alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Ngaku Dapat Izin Bupati, Syuting Sinetron di Tempat Bencana Gunung Semeru

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Proses syuting sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda (TMTM) yang dilakukan di lokasi pengungsian korban erupsi Gunung Semeru menimbulkan polemik hingga viral di media sosial. Di tambah adanya adegan berpelukan mesra dua pemain, makin bikin warga geram hingga muncul slogan boikot sinetron tersebut.

Jangankan mendekati aliran lahar Gunung Semeru, berwisata ke kawasan terdampak saja dilarang. Apalagi melaksanakan proses syuting sinetron. Selama dua hari kemarin, tim produksi sinetron melaksanakan proses syuting di lokasi pengungsian Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.

Hari pertama syuting, salah satu adegan tak pantas yang dilakukan pemain sinetron ketika bencana belum pulih menuai polemik dan tanggapan dari pengungsi serta masyarakat Lumajang. Mereka memprotes keras adegan dua pemain sinetron itu yang berpelukan mesra di lokasi pengungsian.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tim produser nekat melangsungkan proses pembuatan sinetron tersebut lantaran mengaku mendapat izin dari Bupati Lumajang Thoriqul Haq. “Saya sudah dapat izin dari bupati, makanya saya syuting,” kata Dwi S Lobo, Line Producer Sinetron TMTM yang tayang di salah satu televisi swasta.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, memang sebelumnya satu produser sempat diarahkan salah satu pejabat teras menghadap Cak Thoriq. Bahkan, Cak Thoriq setuju hingga memberikan disposisi pada tim produksi untuk segera melakukan koordinasi dengan Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Semeru.

Pusdalops Semeru Muhammad Thohir mengatakan, persetujuan Bupati Lumajang tidak serta-merta membolehkan orang luar dapat beraktivitas di kawasan terdampak selama masa tanggap darurat. “Memang yang punya wilayah ini bupati, tetapi penanganan ini ditarik oleh Dansatgas Semeru,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Proses syuting sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda (TMTM) yang dilakukan di lokasi pengungsian korban erupsi Gunung Semeru menimbulkan polemik hingga viral di media sosial. Di tambah adanya adegan berpelukan mesra dua pemain, makin bikin warga geram hingga muncul slogan boikot sinetron tersebut.

Jangankan mendekati aliran lahar Gunung Semeru, berwisata ke kawasan terdampak saja dilarang. Apalagi melaksanakan proses syuting sinetron. Selama dua hari kemarin, tim produksi sinetron melaksanakan proses syuting di lokasi pengungsian Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.

Hari pertama syuting, salah satu adegan tak pantas yang dilakukan pemain sinetron ketika bencana belum pulih menuai polemik dan tanggapan dari pengungsi serta masyarakat Lumajang. Mereka memprotes keras adegan dua pemain sinetron itu yang berpelukan mesra di lokasi pengungsian.

Tim produser nekat melangsungkan proses pembuatan sinetron tersebut lantaran mengaku mendapat izin dari Bupati Lumajang Thoriqul Haq. “Saya sudah dapat izin dari bupati, makanya saya syuting,” kata Dwi S Lobo, Line Producer Sinetron TMTM yang tayang di salah satu televisi swasta.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, memang sebelumnya satu produser sempat diarahkan salah satu pejabat teras menghadap Cak Thoriq. Bahkan, Cak Thoriq setuju hingga memberikan disposisi pada tim produksi untuk segera melakukan koordinasi dengan Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Semeru.

Pusdalops Semeru Muhammad Thohir mengatakan, persetujuan Bupati Lumajang tidak serta-merta membolehkan orang luar dapat beraktivitas di kawasan terdampak selama masa tanggap darurat. “Memang yang punya wilayah ini bupati, tetapi penanganan ini ditarik oleh Dansatgas Semeru,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Proses syuting sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda (TMTM) yang dilakukan di lokasi pengungsian korban erupsi Gunung Semeru menimbulkan polemik hingga viral di media sosial. Di tambah adanya adegan berpelukan mesra dua pemain, makin bikin warga geram hingga muncul slogan boikot sinetron tersebut.

Jangankan mendekati aliran lahar Gunung Semeru, berwisata ke kawasan terdampak saja dilarang. Apalagi melaksanakan proses syuting sinetron. Selama dua hari kemarin, tim produksi sinetron melaksanakan proses syuting di lokasi pengungsian Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.

Hari pertama syuting, salah satu adegan tak pantas yang dilakukan pemain sinetron ketika bencana belum pulih menuai polemik dan tanggapan dari pengungsi serta masyarakat Lumajang. Mereka memprotes keras adegan dua pemain sinetron itu yang berpelukan mesra di lokasi pengungsian.

Tim produser nekat melangsungkan proses pembuatan sinetron tersebut lantaran mengaku mendapat izin dari Bupati Lumajang Thoriqul Haq. “Saya sudah dapat izin dari bupati, makanya saya syuting,” kata Dwi S Lobo, Line Producer Sinetron TMTM yang tayang di salah satu televisi swasta.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, memang sebelumnya satu produser sempat diarahkan salah satu pejabat teras menghadap Cak Thoriq. Bahkan, Cak Thoriq setuju hingga memberikan disposisi pada tim produksi untuk segera melakukan koordinasi dengan Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Semeru.

Pusdalops Semeru Muhammad Thohir mengatakan, persetujuan Bupati Lumajang tidak serta-merta membolehkan orang luar dapat beraktivitas di kawasan terdampak selama masa tanggap darurat. “Memang yang punya wilayah ini bupati, tetapi penanganan ini ditarik oleh Dansatgas Semeru,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/