alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Diska Meningkat 300 Persen, Hak Anak Terenggut

Permohonan dispensasi kawin (diska) di Lumajang terus meningkat. Penyebabnya tidak hanya perubahan batas usia pernikahan, namun juga faktor kehamilan yang tidak diinginkan. Jika terjadi seperti ini, apakah menikah usia anak menjadi solusi?

Mobile_AP_Rectangle 1

KUTORENON, RADARJEMBER.ID – Perubahan batas usia perkawinan dari 16 tahun bagi perempuan ke 19 tahun sudah diresmikan sejak 2019. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengerti hal tersebut. Sebab, fakta di lapangan menunjukkan, pernikahan usia anak masih banyak. Terutama di daerah pelosok desa.

Padahal, perubahan itu sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Usia minimal menikah antara laki-laki dan perempuan disamakan, yakni 19 tahun. Sebab, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Salah satu syarat calon pengantin (catin) yang masih usia anak bisa menikah adalah dengan dispensasi kawin (diska). Hal tersebut didapatkan di pengadilan agama (PA) tingkat kabupaten. Oleh sebab itu, mereka memburu diska tersebut agar bisa menikah. Padahal, jika usia anak menikah, ada banyak hak yang terenggut. Salah satunya adalah pendidikan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Lumajang mencatat, selama tahun 2020 ada 1.046 perkara permohonan dispensasi kawin. Sementara, sejak bulan Januari hingga 22 Juli 2021 sudah ada 761 perkara. “Jumlah ini meningkat 300 persen dari sebelum adanya perubahan batas usia perkawinan,” kata Teguh Santoso, Panitera Hukum PA Lumajang.

Kenaikan tersebut sangat signifikan. Namun, sebelum memutuskan memberikan diska, pihaknya memberikan konseling terhadap kedua pasangan catin. “Sebelum memulai sidang, kami memisahkan mereka dari orang tuanya. Kami tanyakan apakah pernikahannya karena paksaan atau kehendak sendiri. Selain itu, kami memberikan edukasi dan konseling berupa materi-materi tentang keluarga,” jelasnya.

- Advertisement -

KUTORENON, RADARJEMBER.ID – Perubahan batas usia perkawinan dari 16 tahun bagi perempuan ke 19 tahun sudah diresmikan sejak 2019. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengerti hal tersebut. Sebab, fakta di lapangan menunjukkan, pernikahan usia anak masih banyak. Terutama di daerah pelosok desa.

Padahal, perubahan itu sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Usia minimal menikah antara laki-laki dan perempuan disamakan, yakni 19 tahun. Sebab, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Salah satu syarat calon pengantin (catin) yang masih usia anak bisa menikah adalah dengan dispensasi kawin (diska). Hal tersebut didapatkan di pengadilan agama (PA) tingkat kabupaten. Oleh sebab itu, mereka memburu diska tersebut agar bisa menikah. Padahal, jika usia anak menikah, ada banyak hak yang terenggut. Salah satunya adalah pendidikan.

Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Lumajang mencatat, selama tahun 2020 ada 1.046 perkara permohonan dispensasi kawin. Sementara, sejak bulan Januari hingga 22 Juli 2021 sudah ada 761 perkara. “Jumlah ini meningkat 300 persen dari sebelum adanya perubahan batas usia perkawinan,” kata Teguh Santoso, Panitera Hukum PA Lumajang.

Kenaikan tersebut sangat signifikan. Namun, sebelum memutuskan memberikan diska, pihaknya memberikan konseling terhadap kedua pasangan catin. “Sebelum memulai sidang, kami memisahkan mereka dari orang tuanya. Kami tanyakan apakah pernikahannya karena paksaan atau kehendak sendiri. Selain itu, kami memberikan edukasi dan konseling berupa materi-materi tentang keluarga,” jelasnya.

KUTORENON, RADARJEMBER.ID – Perubahan batas usia perkawinan dari 16 tahun bagi perempuan ke 19 tahun sudah diresmikan sejak 2019. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengerti hal tersebut. Sebab, fakta di lapangan menunjukkan, pernikahan usia anak masih banyak. Terutama di daerah pelosok desa.

Padahal, perubahan itu sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Usia minimal menikah antara laki-laki dan perempuan disamakan, yakni 19 tahun. Sebab, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Salah satu syarat calon pengantin (catin) yang masih usia anak bisa menikah adalah dengan dispensasi kawin (diska). Hal tersebut didapatkan di pengadilan agama (PA) tingkat kabupaten. Oleh sebab itu, mereka memburu diska tersebut agar bisa menikah. Padahal, jika usia anak menikah, ada banyak hak yang terenggut. Salah satunya adalah pendidikan.

Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Lumajang mencatat, selama tahun 2020 ada 1.046 perkara permohonan dispensasi kawin. Sementara, sejak bulan Januari hingga 22 Juli 2021 sudah ada 761 perkara. “Jumlah ini meningkat 300 persen dari sebelum adanya perubahan batas usia perkawinan,” kata Teguh Santoso, Panitera Hukum PA Lumajang.

Kenaikan tersebut sangat signifikan. Namun, sebelum memutuskan memberikan diska, pihaknya memberikan konseling terhadap kedua pasangan catin. “Sebelum memulai sidang, kami memisahkan mereka dari orang tuanya. Kami tanyakan apakah pernikahannya karena paksaan atau kehendak sendiri. Selain itu, kami memberikan edukasi dan konseling berupa materi-materi tentang keluarga,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/