alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Sempat Kesulitan Lengkapi Berkas

Briyan, Bayi Kelainan Lubang Pembuangan Air Besar Berhasil Dioperasi

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus atresia ani atau kelainan yang menyebabkan lubang pembuangan air besar tidak dapat terbentuk sempurna sangat jarang terjadi. Akan tetapi, jika hal ini terjadi, tindakan medis berupa operasi perlu dilakukan segera. Sebab, jika dibiarkan dalam waktu yang lama, kotoran yang ada akan membeku dan menjadikan racun dalam tubuh.
Muhammad Briyan Sebastian mengalami hal tersebut. Putra salah satu pasangan suami istri asal Pandansari, Senduro, ini lahir dengan kondisi atresia ani. “Briyan lahir Kamis malam, pekan kemarin, dengan kondisi atresia ani di Rumah Sakit Bhayangkara. Jadi, kami segera membantu penanganannya. Kami menghubungi rumah sakit rujukan di Jember,” kata Ali Muslimin, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Lumajang.
Cak Imin, sapaan akrabnya, menjelaskan, kondisi tersebut memang sangat jarang ditemukan. Sehingga diperlukan penanganan segera agar bayi selamat. Dia menghubungi pihak Rumah Sakit dr Soebandi, Jember, untuk dilakukan operasi bedah anak. Sebab, di Lumajang belum ada spesialis bedah anak.
“Kami rujuk ke RS dr Soebandi. Sebab, di sana ada dokter spesialis anak yang akan membantu operasi tersebut. Sedangkan di Lumajang, belum ada dokter spesialis bedah anak. Hanya ada dokter anak. Jadi, kami segera meminta RS Bhayangkara untuk membuat surat rujukan ke sana,” jelasnya.
Sebelum dirujuk, dia kesulitan melengkapi berkas administrasi operasi. Sebab, data orang tua bayi belum diperbarui. Hal itu menyebabkan rujukan agak terlambat. “Data KTP dari orang tua belum diperbaharui. Jadi, kami kesulitan saat mengurus berkas administrasi. Namun, pihak Disdukcapil bersedia membantu. Dinas Kesehatan juga membantu untuk mengurus rujukan ke Jember,” ujarnya.
Berkas-berkas tersebut berupa data diri orang tua seperti KTP dan KK, surat rujukan dari RS Bhayangkara, surat rekomendasi dari Dinas Sosial, surat bebas biaya dari Dinas Kesehatan, dan surat keterangan tidak mampu dari desa. Setelah semua terlengkapi, pasien dirujuk ke RS dr Soebandi, Jumat sore.
“Sampai di sana, pasien langsung ditangani oleh petugas medis. Namun, kami tidak memberi tahu ibu bayi. Sebab, khawatir akan syok. Hanya bapak dan neneknya yang kami ajak ke sana. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan senin, kemarin bisa pulang,” ungkapnya.
Saat pasien tiba di rumah, warga menyambut dengan gembira. Kondisi tersebut membuat keluarga lega dan bahagia. Dia berpesan, jika ada masyarakat membutuhkan penanganan medis tetapi terkendala biaya, bisa menghubunginya. “Sambutan tetangga sangat luar biasa. Mereka ikut senang, operasi berjalan lancar,” pungkasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus atresia ani atau kelainan yang menyebabkan lubang pembuangan air besar tidak dapat terbentuk sempurna sangat jarang terjadi. Akan tetapi, jika hal ini terjadi, tindakan medis berupa operasi perlu dilakukan segera. Sebab, jika dibiarkan dalam waktu yang lama, kotoran yang ada akan membeku dan menjadikan racun dalam tubuh.
Muhammad Briyan Sebastian mengalami hal tersebut. Putra salah satu pasangan suami istri asal Pandansari, Senduro, ini lahir dengan kondisi atresia ani. “Briyan lahir Kamis malam, pekan kemarin, dengan kondisi atresia ani di Rumah Sakit Bhayangkara. Jadi, kami segera membantu penanganannya. Kami menghubungi rumah sakit rujukan di Jember,” kata Ali Muslimin, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Lumajang.
Cak Imin, sapaan akrabnya, menjelaskan, kondisi tersebut memang sangat jarang ditemukan. Sehingga diperlukan penanganan segera agar bayi selamat. Dia menghubungi pihak Rumah Sakit dr Soebandi, Jember, untuk dilakukan operasi bedah anak. Sebab, di Lumajang belum ada spesialis bedah anak.
“Kami rujuk ke RS dr Soebandi. Sebab, di sana ada dokter spesialis anak yang akan membantu operasi tersebut. Sedangkan di Lumajang, belum ada dokter spesialis bedah anak. Hanya ada dokter anak. Jadi, kami segera meminta RS Bhayangkara untuk membuat surat rujukan ke sana,” jelasnya.
