alexametrics
26.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Sepulang Tahlil, Warga Desa Jenggrong Dibacok Hingga Tewas

Hasil Otopsi Ditemukan Empat Luka Bacok

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Belum tuntas pengusutan kasus pembunuhan guru mengaji di Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso, beberapa bulan lalu, kemarin kasus dugaan pembunuhan kembali terjadi. Seorang pria yang memasuki usia lansia ditemukan meninggal mengenaskan di jalan dekat rumahnya.

Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu (21/8) sekitar pukul 19.15. Sebelum kejadian, korban sempat berteriak minta tolong. Namun, ketika tetangga sekitar mendatangi asal teriakan itu, mereka justru menemukan mayat yang sudah berlumuran darah. Ternyata, mayat itu adalah Buamin Nasur Kasim, warga Dusun Lumpang, Desa Jenggrong.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, pria yang berumur 66 tahun ini mengalami dua luka sabet di punggung dan tangan. Tak hanya itu, bagian wajah korban mengalami lebam. Selain mendapat sabetan celurit, korban diduga juga sempat dipukul menggunakan benda tumpul.

Mobile_AP_Rectangle 2

Umi Kulsum, anak korban, menceritakan, sebelum kejadian, ayahnya berpamitan pergi tahlil 40 hari di rumah tetangganya. Dia tidak menduga kepergian ayahnya itu menjadi pertemuan terakhir. Sebab, selama ini ayahnya dikenal baik. Bahkan, beberapa tahun lalu juga sempat mengajar beberapa anak di musala sekitar rumah.

“Abah dari ngaji. Setiap malam kan ngaji, tahlil kan sampai 40 hari. Tidak ada masalah apa-apa, tapi ada yang bacok. Abah jalan kaki pergi, barang-barangnya juga tidak ada yang hilang. La wong kalau pergi tidak pernah bawa apa-apa. Sehari-hari yang pekerjaannya ngarit,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Belum tuntas pengusutan kasus pembunuhan guru mengaji di Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso, beberapa bulan lalu, kemarin kasus dugaan pembunuhan kembali terjadi. Seorang pria yang memasuki usia lansia ditemukan meninggal mengenaskan di jalan dekat rumahnya.

Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu (21/8) sekitar pukul 19.15. Sebelum kejadian, korban sempat berteriak minta tolong. Namun, ketika tetangga sekitar mendatangi asal teriakan itu, mereka justru menemukan mayat yang sudah berlumuran darah. Ternyata, mayat itu adalah Buamin Nasur Kasim, warga Dusun Lumpang, Desa Jenggrong.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, pria yang berumur 66 tahun ini mengalami dua luka sabet di punggung dan tangan. Tak hanya itu, bagian wajah korban mengalami lebam. Selain mendapat sabetan celurit, korban diduga juga sempat dipukul menggunakan benda tumpul.

Umi Kulsum, anak korban, menceritakan, sebelum kejadian, ayahnya berpamitan pergi tahlil 40 hari di rumah tetangganya. Dia tidak menduga kepergian ayahnya itu menjadi pertemuan terakhir. Sebab, selama ini ayahnya dikenal baik. Bahkan, beberapa tahun lalu juga sempat mengajar beberapa anak di musala sekitar rumah.

“Abah dari ngaji. Setiap malam kan ngaji, tahlil kan sampai 40 hari. Tidak ada masalah apa-apa, tapi ada yang bacok. Abah jalan kaki pergi, barang-barangnya juga tidak ada yang hilang. La wong kalau pergi tidak pernah bawa apa-apa. Sehari-hari yang pekerjaannya ngarit,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID Belum tuntas pengusutan kasus pembunuhan guru mengaji di Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso, beberapa bulan lalu, kemarin kasus dugaan pembunuhan kembali terjadi. Seorang pria yang memasuki usia lansia ditemukan meninggal mengenaskan di jalan dekat rumahnya.

Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu (21/8) sekitar pukul 19.15. Sebelum kejadian, korban sempat berteriak minta tolong. Namun, ketika tetangga sekitar mendatangi asal teriakan itu, mereka justru menemukan mayat yang sudah berlumuran darah. Ternyata, mayat itu adalah Buamin Nasur Kasim, warga Dusun Lumpang, Desa Jenggrong.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, pria yang berumur 66 tahun ini mengalami dua luka sabet di punggung dan tangan. Tak hanya itu, bagian wajah korban mengalami lebam. Selain mendapat sabetan celurit, korban diduga juga sempat dipukul menggunakan benda tumpul.

Umi Kulsum, anak korban, menceritakan, sebelum kejadian, ayahnya berpamitan pergi tahlil 40 hari di rumah tetangganya. Dia tidak menduga kepergian ayahnya itu menjadi pertemuan terakhir. Sebab, selama ini ayahnya dikenal baik. Bahkan, beberapa tahun lalu juga sempat mengajar beberapa anak di musala sekitar rumah.

“Abah dari ngaji. Setiap malam kan ngaji, tahlil kan sampai 40 hari. Tidak ada masalah apa-apa, tapi ada yang bacok. Abah jalan kaki pergi, barang-barangnya juga tidak ada yang hilang. La wong kalau pergi tidak pernah bawa apa-apa. Sehari-hari yang pekerjaannya ngarit,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/