23 C
Jember
Saturday, 25 March 2023

Tambang Pasir Di-lockdown

Minta Pemkab Jaga Stockpile dan Area Tambang

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Pembahasan mengenai keluhan paguyuban sopir truk angkutan material bersama Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Lumajang akhirnya menemukan titik terang. Semua pihak bersepakat untuk menutup kawasan pertambangan pasir selama beberapa hari.

Penutupan tersebut tidak serta-merta diputuskan. Sebab, setelah berdiskusi cukup panjang, kesimpulannya ingin menyeragamkan harga jual pasir di tingkat stockpile (penampung pasir). Misalnya kawasan Desa Jarit dan sekitarnya besarannya Rp 750 ribu, Desa Lempeni dan sekitarnya besarannya Rp 800 ribu, dan terakhir Desa Sumberusko dan sekitarnya besarannya Rp 900 ribu.

Ketua APRI Lumajang Moch Sofyanto mengatakan, Pemkab Lumajang menunjuk asosiasi yang dipimpinnya untuk menengahi masalah keluhan paguyuban sopir tersebut. Sebab, jika memang fasilitasi surat keterangan asal barang (SKAB) yang diberikan kepada sopir itu diturunkan bakal merugi cukup banyak.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau Rp 50 ribu kami kan berat. Seharusnya kalau berbicara harga pasir bisa seragam tentu semua bisa saling untung. Artinya, sama-sama bisa menjaga harga pasir. Sehingga kami bersama paguyuban itu memutuskan untuk mogok aktivitas kerja. Mogok selama beberapa hari sampai harga pasir naik,” jelasnya.

Menurutnya, pembahasan yang dilakukan di Kantor Kecamatan Pasirian, Selasa (22/06), merupakan keputusan terbaik. Hasilnya, kemarin malam langsung disampaikan ke Bupati Lumajang Thoriqul Haq di Pendapa Arya Wiraraja. Termasuk meminta dukungan pemerintah untuk melakukan pengawasan dan penertiban.

Sebab, selama lockdown mogok kerja tersebut seluruh aktivitas pertambangan dilarang. Baik untuk pengambilan pasir di kawasan pertambangan maupun mengeluarkan pasir dari lokasi stockpile. “Kami juga meminta pemerintah untuk terus berjaga-jaga di stockpile dan kawasan pertambangan. Harus berhenti total,” pungkasnya.

Jurnalis: Atieqson Mar Iqbal
Fotografer: Istimewa
Editor: Hafid Asnan

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Pembahasan mengenai keluhan paguyuban sopir truk angkutan material bersama Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Lumajang akhirnya menemukan titik terang. Semua pihak bersepakat untuk menutup kawasan pertambangan pasir selama beberapa hari.

Penutupan tersebut tidak serta-merta diputuskan. Sebab, setelah berdiskusi cukup panjang, kesimpulannya ingin menyeragamkan harga jual pasir di tingkat stockpile (penampung pasir). Misalnya kawasan Desa Jarit dan sekitarnya besarannya Rp 750 ribu, Desa Lempeni dan sekitarnya besarannya Rp 800 ribu, dan terakhir Desa Sumberusko dan sekitarnya besarannya Rp 900 ribu.

Ketua APRI Lumajang Moch Sofyanto mengatakan, Pemkab Lumajang menunjuk asosiasi yang dipimpinnya untuk menengahi masalah keluhan paguyuban sopir tersebut. Sebab, jika memang fasilitasi surat keterangan asal barang (SKAB) yang diberikan kepada sopir itu diturunkan bakal merugi cukup banyak.

“Kalau Rp 50 ribu kami kan berat. Seharusnya kalau berbicara harga pasir bisa seragam tentu semua bisa saling untung. Artinya, sama-sama bisa menjaga harga pasir. Sehingga kami bersama paguyuban itu memutuskan untuk mogok aktivitas kerja. Mogok selama beberapa hari sampai harga pasir naik,” jelasnya.

Menurutnya, pembahasan yang dilakukan di Kantor Kecamatan Pasirian, Selasa (22/06), merupakan keputusan terbaik. Hasilnya, kemarin malam langsung disampaikan ke Bupati Lumajang Thoriqul Haq di Pendapa Arya Wiraraja. Termasuk meminta dukungan pemerintah untuk melakukan pengawasan dan penertiban.

Sebab, selama lockdown mogok kerja tersebut seluruh aktivitas pertambangan dilarang. Baik untuk pengambilan pasir di kawasan pertambangan maupun mengeluarkan pasir dari lokasi stockpile. “Kami juga meminta pemerintah untuk terus berjaga-jaga di stockpile dan kawasan pertambangan. Harus berhenti total,” pungkasnya.

Jurnalis: Atieqson Mar Iqbal
Fotografer: Istimewa
Editor: Hafid Asnan

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Pembahasan mengenai keluhan paguyuban sopir truk angkutan material bersama Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Lumajang akhirnya menemukan titik terang. Semua pihak bersepakat untuk menutup kawasan pertambangan pasir selama beberapa hari.

Penutupan tersebut tidak serta-merta diputuskan. Sebab, setelah berdiskusi cukup panjang, kesimpulannya ingin menyeragamkan harga jual pasir di tingkat stockpile (penampung pasir). Misalnya kawasan Desa Jarit dan sekitarnya besarannya Rp 750 ribu, Desa Lempeni dan sekitarnya besarannya Rp 800 ribu, dan terakhir Desa Sumberusko dan sekitarnya besarannya Rp 900 ribu.

Ketua APRI Lumajang Moch Sofyanto mengatakan, Pemkab Lumajang menunjuk asosiasi yang dipimpinnya untuk menengahi masalah keluhan paguyuban sopir tersebut. Sebab, jika memang fasilitasi surat keterangan asal barang (SKAB) yang diberikan kepada sopir itu diturunkan bakal merugi cukup banyak.

“Kalau Rp 50 ribu kami kan berat. Seharusnya kalau berbicara harga pasir bisa seragam tentu semua bisa saling untung. Artinya, sama-sama bisa menjaga harga pasir. Sehingga kami bersama paguyuban itu memutuskan untuk mogok aktivitas kerja. Mogok selama beberapa hari sampai harga pasir naik,” jelasnya.

Menurutnya, pembahasan yang dilakukan di Kantor Kecamatan Pasirian, Selasa (22/06), merupakan keputusan terbaik. Hasilnya, kemarin malam langsung disampaikan ke Bupati Lumajang Thoriqul Haq di Pendapa Arya Wiraraja. Termasuk meminta dukungan pemerintah untuk melakukan pengawasan dan penertiban.

Sebab, selama lockdown mogok kerja tersebut seluruh aktivitas pertambangan dilarang. Baik untuk pengambilan pasir di kawasan pertambangan maupun mengeluarkan pasir dari lokasi stockpile. “Kami juga meminta pemerintah untuk terus berjaga-jaga di stockpile dan kawasan pertambangan. Harus berhenti total,” pungkasnya.

Jurnalis: Atieqson Mar Iqbal
Fotografer: Istimewa
Editor: Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca