alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Ambil Risiko Keluar dari Zona Nyaman

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Banyak orang terjebak dalam zona nyamannya. Mereka seakan memberi sekat dalam setiap kegiatan. Jika memberatkan ditinggalkan. Jika menyenangkan akan terus dilakukan. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi Asrul Khasanah. Perempuan yang menyukai tantangan tersebut menganggapnya sebagai peluang.

Asrul, sapaan akrabnya, menceritakan pengalamannya menjadi asisten dosen (asdos) selama kuliah. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu alasan dia senang di dunia pendidikan dan literasi. “Saya jadi asdos selama empat semester atau dua tahun. Bahkan, setelah saya menyelesaikan skripsi, saya tetap menjadi asdos. Setelah wisuda baru berhenti,” ungkapnya.

Baginya, asdos memang penuh tantangan. Baik dari diri sendiri ataupun dari lingkungan. Masih sering kali asdos dianggap sebelah mata. Sebab, yang menjadi asdos adalah mahasiswa. Saat itu, mahasiswa mengajar mahasiswa dianggap hal kurang wajar. Meski demikian, Asrul tetap memilih menjadi asdos. Sebab, itu bagian dari salah satu mimpinya di bangku perkuliahan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saya ini termasuk orang yang mudah termotivasi. Pilihan menjadi asdos sudah mantap. Itu juga berkat motivasi dari dosen yang dianggap banyak mahasiswa sebagai dosen killer. Padahal, saya melihat beliaunya adalah orang yang multitalenta. Sehingga, mimpi untuk menjadi asdos harus saya wujudkan,” ujar perempuan kelahiran Pacitan tersebut.

Lulusan Prodi Matematika Universitas Muhammadiyah Ponorogo ini mengatakan, menjadi asdos tidak mudah. Dia harus bisa mengatur waktu. Sebab, selama kuliah, dia juga mengikuti beragam aktivitas lain. “Memang harus pandai mengatur waktu. Semuanya harus dijadwal dan dilakukan. Jika tidak, bisa keteteran,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Banyak orang terjebak dalam zona nyamannya. Mereka seakan memberi sekat dalam setiap kegiatan. Jika memberatkan ditinggalkan. Jika menyenangkan akan terus dilakukan. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi Asrul Khasanah. Perempuan yang menyukai tantangan tersebut menganggapnya sebagai peluang.

Asrul, sapaan akrabnya, menceritakan pengalamannya menjadi asisten dosen (asdos) selama kuliah. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu alasan dia senang di dunia pendidikan dan literasi. “Saya jadi asdos selama empat semester atau dua tahun. Bahkan, setelah saya menyelesaikan skripsi, saya tetap menjadi asdos. Setelah wisuda baru berhenti,” ungkapnya.

Baginya, asdos memang penuh tantangan. Baik dari diri sendiri ataupun dari lingkungan. Masih sering kali asdos dianggap sebelah mata. Sebab, yang menjadi asdos adalah mahasiswa. Saat itu, mahasiswa mengajar mahasiswa dianggap hal kurang wajar. Meski demikian, Asrul tetap memilih menjadi asdos. Sebab, itu bagian dari salah satu mimpinya di bangku perkuliahan.

“Saya ini termasuk orang yang mudah termotivasi. Pilihan menjadi asdos sudah mantap. Itu juga berkat motivasi dari dosen yang dianggap banyak mahasiswa sebagai dosen killer. Padahal, saya melihat beliaunya adalah orang yang multitalenta. Sehingga, mimpi untuk menjadi asdos harus saya wujudkan,” ujar perempuan kelahiran Pacitan tersebut.

Lulusan Prodi Matematika Universitas Muhammadiyah Ponorogo ini mengatakan, menjadi asdos tidak mudah. Dia harus bisa mengatur waktu. Sebab, selama kuliah, dia juga mengikuti beragam aktivitas lain. “Memang harus pandai mengatur waktu. Semuanya harus dijadwal dan dilakukan. Jika tidak, bisa keteteran,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Banyak orang terjebak dalam zona nyamannya. Mereka seakan memberi sekat dalam setiap kegiatan. Jika memberatkan ditinggalkan. Jika menyenangkan akan terus dilakukan. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi Asrul Khasanah. Perempuan yang menyukai tantangan tersebut menganggapnya sebagai peluang.

Asrul, sapaan akrabnya, menceritakan pengalamannya menjadi asisten dosen (asdos) selama kuliah. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu alasan dia senang di dunia pendidikan dan literasi. “Saya jadi asdos selama empat semester atau dua tahun. Bahkan, setelah saya menyelesaikan skripsi, saya tetap menjadi asdos. Setelah wisuda baru berhenti,” ungkapnya.

Baginya, asdos memang penuh tantangan. Baik dari diri sendiri ataupun dari lingkungan. Masih sering kali asdos dianggap sebelah mata. Sebab, yang menjadi asdos adalah mahasiswa. Saat itu, mahasiswa mengajar mahasiswa dianggap hal kurang wajar. Meski demikian, Asrul tetap memilih menjadi asdos. Sebab, itu bagian dari salah satu mimpinya di bangku perkuliahan.

“Saya ini termasuk orang yang mudah termotivasi. Pilihan menjadi asdos sudah mantap. Itu juga berkat motivasi dari dosen yang dianggap banyak mahasiswa sebagai dosen killer. Padahal, saya melihat beliaunya adalah orang yang multitalenta. Sehingga, mimpi untuk menjadi asdos harus saya wujudkan,” ujar perempuan kelahiran Pacitan tersebut.

Lulusan Prodi Matematika Universitas Muhammadiyah Ponorogo ini mengatakan, menjadi asdos tidak mudah. Dia harus bisa mengatur waktu. Sebab, selama kuliah, dia juga mengikuti beragam aktivitas lain. “Memang harus pandai mengatur waktu. Semuanya harus dijadwal dan dilakukan. Jika tidak, bisa keteteran,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/