alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Petani di Lumajang Kesulitan Dapat Pupuk Granul

Pupuk Nonsubsidi Malah Ramai Dicari

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebagian lahan pertanian di Lumajang sudah memasuki masa tanam. Selain bibit, para petani juga mencari pupuk. Namun, bukan pupuk subsidi yang dicari, melainkan pupuk nonsubsidi. Salah satunya pupuk granul. Alhasil, pupuk organik tersebut tidak tersedia di sejumlah kios pertanian.

Tumin, salah satu petani Desa Kutorenon, mengaku kesulitan mencari pupuk tersebut. Padahal, usia tanamannya sudah membutuhkan pupuk granul. Menurut dia, hasil panen tanaman dari pupuk tersebut bisa lebih menjanjikan daripada pupuk subsidi. “Butiran pupuk granul ini lebih besar daripada lainnya. Saat ditabur ke tanaman bisa langsung jatuh ke tanamannya. Sedangkan jika subsidi, saat ditabur malah hilang terkena angin,” ungkapnya.

Hal tersebut juga dibenarkan Suherman. Salah satu pemilik kios pertanian di Dawuhan Lor, Sukodono, tersebut mengaku banyak petani mencari pupuk granul. Namun, pupuk tersebut kosong sejak sepuluh hari lalu. Padahal, petani ramai membeli pupuk. Bahkan, tidak hanya membeli satu karung, satu petani bisa membeli beberapa karung pupuk.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Harganya mahal. Satu karung bisa sampai Rp 300 ribu. Walau begitu, yang beli juga banyak. Menurut petani, jika menggunakan pupuk granul hasilnya bisa maksimal. Makanya dicari. Tapi, di kios saya sudah lama kosong. Tidak tahu kapan akan datang lagi,” katanya.

Menanggapi itu, dia tidak terlalu pusing. Sebab, berdasarkan pengalamannya, harga mahal dan sulitnya ketersediaan pupuk nonsubsidi itu sudah biasa. Pupuk tersebut sempat tidak laku selama tujuh bulan. Selanjutnya, dalam waktu singkat laris terjual. “Sekarang kosong lagi. Banyak yang ingin membeli tetapi tidak ada,” lanjutnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebagian lahan pertanian di Lumajang sudah memasuki masa tanam. Selain bibit, para petani juga mencari pupuk. Namun, bukan pupuk subsidi yang dicari, melainkan pupuk nonsubsidi. Salah satunya pupuk granul. Alhasil, pupuk organik tersebut tidak tersedia di sejumlah kios pertanian.

Tumin, salah satu petani Desa Kutorenon, mengaku kesulitan mencari pupuk tersebut. Padahal, usia tanamannya sudah membutuhkan pupuk granul. Menurut dia, hasil panen tanaman dari pupuk tersebut bisa lebih menjanjikan daripada pupuk subsidi. “Butiran pupuk granul ini lebih besar daripada lainnya. Saat ditabur ke tanaman bisa langsung jatuh ke tanamannya. Sedangkan jika subsidi, saat ditabur malah hilang terkena angin,” ungkapnya.

Hal tersebut juga dibenarkan Suherman. Salah satu pemilik kios pertanian di Dawuhan Lor, Sukodono, tersebut mengaku banyak petani mencari pupuk granul. Namun, pupuk tersebut kosong sejak sepuluh hari lalu. Padahal, petani ramai membeli pupuk. Bahkan, tidak hanya membeli satu karung, satu petani bisa membeli beberapa karung pupuk.

“Harganya mahal. Satu karung bisa sampai Rp 300 ribu. Walau begitu, yang beli juga banyak. Menurut petani, jika menggunakan pupuk granul hasilnya bisa maksimal. Makanya dicari. Tapi, di kios saya sudah lama kosong. Tidak tahu kapan akan datang lagi,” katanya.

Menanggapi itu, dia tidak terlalu pusing. Sebab, berdasarkan pengalamannya, harga mahal dan sulitnya ketersediaan pupuk nonsubsidi itu sudah biasa. Pupuk tersebut sempat tidak laku selama tujuh bulan. Selanjutnya, dalam waktu singkat laris terjual. “Sekarang kosong lagi. Banyak yang ingin membeli tetapi tidak ada,” lanjutnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebagian lahan pertanian di Lumajang sudah memasuki masa tanam. Selain bibit, para petani juga mencari pupuk. Namun, bukan pupuk subsidi yang dicari, melainkan pupuk nonsubsidi. Salah satunya pupuk granul. Alhasil, pupuk organik tersebut tidak tersedia di sejumlah kios pertanian.

Tumin, salah satu petani Desa Kutorenon, mengaku kesulitan mencari pupuk tersebut. Padahal, usia tanamannya sudah membutuhkan pupuk granul. Menurut dia, hasil panen tanaman dari pupuk tersebut bisa lebih menjanjikan daripada pupuk subsidi. “Butiran pupuk granul ini lebih besar daripada lainnya. Saat ditabur ke tanaman bisa langsung jatuh ke tanamannya. Sedangkan jika subsidi, saat ditabur malah hilang terkena angin,” ungkapnya.

Hal tersebut juga dibenarkan Suherman. Salah satu pemilik kios pertanian di Dawuhan Lor, Sukodono, tersebut mengaku banyak petani mencari pupuk granul. Namun, pupuk tersebut kosong sejak sepuluh hari lalu. Padahal, petani ramai membeli pupuk. Bahkan, tidak hanya membeli satu karung, satu petani bisa membeli beberapa karung pupuk.

“Harganya mahal. Satu karung bisa sampai Rp 300 ribu. Walau begitu, yang beli juga banyak. Menurut petani, jika menggunakan pupuk granul hasilnya bisa maksimal. Makanya dicari. Tapi, di kios saya sudah lama kosong. Tidak tahu kapan akan datang lagi,” katanya.

Menanggapi itu, dia tidak terlalu pusing. Sebab, berdasarkan pengalamannya, harga mahal dan sulitnya ketersediaan pupuk nonsubsidi itu sudah biasa. Pupuk tersebut sempat tidak laku selama tujuh bulan. Selanjutnya, dalam waktu singkat laris terjual. “Sekarang kosong lagi. Banyak yang ingin membeli tetapi tidak ada,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/