alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Nikah di Usia Anak Bukan Menjadi Solusi

Didominasi Kehamilan Tak Diinginkan

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPUHARJO, RADARJEMBER.ID – Tidak ada perayaan besar dalam Hari Anak Nasional, kemarin. Semuanya dilakukan secara virtual. Namun, anak-anak di setiap daerah telah merumuskan suara anak. Suara tersebut menjadi rekomendasi pemerintah untuk melaksanakan sejumlah program yang melibatkan anak. Salah satunya adalah menurunkan angka pernikahan usia anak.

Awal bulan, Forum Anak Lumajang merumuskan delapan suara anak. Salah satunya adalah mendukung program pemerintah dalam mengurangi pernikahan usia anak (PUA). “Mereka sudah merumuskan suara anak secara virtual. Memang untuk menurunkan angka pernikahan anak di Lumajang masih sulit. Meskipun ini sudah ada regulasi dari pemerintah,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Lumajang.

Dia menjelaskan, faktor terbanyak pernikahan anak adalah kehamilan di luar nikah atau kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Sebab, di masa sekarang, anak-anak sudah bisa mengakses banyak hal. Terutama saat mereka menggunakan gawai dan sosial media.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Pola pengasuhan anak juga harus diperhatikan. Sebab, pengasuhan anak terbesar ada di keluarga. Oleh karena itu, kualitas dan ketahanan keluarga perlu ditingkatkan. Jika anak sudah ditinggal kedua orang tua dan hanya diasuh oleh anggota keluarga lain seperti kakek dan neneknya, maka mereka juga harus diberikan pemahaman khusus. Sebab, pola asuhnya bisa jadi masih disesuaikan dengan zaman mereka, sehingga pernikahan anak ini sulit untuk dihindari,” jelasnya.

Dia berharap semua pihak bergandeng tangan untuk memutus mata rantai pernikahan anak. “Catin anak memerlukan surat rekomendasi dari kami untuk memohon diska di Lumajang. Tugas kami bukan memberikan rekomendasi dalam artian mendukung atau melegalkan pernikahan anak. Tetapi, isi rekomendasi kami berkaitan dengan pembinaan dan edukasi. Jika mereka menghadapi masalah, kami hadir dengan pusat pelayanan keluarga” harapnya.

- Advertisement -

KEPUHARJO, RADARJEMBER.ID – Tidak ada perayaan besar dalam Hari Anak Nasional, kemarin. Semuanya dilakukan secara virtual. Namun, anak-anak di setiap daerah telah merumuskan suara anak. Suara tersebut menjadi rekomendasi pemerintah untuk melaksanakan sejumlah program yang melibatkan anak. Salah satunya adalah menurunkan angka pernikahan usia anak.

Awal bulan, Forum Anak Lumajang merumuskan delapan suara anak. Salah satunya adalah mendukung program pemerintah dalam mengurangi pernikahan usia anak (PUA). “Mereka sudah merumuskan suara anak secara virtual. Memang untuk menurunkan angka pernikahan anak di Lumajang masih sulit. Meskipun ini sudah ada regulasi dari pemerintah,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Lumajang.

Dia menjelaskan, faktor terbanyak pernikahan anak adalah kehamilan di luar nikah atau kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Sebab, di masa sekarang, anak-anak sudah bisa mengakses banyak hal. Terutama saat mereka menggunakan gawai dan sosial media.

“Pola pengasuhan anak juga harus diperhatikan. Sebab, pengasuhan anak terbesar ada di keluarga. Oleh karena itu, kualitas dan ketahanan keluarga perlu ditingkatkan. Jika anak sudah ditinggal kedua orang tua dan hanya diasuh oleh anggota keluarga lain seperti kakek dan neneknya, maka mereka juga harus diberikan pemahaman khusus. Sebab, pola asuhnya bisa jadi masih disesuaikan dengan zaman mereka, sehingga pernikahan anak ini sulit untuk dihindari,” jelasnya.

Dia berharap semua pihak bergandeng tangan untuk memutus mata rantai pernikahan anak. “Catin anak memerlukan surat rekomendasi dari kami untuk memohon diska di Lumajang. Tugas kami bukan memberikan rekomendasi dalam artian mendukung atau melegalkan pernikahan anak. Tetapi, isi rekomendasi kami berkaitan dengan pembinaan dan edukasi. Jika mereka menghadapi masalah, kami hadir dengan pusat pelayanan keluarga” harapnya.

KEPUHARJO, RADARJEMBER.ID – Tidak ada perayaan besar dalam Hari Anak Nasional, kemarin. Semuanya dilakukan secara virtual. Namun, anak-anak di setiap daerah telah merumuskan suara anak. Suara tersebut menjadi rekomendasi pemerintah untuk melaksanakan sejumlah program yang melibatkan anak. Salah satunya adalah menurunkan angka pernikahan usia anak.

Awal bulan, Forum Anak Lumajang merumuskan delapan suara anak. Salah satunya adalah mendukung program pemerintah dalam mengurangi pernikahan usia anak (PUA). “Mereka sudah merumuskan suara anak secara virtual. Memang untuk menurunkan angka pernikahan anak di Lumajang masih sulit. Meskipun ini sudah ada regulasi dari pemerintah,” kata Rosyidah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Lumajang.

Dia menjelaskan, faktor terbanyak pernikahan anak adalah kehamilan di luar nikah atau kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Sebab, di masa sekarang, anak-anak sudah bisa mengakses banyak hal. Terutama saat mereka menggunakan gawai dan sosial media.

“Pola pengasuhan anak juga harus diperhatikan. Sebab, pengasuhan anak terbesar ada di keluarga. Oleh karena itu, kualitas dan ketahanan keluarga perlu ditingkatkan. Jika anak sudah ditinggal kedua orang tua dan hanya diasuh oleh anggota keluarga lain seperti kakek dan neneknya, maka mereka juga harus diberikan pemahaman khusus. Sebab, pola asuhnya bisa jadi masih disesuaikan dengan zaman mereka, sehingga pernikahan anak ini sulit untuk dihindari,” jelasnya.

Dia berharap semua pihak bergandeng tangan untuk memutus mata rantai pernikahan anak. “Catin anak memerlukan surat rekomendasi dari kami untuk memohon diska di Lumajang. Tugas kami bukan memberikan rekomendasi dalam artian mendukung atau melegalkan pernikahan anak. Tetapi, isi rekomendasi kami berkaitan dengan pembinaan dan edukasi. Jika mereka menghadapi masalah, kami hadir dengan pusat pelayanan keluarga” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/