alexametrics
24.7 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Membongkar Mahalnya Harga Daging Ayam di Lumajang

Harga daging ayam potong sempat menembus Rp 40 ribu per kilogram, pekan lalu. Mahalnya harga ini dipengaruhi oleh ketersediaan ayam di masing-masing peternak yang mulai menipis. Usut punya usut, kondisi ayam tidak lagi seperti dulu. Satu ekor ayam hanya menghasilkan daging 1,6 kilogram.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan peternak ayam potong di Lumajang patut mewaspadai cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ini. Pasalnya, cuaca ini menyebabkan ayam kurang sehat. Alhasil, produksi daging menurun. Satu ekor ayam hanya berbobot 1,6 kilogram daging.

Salah satu peternak ayam, Samino, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, faktor mendasar daging ayam tidak maksimal adalah musim yang ekstrem seperti saat ini. Sehingga daging ayam hanya berbobot sedikit. Padahal, jika normal bobotnya bisa mencapai dua kilogram per ekor.

“Per ekor sebenarnya bisa sampai dua kilogram. Tetapi, sekarang karkasnya hanya 1,6 kilogram saja. Wajar jika harga daging ayam di pasar naik atau turun. Tergantung kondisi ayam. Kalau sekarang dengan cuaca yang tidak menentu memang cukup sulit membesarkan ayam dengan normal,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebagai peternak kemitraan, dia sudah terikat kontrak. Sehingga kesehatan ayam harus terjaga. Terlebih, produksi daging juga sesuai standar yang telah ditetapkan. Salah satunya dengan meminimalisasi tingkat kematian ayam sebesar tiga persen. Namun, fakta di lapangan, kematian ayam justru lebih banyak. Hal ini menyebabkan ketersediaan daging ayam menipis.

Mengantisipasi hal tersebut, masing-masing peternak memiliki cara tersendiri. Ada yang dilakukan pemeriksaan ternak secara rutin, pemberian vitamin dan obat. Ada pula dengan ramuan herbal seperti dirinya. “Saya memperlakukan ayam seperti manusia. Artinya, saya memperhatikan kesehatan ayam dengan memberikan ramuan herbal yang saya racik sendiri. Seperti dari kunyit, temulawak, dan daun pepaya,” bebernya.

Samino menambahkan, ayam siap panen jika sudah berumur sekitar 30-35 hari. Namun, hingga memasuki masa panen, banyak ayam dipanen dengan bobot tidak maksimal. “Benar-benar sulit mendapat berat daging dua kilogram,” tambahnya.

Meski ketersediaan ayam menipis, secara umum kebutuhan daging ayam di Lumajang masih tercukupi. Sebanyak 126 peternak kemitraan menyumbang suplai daging ayam. Sedangkan puluhan peternak mandiri juga ikut terlibat. Bahkan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang juga memeriksa kesehatan ayam secara rutin.

“Kalau peternak kemitraan itu sudah ada kontrak untuk penanganan jika ada ternak sakit atau mati. Sedangkan di peternak mandiri, biasanya mereka meminta kami untuk memeriksa di luar jadwal rutin,” pungkas Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang drh Rofiah.

Data Peternakan Ayam Potong

Jumlah Peternak                    : 126 orang

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan peternak ayam potong di Lumajang patut mewaspadai cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ini. Pasalnya, cuaca ini menyebabkan ayam kurang sehat. Alhasil, produksi daging menurun. Satu ekor ayam hanya berbobot 1,6 kilogram daging.

Salah satu peternak ayam, Samino, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, faktor mendasar daging ayam tidak maksimal adalah musim yang ekstrem seperti saat ini. Sehingga daging ayam hanya berbobot sedikit. Padahal, jika normal bobotnya bisa mencapai dua kilogram per ekor.

“Per ekor sebenarnya bisa sampai dua kilogram. Tetapi, sekarang karkasnya hanya 1,6 kilogram saja. Wajar jika harga daging ayam di pasar naik atau turun. Tergantung kondisi ayam. Kalau sekarang dengan cuaca yang tidak menentu memang cukup sulit membesarkan ayam dengan normal,” ungkapnya.

Sebagai peternak kemitraan, dia sudah terikat kontrak. Sehingga kesehatan ayam harus terjaga. Terlebih, produksi daging juga sesuai standar yang telah ditetapkan. Salah satunya dengan meminimalisasi tingkat kematian ayam sebesar tiga persen. Namun, fakta di lapangan, kematian ayam justru lebih banyak. Hal ini menyebabkan ketersediaan daging ayam menipis.

