alexametrics
23.1 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Tak Ada Anggaran, Paguyuban PKL Lumajang Swadaya untuk Rawat Monumen

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setiap kawasan monumen tertera papan peraturan daerah. Papan tersebut menyebut pelestarian cagar budaya. Namun, sebagian besar monumen-monumen tersebut dibiarkan tak terawat. Alhasil, bangunan sakral tersebut menjadi kurang menarik. Ada yang swadaya merawat. Ada pula yang dibiarkan begitu saja.

Ahmad Baihaki, salah satu pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Monumen Kapten Suwandak, Klakah, mengungkapkan, pemeliharaan monumen dilakukan oleh paguyuban PKL. Mereka terpanggil menjalankan misi suci untuk menjaga marwah kawasan monumen tersebut.

“Hampir empat tahun ini kami swadaya merawat monumen. Pemeliharaannya hanya sebatas sesuatu yang ringan. Misalnya, kami kerja bakti menyiangi rumput yang sudah tinggi. Mengecat beberapa bagian yang mulai pudar warnanya. Hingga, kami harus mengganti lampu di sekitar monumen. Memang yang paling sering adalah lampunya,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ahmad mengatakan, pihaknya pernah menanyakan pengelolaan monumen. Namun, pengelolaan itu dilimpahkan ke pihaknya. Sehingga, mereka swadaya merawat monumen dari uang iuran para PKL. “Setiap PKL membayar uang iuran Rp 500 setiap hari. Aktifnya baru sekitar delapan bulan. Uang dikumpulkan untuk biaya perawatan yang ada. Kalau hari biasa dapatnya sedikit. Tetapi, saat puasa mendapat banyak,” katanya.

Dia menambahkan, PKL diizinkan berjualan di sekitar monumen. Asalkan kebersihan selalu dijaga. Oleh sebab itu, pihaknya mengandalkan hasil swadaya tersebut. “Kami di sini juga menumpang mencari makan. Jadi, urusan kebersihan dilimpahkan ke kami,” lanjut bendahara PKL Monumen Suwandak tersebut.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setiap kawasan monumen tertera papan peraturan daerah. Papan tersebut menyebut pelestarian cagar budaya. Namun, sebagian besar monumen-monumen tersebut dibiarkan tak terawat. Alhasil, bangunan sakral tersebut menjadi kurang menarik. Ada yang swadaya merawat. Ada pula yang dibiarkan begitu saja.

Ahmad Baihaki, salah satu pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Monumen Kapten Suwandak, Klakah, mengungkapkan, pemeliharaan monumen dilakukan oleh paguyuban PKL. Mereka terpanggil menjalankan misi suci untuk menjaga marwah kawasan monumen tersebut.

“Hampir empat tahun ini kami swadaya merawat monumen. Pemeliharaannya hanya sebatas sesuatu yang ringan. Misalnya, kami kerja bakti menyiangi rumput yang sudah tinggi. Mengecat beberapa bagian yang mulai pudar warnanya. Hingga, kami harus mengganti lampu di sekitar monumen. Memang yang paling sering adalah lampunya,” ungkapnya.

Ahmad mengatakan, pihaknya pernah menanyakan pengelolaan monumen. Namun, pengelolaan itu dilimpahkan ke pihaknya. Sehingga, mereka swadaya merawat monumen dari uang iuran para PKL. “Setiap PKL membayar uang iuran Rp 500 setiap hari. Aktifnya baru sekitar delapan bulan. Uang dikumpulkan untuk biaya perawatan yang ada. Kalau hari biasa dapatnya sedikit. Tetapi, saat puasa mendapat banyak,” katanya.

Dia menambahkan, PKL diizinkan berjualan di sekitar monumen. Asalkan kebersihan selalu dijaga. Oleh sebab itu, pihaknya mengandalkan hasil swadaya tersebut. “Kami di sini juga menumpang mencari makan. Jadi, urusan kebersihan dilimpahkan ke kami,” lanjut bendahara PKL Monumen Suwandak tersebut.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setiap kawasan monumen tertera papan peraturan daerah. Papan tersebut menyebut pelestarian cagar budaya. Namun, sebagian besar monumen-monumen tersebut dibiarkan tak terawat. Alhasil, bangunan sakral tersebut menjadi kurang menarik. Ada yang swadaya merawat. Ada pula yang dibiarkan begitu saja.

Ahmad Baihaki, salah satu pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Monumen Kapten Suwandak, Klakah, mengungkapkan, pemeliharaan monumen dilakukan oleh paguyuban PKL. Mereka terpanggil menjalankan misi suci untuk menjaga marwah kawasan monumen tersebut.

“Hampir empat tahun ini kami swadaya merawat monumen. Pemeliharaannya hanya sebatas sesuatu yang ringan. Misalnya, kami kerja bakti menyiangi rumput yang sudah tinggi. Mengecat beberapa bagian yang mulai pudar warnanya. Hingga, kami harus mengganti lampu di sekitar monumen. Memang yang paling sering adalah lampunya,” ungkapnya.

Ahmad mengatakan, pihaknya pernah menanyakan pengelolaan monumen. Namun, pengelolaan itu dilimpahkan ke pihaknya. Sehingga, mereka swadaya merawat monumen dari uang iuran para PKL. “Setiap PKL membayar uang iuran Rp 500 setiap hari. Aktifnya baru sekitar delapan bulan. Uang dikumpulkan untuk biaya perawatan yang ada. Kalau hari biasa dapatnya sedikit. Tetapi, saat puasa mendapat banyak,” katanya.

Dia menambahkan, PKL diizinkan berjualan di sekitar monumen. Asalkan kebersihan selalu dijaga. Oleh sebab itu, pihaknya mengandalkan hasil swadaya tersebut. “Kami di sini juga menumpang mencari makan. Jadi, urusan kebersihan dilimpahkan ke kami,” lanjut bendahara PKL Monumen Suwandak tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/