alexametrics
24.1 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Rawat Monumen, Hormati Perjuangan Para Pahlawan

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tidak adanya perawatan monumen secara maksimal disayangkan oleh sejumlah pihak. Sebab, monumen tersebut dibangun bukan tanpa alasan. Monumen menjadi pengingat peristiwa masa lalu. Jangan sampai melupakan sejarah. Terutama, tidak menjadi generasi penerus bak kacang lupa kulitnya.

“Monumen perjuangan di Lumajang itu dibangun untuk menggambarkan satu situasi psikologis. Misalnya monumen Kapten Suwandak di Klakah. Hal tersebut untuk menunjukkan perjuangan rakyat Klakah melawan penjajahan Belanda diwakili gugurnya, Kapten Suwandak. Begitu juga monumen yang lainnya,” kata Mansur Hidayat, aktivis sejarah Lumajang.

Mansur sangat menyayangkan monumen tanpa perawatan. Sebab, menurutnya, masyarakat boleh saja menghiraukan bangunan tersebut. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya akan terus digelorakan. Jika pemerintah tidak menghargai monumen itu, seolah-olah juga melupakan proses perlawanan, semangat, dan perjuangan rakyat melawan penjajah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menegaskan, pelestarian monumen tetap menjadi tugas pemerintah daerah. Namun, jika ada masyarakat yang sukarela merawat, justru menjadi catatan. Seperti monumen Kapten Suwandak, Klakah, yang dibuat tempat jualan. Atau Monumen Juang Sukartiyo Nogosari yang menjadi tempat jemuran. “Kita ambil jalan tengah. Kalau ada yang jualan, silakan saja. Asalkan komitmen menjaga kebersihannya. Tetapi, jika dibuat jemuran, ini bentuk cibiran,” tegasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tidak adanya perawatan monumen secara maksimal disayangkan oleh sejumlah pihak. Sebab, monumen tersebut dibangun bukan tanpa alasan. Monumen menjadi pengingat peristiwa masa lalu. Jangan sampai melupakan sejarah. Terutama, tidak menjadi generasi penerus bak kacang lupa kulitnya.

“Monumen perjuangan di Lumajang itu dibangun untuk menggambarkan satu situasi psikologis. Misalnya monumen Kapten Suwandak di Klakah. Hal tersebut untuk menunjukkan perjuangan rakyat Klakah melawan penjajahan Belanda diwakili gugurnya, Kapten Suwandak. Begitu juga monumen yang lainnya,” kata Mansur Hidayat, aktivis sejarah Lumajang.

Mansur sangat menyayangkan monumen tanpa perawatan. Sebab, menurutnya, masyarakat boleh saja menghiraukan bangunan tersebut. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya akan terus digelorakan. Jika pemerintah tidak menghargai monumen itu, seolah-olah juga melupakan proses perlawanan, semangat, dan perjuangan rakyat melawan penjajah.

Dia menegaskan, pelestarian monumen tetap menjadi tugas pemerintah daerah. Namun, jika ada masyarakat yang sukarela merawat, justru menjadi catatan. Seperti monumen Kapten Suwandak, Klakah, yang dibuat tempat jualan. Atau Monumen Juang Sukartiyo Nogosari yang menjadi tempat jemuran. “Kita ambil jalan tengah. Kalau ada yang jualan, silakan saja. Asalkan komitmen menjaga kebersihannya. Tetapi, jika dibuat jemuran, ini bentuk cibiran,” tegasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tidak adanya perawatan monumen secara maksimal disayangkan oleh sejumlah pihak. Sebab, monumen tersebut dibangun bukan tanpa alasan. Monumen menjadi pengingat peristiwa masa lalu. Jangan sampai melupakan sejarah. Terutama, tidak menjadi generasi penerus bak kacang lupa kulitnya.

“Monumen perjuangan di Lumajang itu dibangun untuk menggambarkan satu situasi psikologis. Misalnya monumen Kapten Suwandak di Klakah. Hal tersebut untuk menunjukkan perjuangan rakyat Klakah melawan penjajahan Belanda diwakili gugurnya, Kapten Suwandak. Begitu juga monumen yang lainnya,” kata Mansur Hidayat, aktivis sejarah Lumajang.

Mansur sangat menyayangkan monumen tanpa perawatan. Sebab, menurutnya, masyarakat boleh saja menghiraukan bangunan tersebut. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya akan terus digelorakan. Jika pemerintah tidak menghargai monumen itu, seolah-olah juga melupakan proses perlawanan, semangat, dan perjuangan rakyat melawan penjajah.

Dia menegaskan, pelestarian monumen tetap menjadi tugas pemerintah daerah. Namun, jika ada masyarakat yang sukarela merawat, justru menjadi catatan. Seperti monumen Kapten Suwandak, Klakah, yang dibuat tempat jualan. Atau Monumen Juang Sukartiyo Nogosari yang menjadi tempat jemuran. “Kita ambil jalan tengah. Kalau ada yang jualan, silakan saja. Asalkan komitmen menjaga kebersihannya. Tetapi, jika dibuat jemuran, ini bentuk cibiran,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/