Sebelum dirujuk, dia kesulitan melengkapi berkas administrasi operasi. Sebab, data orang tua bayi belum diperbarui. Hal itu menyebabkan rujukan agak terlambat. “Data KTP dari orang tua belum diperbaharui. Jadi, kami kesulitan saat mengurus berkas administrasi. Namun, pihak Disdukcapil bersedia membantu. Dinas Kesehatan juga membantu untuk mengurus rujukan ke Jember,” ujarnya.
Berkas-berkas tersebut berupa data diri orang tua seperti KTP dan KK, surat rujukan dari RS Bhayangkara, surat rekomendasi dari Dinas Sosial, surat bebas biaya dari Dinas Kesehatan, dan surat keterangan tidak mampu dari desa. Setelah semua terlengkapi, pasien dirujuk ke RS dr Soebandi, Jumat sore.
“Sampai di sana, pasien langsung ditangani oleh petugas medis. Namun, kami tidak memberi tahu ibu bayi. Sebab, khawatir akan syok. Hanya bapak dan neneknya yang kami ajak ke sana. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan senin, kemarin bisa pulang,” ungkapnya.
Saat pasien tiba di rumah, warga menyambut dengan gembira. Kondisi tersebut membuat keluarga lega dan bahagia. Dia berpesan, jika ada masyarakat membutuhkan penanganan medis tetapi terkendala biaya, bisa menghubunginya. “Sambutan tetangga sangat luar biasa. Mereka ikut senang, operasi berjalan lancar,” pungkasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kasus atresia ani atau kelainan yang menyebabkan lubang pembuangan air besar tidak dapat terbentuk sempurna sangat jarang terjadi. Akan tetapi, jika hal ini terjadi, tindakan medis berupa operasi perlu dilakukan segera. Sebab, jika dibiarkan dalam waktu yang lama, kotoran yang ada akan membeku dan menjadikan racun dalam tubuh.
Muhammad Briyan Sebastian mengalami hal tersebut. Putra salah satu pasangan suami istri asal Pandansari, Senduro, ini lahir dengan kondisi atresia ani. “Briyan lahir Kamis malam, pekan kemarin, dengan kondisi atresia ani di Rumah Sakit Bhayangkara. Jadi, kami segera membantu penanganannya. Kami menghubungi rumah sakit rujukan di Jember,” kata Ali Muslimin, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Lumajang.
Cak Imin, sapaan akrabnya, menjelaskan, kondisi tersebut memang sangat jarang ditemukan. Sehingga diperlukan penanganan segera agar bayi selamat. Dia menghubungi pihak Rumah Sakit dr Soebandi, Jember, untuk dilakukan operasi bedah anak. Sebab, di Lumajang belum ada spesialis bedah anak.
“Kami rujuk ke RS dr Soebandi. Sebab, di sana ada dokter spesialis anak yang akan membantu operasi tersebut. Sedangkan di Lumajang, belum ada dokter spesialis bedah anak. Hanya ada dokter anak. Jadi, kami segera meminta RS Bhayangkara untuk membuat surat rujukan ke sana,” jelasnya.
Sebelum dirujuk, dia kesulitan melengkapi berkas administrasi operasi. Sebab, data orang tua bayi belum diperbarui. Hal itu menyebabkan rujukan agak terlambat. “Data KTP dari orang tua belum diperbaharui. Jadi, kami kesulitan saat mengurus berkas administrasi. Namun, pihak Disdukcapil bersedia membantu. Dinas Kesehatan juga membantu untuk mengurus rujukan ke Jember,” ujarnya.
Berkas-berkas tersebut berupa data diri orang tua seperti KTP dan KK, surat rujukan dari RS Bhayangkara, surat rekomendasi dari Dinas Sosial, surat bebas biaya dari Dinas Kesehatan, dan surat keterangan tidak mampu dari desa. Setelah semua terlengkapi, pasien dirujuk ke RS dr Soebandi, Jumat sore.
“Sampai di sana, pasien langsung ditangani oleh petugas medis. Namun, kami tidak memberi tahu ibu bayi. Sebab, khawatir akan syok. Hanya bapak dan neneknya yang kami ajak ke sana. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan senin, kemarin bisa pulang,” ungkapnya.
Saat pasien tiba di rumah, warga menyambut dengan gembira. Kondisi tersebut membuat keluarga lega dan bahagia. Dia berpesan, jika ada masyarakat membutuhkan penanganan medis tetapi terkendala biaya, bisa menghubunginya. “Sambutan tetangga sangat luar biasa. Mereka ikut senang, operasi berjalan lancar,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/