Mengantisipasi hal tersebut, masing-masing peternak memiliki cara tersendiri. Ada yang dilakukan pemeriksaan ternak secara rutin, pemberian vitamin dan obat. Ada pula dengan ramuan herbal seperti dirinya. “Saya memperlakukan ayam seperti manusia. Artinya, saya memperhatikan kesehatan ayam dengan memberikan ramuan herbal yang saya racik sendiri. Seperti dari kunyit, temulawak, dan daun pepaya,” bebernya.

Samino menambahkan, ayam siap panen jika sudah berumur sekitar 30-35 hari. Namun, hingga memasuki masa panen, banyak ayam dipanen dengan bobot tidak maksimal. “Benar-benar sulit mendapat berat daging dua kilogram,” tambahnya.

Meski ketersediaan ayam menipis, secara umum kebutuhan daging ayam di Lumajang masih tercukupi. Sebanyak 126 peternak kemitraan menyumbang suplai daging ayam. Sedangkan puluhan peternak mandiri juga ikut terlibat. Bahkan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang juga memeriksa kesehatan ayam secara rutin.

“Kalau peternak kemitraan itu sudah ada kontrak untuk penanganan jika ada ternak sakit atau mati. Sedangkan di peternak mandiri, biasanya mereka meminta kami untuk memeriksa di luar jadwal rutin,” pungkas Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang drh Rofiah.

Data Peternakan Ayam Potong

Jumlah Peternak                    : 126 orang

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan peternak ayam potong di Lumajang patut mewaspadai cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ini. Pasalnya, cuaca ini menyebabkan ayam kurang sehat. Alhasil, produksi daging menurun. Satu ekor ayam hanya berbobot 1,6 kilogram daging.

Salah satu peternak ayam, Samino, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, faktor mendasar daging ayam tidak maksimal adalah musim yang ekstrem seperti saat ini. Sehingga daging ayam hanya berbobot sedikit. Padahal, jika normal bobotnya bisa mencapai dua kilogram per ekor.

“Per ekor sebenarnya bisa sampai dua kilogram. Tetapi, sekarang karkasnya hanya 1,6 kilogram saja. Wajar jika harga daging ayam di pasar naik atau turun. Tergantung kondisi ayam. Kalau sekarang dengan cuaca yang tidak menentu memang cukup sulit membesarkan ayam dengan normal,” ungkapnya.

Sebagai peternak kemitraan, dia sudah terikat kontrak. Sehingga kesehatan ayam harus terjaga. Terlebih, produksi daging juga sesuai standar yang telah ditetapkan. Salah satunya dengan meminimalisasi tingkat kematian ayam sebesar tiga persen. Namun, fakta di lapangan, kematian ayam justru lebih banyak. Hal ini menyebabkan ketersediaan daging ayam menipis.

Mengantisipasi hal tersebut, masing-masing peternak memiliki cara tersendiri. Ada yang dilakukan pemeriksaan ternak secara rutin, pemberian vitamin dan obat. Ada pula dengan ramuan herbal seperti dirinya. “Saya memperlakukan ayam seperti manusia. Artinya, saya memperhatikan kesehatan ayam dengan memberikan ramuan herbal yang saya racik sendiri. Seperti dari kunyit, temulawak, dan daun pepaya,” bebernya.

Samino menambahkan, ayam siap panen jika sudah berumur sekitar 30-35 hari. Namun, hingga memasuki masa panen, banyak ayam dipanen dengan bobot tidak maksimal. “Benar-benar sulit mendapat berat daging dua kilogram,” tambahnya.

Meski ketersediaan ayam menipis, secara umum kebutuhan daging ayam di Lumajang masih tercukupi. Sebanyak 126 peternak kemitraan menyumbang suplai daging ayam. Sedangkan puluhan peternak mandiri juga ikut terlibat. Bahkan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang juga memeriksa kesehatan ayam secara rutin.

“Kalau peternak kemitraan itu sudah ada kontrak untuk penanganan jika ada ternak sakit atau mati. Sedangkan di peternak mandiri, biasanya mereka meminta kami untuk memeriksa di luar jadwal rutin,” pungkas Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang drh Rofiah.

Data Peternakan Ayam Potong

Jumlah Peternak                    : 126 orang

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/