alexametrics
24.1 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Kewalahan Terima Pesanan Peti

Mobile_AP_Rectangle 1

TOMPOKERSAN, RADARJEMBER.ID – Di samping jumlah orang yang sembuh korona lumayan banyak, tidak sedikit juga orang yang meninggal harus dimakamkan menggunakan protokol pemulasaraan jenazah terpapar korona. Sampai-sampai perajin peti kewalahan memenuhi permintaan pembuatan peti mati.

Bayangkan, dalam sehari jumlah pasien yang meninggal tidak sedikit. Kadang 7 hingga 9 orang. Kadang sampai belasan orang yang harus dimakamkan menggunakan peti mati. Otomatis, permintaan peti terus bertambah. Bahkan, selama bulan Juli ini saja Gedung Kematian yang terletak di sekitar Pasar Senggol juga memesan dari luar kota.

Ketua Yayasan Dharma Bhakti Santoso Yudi Raharjo mengatakan, Gedung Kematian Lumajang setiap hari menyuplai permintaan dari rumah sakit di Lumajang. Dalam sepekan terakhir, tidak sedikit rumah sakit meminta peti dalam jumlah banyak untuk mencukupi pemakaman dengan protokol pemulasaraan korona.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pembuatan peti kematian untuk pemulasaraan jenazah korona memang tidak sulit. Untuk mempercepat pembuatan, kadang dibuat polosan saja. Meski begitu, pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu peti kadang bisa menghabiskan waktu sehari atau maksimal dua hari.

Nah, kami di sini tidak punya banyak perajin yang membuatkan. Untuk itu, kadang kami sampai harus memesan bahan-bahan setengah jadi dari luar kota supaya permintaan rumah sakit terpenuhi. Apalagi di bulan Juli ini permintaannya sangat banyak. Stok kami berkurang dan terus menipis. Kami khawatir kehabisan,” katanya.

- Advertisement -

TOMPOKERSAN, RADARJEMBER.ID – Di samping jumlah orang yang sembuh korona lumayan banyak, tidak sedikit juga orang yang meninggal harus dimakamkan menggunakan protokol pemulasaraan jenazah terpapar korona. Sampai-sampai perajin peti kewalahan memenuhi permintaan pembuatan peti mati.

Bayangkan, dalam sehari jumlah pasien yang meninggal tidak sedikit. Kadang 7 hingga 9 orang. Kadang sampai belasan orang yang harus dimakamkan menggunakan peti mati. Otomatis, permintaan peti terus bertambah. Bahkan, selama bulan Juli ini saja Gedung Kematian yang terletak di sekitar Pasar Senggol juga memesan dari luar kota.

Ketua Yayasan Dharma Bhakti Santoso Yudi Raharjo mengatakan, Gedung Kematian Lumajang setiap hari menyuplai permintaan dari rumah sakit di Lumajang. Dalam sepekan terakhir, tidak sedikit rumah sakit meminta peti dalam jumlah banyak untuk mencukupi pemakaman dengan protokol pemulasaraan korona.

Pembuatan peti kematian untuk pemulasaraan jenazah korona memang tidak sulit. Untuk mempercepat pembuatan, kadang dibuat polosan saja. Meski begitu, pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu peti kadang bisa menghabiskan waktu sehari atau maksimal dua hari.

Nah, kami di sini tidak punya banyak perajin yang membuatkan. Untuk itu, kadang kami sampai harus memesan bahan-bahan setengah jadi dari luar kota supaya permintaan rumah sakit terpenuhi. Apalagi di bulan Juli ini permintaannya sangat banyak. Stok kami berkurang dan terus menipis. Kami khawatir kehabisan,” katanya.

TOMPOKERSAN, RADARJEMBER.ID – Di samping jumlah orang yang sembuh korona lumayan banyak, tidak sedikit juga orang yang meninggal harus dimakamkan menggunakan protokol pemulasaraan jenazah terpapar korona. Sampai-sampai perajin peti kewalahan memenuhi permintaan pembuatan peti mati.

Bayangkan, dalam sehari jumlah pasien yang meninggal tidak sedikit. Kadang 7 hingga 9 orang. Kadang sampai belasan orang yang harus dimakamkan menggunakan peti mati. Otomatis, permintaan peti terus bertambah. Bahkan, selama bulan Juli ini saja Gedung Kematian yang terletak di sekitar Pasar Senggol juga memesan dari luar kota.

Ketua Yayasan Dharma Bhakti Santoso Yudi Raharjo mengatakan, Gedung Kematian Lumajang setiap hari menyuplai permintaan dari rumah sakit di Lumajang. Dalam sepekan terakhir, tidak sedikit rumah sakit meminta peti dalam jumlah banyak untuk mencukupi pemakaman dengan protokol pemulasaraan korona.

Pembuatan peti kematian untuk pemulasaraan jenazah korona memang tidak sulit. Untuk mempercepat pembuatan, kadang dibuat polosan saja. Meski begitu, pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu peti kadang bisa menghabiskan waktu sehari atau maksimal dua hari.

Nah, kami di sini tidak punya banyak perajin yang membuatkan. Untuk itu, kadang kami sampai harus memesan bahan-bahan setengah jadi dari luar kota supaya permintaan rumah sakit terpenuhi. Apalagi di bulan Juli ini permintaannya sangat banyak. Stok kami berkurang dan terus menipis. Kami khawatir kehabisan,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/