alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Harga Sayuran Mulai Mahal, Ini Alasannya

Musim hujan membuat ketersediaan sayuran di pasar semakin menipis. Padahal, beberapa hari ini banyak warga menggelar hajatan. Akibatnya, harga sayuran tersebut semakin mahal. Bahkan kenaikannya dapat berlipat-lipat.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Momen libur hari Natal dan tahun baru (Nataru) memang masih lama. Namun, harga sayur dan bahan pokok mulai merangkak naik. Bukan karena menjelang Nataru, melainkan makin banyaknya kegiatan hajatan di masyarakat.

Menurut Siti Rahma, pedagang di Pasar Baru Lumajang, kenaikan harga sayur dan bahan pokok tersebut bermula pada beberapa hari lalu. Sayuran dan bahan pokok yang mengalami kenaikan di antaranya sawi, brokoli, daun selada, kubis, tomat, serta bawang merah.

“Kalau bawang merah cenderung turun. Sedangkan kenaikan yang cukup mahal itu sayur sawi. Normalnya Rp 20 ribu satu ikat, sekarang Rp 40 ribu. Naik dua kali lipat. Sedangkan daun selada normal naiknya Rp 10 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram,” ungkapnya

Mobile_AP_Rectangle 2

Rahma menjelaskan, faktor utama kenaikan itu karena musim hujan. Namun, banyaknya orang menggelar hajatan menambah harga sayur dan bahan pokok lainnya ikut naik. Sebab, mereka yang menggelar hajatan membutuhkan sayuran dan bahan pokok dalam jumlah besar.

Alhasil, ketersediaan hasil panen dari masyarakat yang sedikit membuat harganya semakin mahal. “Kualitasnya juga menentukan harga di pasaran,” tambahnya.

Sementara itu, Farida, pedagang lainnya, mengatakan, kenaikan harga itu dimulai dari Rp 5 ribu hingga puluhan ribu. Meski demikian, antusiasme masyarakat masih cukup tinggi. “Memang paling banyak dibeli untuk hajatan atau kegiatan lainnya,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Momen libur hari Natal dan tahun baru (Nataru) memang masih lama. Namun, harga sayur dan bahan pokok mulai merangkak naik. Bukan karena menjelang Nataru, melainkan makin banyaknya kegiatan hajatan di masyarakat.

Menurut Siti Rahma, pedagang di Pasar Baru Lumajang, kenaikan harga sayur dan bahan pokok tersebut bermula pada beberapa hari lalu. Sayuran dan bahan pokok yang mengalami kenaikan di antaranya sawi, brokoli, daun selada, kubis, tomat, serta bawang merah.

“Kalau bawang merah cenderung turun. Sedangkan kenaikan yang cukup mahal itu sayur sawi. Normalnya Rp 20 ribu satu ikat, sekarang Rp 40 ribu. Naik dua kali lipat. Sedangkan daun selada normal naiknya Rp 10 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram,” ungkapnya

Rahma menjelaskan, faktor utama kenaikan itu karena musim hujan. Namun, banyaknya orang menggelar hajatan menambah harga sayur dan bahan pokok lainnya ikut naik. Sebab, mereka yang menggelar hajatan membutuhkan sayuran dan bahan pokok dalam jumlah besar.

Alhasil, ketersediaan hasil panen dari masyarakat yang sedikit membuat harganya semakin mahal. “Kualitasnya juga menentukan harga di pasaran,” tambahnya.

Sementara itu, Farida, pedagang lainnya, mengatakan, kenaikan harga itu dimulai dari Rp 5 ribu hingga puluhan ribu. Meski demikian, antusiasme masyarakat masih cukup tinggi. “Memang paling banyak dibeli untuk hajatan atau kegiatan lainnya,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Momen libur hari Natal dan tahun baru (Nataru) memang masih lama. Namun, harga sayur dan bahan pokok mulai merangkak naik. Bukan karena menjelang Nataru, melainkan makin banyaknya kegiatan hajatan di masyarakat.

Menurut Siti Rahma, pedagang di Pasar Baru Lumajang, kenaikan harga sayur dan bahan pokok tersebut bermula pada beberapa hari lalu. Sayuran dan bahan pokok yang mengalami kenaikan di antaranya sawi, brokoli, daun selada, kubis, tomat, serta bawang merah.

“Kalau bawang merah cenderung turun. Sedangkan kenaikan yang cukup mahal itu sayur sawi. Normalnya Rp 20 ribu satu ikat, sekarang Rp 40 ribu. Naik dua kali lipat. Sedangkan daun selada normal naiknya Rp 10 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram,” ungkapnya

Rahma menjelaskan, faktor utama kenaikan itu karena musim hujan. Namun, banyaknya orang menggelar hajatan menambah harga sayur dan bahan pokok lainnya ikut naik. Sebab, mereka yang menggelar hajatan membutuhkan sayuran dan bahan pokok dalam jumlah besar.

Alhasil, ketersediaan hasil panen dari masyarakat yang sedikit membuat harganya semakin mahal. “Kualitasnya juga menentukan harga di pasaran,” tambahnya.

Sementara itu, Farida, pedagang lainnya, mengatakan, kenaikan harga itu dimulai dari Rp 5 ribu hingga puluhan ribu. Meski demikian, antusiasme masyarakat masih cukup tinggi. “Memang paling banyak dibeli untuk hajatan atau kegiatan lainnya,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca