk membeli buku anak-anak. Ajak mereka ke toko buku. Perlihatkan buku-buku, baik buku cerita, buku gambar, maupun lainnya,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/