alexametrics
30.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Ada Potensi Gempa 8,7 Magnitudo

Memetakan Struktur Tanah Kawasan Lumajang Getaran dampak gempa bumi yang terjadi di kabupaten tetangga begitu terasa hingga Lumajang. Bahkan, gempa bumi terakhir pada 21 Mei 2021 itu mengakibatkan puluhan rumah warga rusak. Untuk mengantisipasi dampak yang lebih parah, kini kawasannya mulai dipetakan.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Setelah terjadi gempa di Blitar, sejumlah titik di Jawa Timur mulai dilakukan pengukuran struktur tanah. Termasuk di Lumajang. Ada sebelas kawasan tanah yang dilakukan pengecekan. Tujuannya untuk memetakan mana-mana saja yang memiliki karakteristik tanah keras atau lembek.

Adapun lokasi yang dilakukan pengecekan di antaranya meliputi Desa/Kecamatan Klakah; Desa Krasak, Kecamatan Kedungajang; Desa Mojosari, Kecamatan Sumbersuko; Desa Gesang, Kecamatan Tempeh; Desa/Kecamatan Pasrujambe; Desa/Kecamatan Kunir; Desa Nguter, Kecamatan Pasirian; dan beberapa desa lainnya.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pasuruan Suwarto mengatakan, getaran gempa bergantung pada kekuatan struktur batuan. Semakin keras lapisan tanahnya, maka semakin kuat menekan getaran. Sebaliknya, jika karakteristik tanahnya lembek, bakal menimbulkan amplifikasi yang lebih banyak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Amplifikasi ini merupakan efek dari gempa atau getaran yang diakibatkan gempa. Jadi, jika lapisan tanah lunak, seperti daerah pegunungan atau perbukitan, maka getaran gempa bakal semakin terasa. “Setiap tanah itu punya nilai frekuensi dan amplifikasi. Itu yang sedang kami kumpulkan,” jelasnya.

Harapannya, hasil pengukuran itu menyimpulkan nilai frekuensi tanah yang ada di beberapa titik tersebut dengan nilai frekuensi gempa berbeda. Sehingga, apabila getaran gempa melewati Lumajang, getarannya tidak semakin menguat dan menghancurkan rumah-rumah warga.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Setelah terjadi gempa di Blitar, sejumlah titik di Jawa Timur mulai dilakukan pengukuran struktur tanah. Termasuk di Lumajang. Ada sebelas kawasan tanah yang dilakukan pengecekan. Tujuannya untuk memetakan mana-mana saja yang memiliki karakteristik tanah keras atau lembek.

Adapun lokasi yang dilakukan pengecekan di antaranya meliputi Desa/Kecamatan Klakah; Desa Krasak, Kecamatan Kedungajang; Desa Mojosari, Kecamatan Sumbersuko; Desa Gesang, Kecamatan Tempeh; Desa/Kecamatan Pasrujambe; Desa/Kecamatan Kunir; Desa Nguter, Kecamatan Pasirian; dan beberapa desa lainnya.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pasuruan Suwarto mengatakan, getaran gempa bergantung pada kekuatan struktur batuan. Semakin keras lapisan tanahnya, maka semakin kuat menekan getaran. Sebaliknya, jika karakteristik tanahnya lembek, bakal menimbulkan amplifikasi yang lebih banyak.

Amplifikasi ini merupakan efek dari gempa atau getaran yang diakibatkan gempa. Jadi, jika lapisan tanah lunak, seperti daerah pegunungan atau perbukitan, maka getaran gempa bakal semakin terasa. “Setiap tanah itu punya nilai frekuensi dan amplifikasi. Itu yang sedang kami kumpulkan,” jelasnya.

Harapannya, hasil pengukuran itu menyimpulkan nilai frekuensi tanah yang ada di beberapa titik tersebut dengan nilai frekuensi gempa berbeda. Sehingga, apabila getaran gempa melewati Lumajang, getarannya tidak semakin menguat dan menghancurkan rumah-rumah warga.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Setelah terjadi gempa di Blitar, sejumlah titik di Jawa Timur mulai dilakukan pengukuran struktur tanah. Termasuk di Lumajang. Ada sebelas kawasan tanah yang dilakukan pengecekan. Tujuannya untuk memetakan mana-mana saja yang memiliki karakteristik tanah keras atau lembek.

Adapun lokasi yang dilakukan pengecekan di antaranya meliputi Desa/Kecamatan Klakah; Desa Krasak, Kecamatan Kedungajang; Desa Mojosari, Kecamatan Sumbersuko; Desa Gesang, Kecamatan Tempeh; Desa/Kecamatan Pasrujambe; Desa/Kecamatan Kunir; Desa Nguter, Kecamatan Pasirian; dan beberapa desa lainnya.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pasuruan Suwarto mengatakan, getaran gempa bergantung pada kekuatan struktur batuan. Semakin keras lapisan tanahnya, maka semakin kuat menekan getaran. Sebaliknya, jika karakteristik tanahnya lembek, bakal menimbulkan amplifikasi yang lebih banyak.

Amplifikasi ini merupakan efek dari gempa atau getaran yang diakibatkan gempa. Jadi, jika lapisan tanah lunak, seperti daerah pegunungan atau perbukitan, maka getaran gempa bakal semakin terasa. “Setiap tanah itu punya nilai frekuensi dan amplifikasi. Itu yang sedang kami kumpulkan,” jelasnya.

Harapannya, hasil pengukuran itu menyimpulkan nilai frekuensi tanah yang ada di beberapa titik tersebut dengan nilai frekuensi gempa berbeda. Sehingga, apabila getaran gempa melewati Lumajang, getarannya tidak semakin menguat dan menghancurkan rumah-rumah warga.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/