alexametrics
23.5 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Harga Cabai Tak Terkontrol

Satu Kilogram Sudah Tembus Rp 100 Ribu

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Beberapa warung maupun rumah makan semakin menghemat bahan produksinya. Terutama cabai rawit merah. Sebab, pelan-pelan harga cabai tersebut melambung tinggi, harganya semakin pedas sama dengan rasanya. Bayangkan saja, sekilo hampir tembus seratus ribu.

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, para pedagang di pasar tradisional menjual cabai tembus sekitar Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu. Bahkan tidak banyak pedagang yang menyediakan stok banyak, mereka khawatir terjual tidak laris seperti penjualan komoditas bahan-bahan kebutuhan pangan lainnya.

Rohmah salah satu pedagang di Pasar Krempyeng Desa Ditotrunan Kecamatan Lumajang mengatakan, biasanya dalam sekali kulakan pihaknya mampu menjual tiga puluh kilogram selama tiga hari. Tetapi sekarang cabai itu hanya laku terjual sekitar 10 kilogram. Sebab, pembeli semakin sedikit.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Banyak orang membeli cabai hanya 2 ons saja, kadang setengah ons. Karena memang setengah ons sudah Rp 6 ribu rupiah. Kalau satu kilo ya kira Rp 100 ribu an lah. Sekarang beli Rp 2 ribu tidak boleh,” ucapnya.

Dia mengatakan, untuk harga selain cabai rawit antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu perkilogram. Padahal normalnya harga cabai itu sekitar Rp 30 ribu perkilogram. Sedangkan untuk cabai rawit normalnya sekitar Rp 50 ribu rupiah.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Beberapa warung maupun rumah makan semakin menghemat bahan produksinya. Terutama cabai rawit merah. Sebab, pelan-pelan harga cabai tersebut melambung tinggi, harganya semakin pedas sama dengan rasanya. Bayangkan saja, sekilo hampir tembus seratus ribu.

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, para pedagang di pasar tradisional menjual cabai tembus sekitar Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu. Bahkan tidak banyak pedagang yang menyediakan stok banyak, mereka khawatir terjual tidak laris seperti penjualan komoditas bahan-bahan kebutuhan pangan lainnya.

Rohmah salah satu pedagang di Pasar Krempyeng Desa Ditotrunan Kecamatan Lumajang mengatakan, biasanya dalam sekali kulakan pihaknya mampu menjual tiga puluh kilogram selama tiga hari. Tetapi sekarang cabai itu hanya laku terjual sekitar 10 kilogram. Sebab, pembeli semakin sedikit.

“Banyak orang membeli cabai hanya 2 ons saja, kadang setengah ons. Karena memang setengah ons sudah Rp 6 ribu rupiah. Kalau satu kilo ya kira Rp 100 ribu an lah. Sekarang beli Rp 2 ribu tidak boleh,” ucapnya.

Dia mengatakan, untuk harga selain cabai rawit antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu perkilogram. Padahal normalnya harga cabai itu sekitar Rp 30 ribu perkilogram. Sedangkan untuk cabai rawit normalnya sekitar Rp 50 ribu rupiah.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Beberapa warung maupun rumah makan semakin menghemat bahan produksinya. Terutama cabai rawit merah. Sebab, pelan-pelan harga cabai tersebut melambung tinggi, harganya semakin pedas sama dengan rasanya. Bayangkan saja, sekilo hampir tembus seratus ribu.

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, para pedagang di pasar tradisional menjual cabai tembus sekitar Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu. Bahkan tidak banyak pedagang yang menyediakan stok banyak, mereka khawatir terjual tidak laris seperti penjualan komoditas bahan-bahan kebutuhan pangan lainnya.

Rohmah salah satu pedagang di Pasar Krempyeng Desa Ditotrunan Kecamatan Lumajang mengatakan, biasanya dalam sekali kulakan pihaknya mampu menjual tiga puluh kilogram selama tiga hari. Tetapi sekarang cabai itu hanya laku terjual sekitar 10 kilogram. Sebab, pembeli semakin sedikit.

“Banyak orang membeli cabai hanya 2 ons saja, kadang setengah ons. Karena memang setengah ons sudah Rp 6 ribu rupiah. Kalau satu kilo ya kira Rp 100 ribu an lah. Sekarang beli Rp 2 ribu tidak boleh,” ucapnya.

Dia mengatakan, untuk harga selain cabai rawit antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu perkilogram. Padahal normalnya harga cabai itu sekitar Rp 30 ribu perkilogram. Sedangkan untuk cabai rawit normalnya sekitar Rp 50 ribu rupiah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/