alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Bangun Kesadaran melalui Jargon Desa

Di Balik Keberhasilan Desa Purwosono Menjuarai Tiga Lomba Provinsi Tantangan berat membangun desa bukanlah dari luar. Justru, tantangan tersebut muncul dari ketidakpercayaan diri masyarakat. Kelemahan itulah yang ditangkap Kepala Desa Purwosono Hendrik Dwi Martono sebagai peluang. Kelemahan berubah menjadi kekuatan. Alhasil, Desa Purwosono memborong tiga juara provinsi.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Di balik kesuksesan seorang pemimpin, ada orang-orang yang berjuang tanpa pamrih untuk membantu mewujudkannya. Itulah yang tergambarkan saat berkunjung ke Desa Purwosono, Sumbersuko. Sejak masuk, kita akan disambut suasana desa yang nyaman, asri, dan indah. Tak heran jika desa tersebut layak mendapatkan juara Kampung Tangguh Semeru Jawa Timur.

Masyarakatnya yang heterogen memang memiliki karakter berbeda-beda. Hal itulah yang membuat Kepala Desa Purwosono Hendrik Dwi Martono menyatukannya dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui jargon desa, dia membangun kesadaran masyarakat untuk berdaya. “Lingkungan kami heterogen. Ada yang menjadi pengusaha, pegawai, petani, karyawan, dan yang lainnya. Kami satukan mereka dengan program-program pemberdayaan desa,” ujarnya.

Hendrik, sapaan akrabnya, mengatakan, jargon desa seperti Purwosono Wani Sehat, Purwosono Tertib Lalu Lintas, dan Purwosono Kampung Tangguh Semeru memberikan semangat dan kesadaran masyarakat untuk berdaya. Oleh sebab itu, tiga juara provinsi berhasil diraih Desa Purwosono. “Kami dapat tiga juara. Yakni cipta lagu lalu lintas, kampung tertib lalu lintas, dan Kampung Tangguh Semeru,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, juara tersebut tidak didapatkan dengan mudah. Dia harus mengikis ketidakpercayaan masyarakat terhadap desa mereka sendiri. “Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kami lakukan pemberdayaan sedikit demi sedikit. Kami kikis ketidakpercayaan diri masyarakat dengan mendorong mereka untuk berani dan percaya satu sama lain. Sehingga jargon itu kami tetapkan. Itulah yang membuat mereka terpacu dan merasa memiliki desa ini,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Di balik kesuksesan seorang pemimpin, ada orang-orang yang berjuang tanpa pamrih untuk membantu mewujudkannya. Itulah yang tergambarkan saat berkunjung ke Desa Purwosono, Sumbersuko. Sejak masuk, kita akan disambut suasana desa yang nyaman, asri, dan indah. Tak heran jika desa tersebut layak mendapatkan juara Kampung Tangguh Semeru Jawa Timur.

Masyarakatnya yang heterogen memang memiliki karakter berbeda-beda. Hal itulah yang membuat Kepala Desa Purwosono Hendrik Dwi Martono menyatukannya dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui jargon desa, dia membangun kesadaran masyarakat untuk berdaya. “Lingkungan kami heterogen. Ada yang menjadi pengusaha, pegawai, petani, karyawan, dan yang lainnya. Kami satukan mereka dengan program-program pemberdayaan desa,” ujarnya.

Hendrik, sapaan akrabnya, mengatakan, jargon desa seperti Purwosono Wani Sehat, Purwosono Tertib Lalu Lintas, dan Purwosono Kampung Tangguh Semeru memberikan semangat dan kesadaran masyarakat untuk berdaya. Oleh sebab itu, tiga juara provinsi berhasil diraih Desa Purwosono. “Kami dapat tiga juara. Yakni cipta lagu lalu lintas, kampung tertib lalu lintas, dan Kampung Tangguh Semeru,” katanya.

Dia menjelaskan, juara tersebut tidak didapatkan dengan mudah. Dia harus mengikis ketidakpercayaan masyarakat terhadap desa mereka sendiri. “Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kami lakukan pemberdayaan sedikit demi sedikit. Kami kikis ketidakpercayaan diri masyarakat dengan mendorong mereka untuk berani dan percaya satu sama lain. Sehingga jargon itu kami tetapkan. Itulah yang membuat mereka terpacu dan merasa memiliki desa ini,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Di balik kesuksesan seorang pemimpin, ada orang-orang yang berjuang tanpa pamrih untuk membantu mewujudkannya. Itulah yang tergambarkan saat berkunjung ke Desa Purwosono, Sumbersuko. Sejak masuk, kita akan disambut suasana desa yang nyaman, asri, dan indah. Tak heran jika desa tersebut layak mendapatkan juara Kampung Tangguh Semeru Jawa Timur.

Masyarakatnya yang heterogen memang memiliki karakter berbeda-beda. Hal itulah yang membuat Kepala Desa Purwosono Hendrik Dwi Martono menyatukannya dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui jargon desa, dia membangun kesadaran masyarakat untuk berdaya. “Lingkungan kami heterogen. Ada yang menjadi pengusaha, pegawai, petani, karyawan, dan yang lainnya. Kami satukan mereka dengan program-program pemberdayaan desa,” ujarnya.

Hendrik, sapaan akrabnya, mengatakan, jargon desa seperti Purwosono Wani Sehat, Purwosono Tertib Lalu Lintas, dan Purwosono Kampung Tangguh Semeru memberikan semangat dan kesadaran masyarakat untuk berdaya. Oleh sebab itu, tiga juara provinsi berhasil diraih Desa Purwosono. “Kami dapat tiga juara. Yakni cipta lagu lalu lintas, kampung tertib lalu lintas, dan Kampung Tangguh Semeru,” katanya.

Dia menjelaskan, juara tersebut tidak didapatkan dengan mudah. Dia harus mengikis ketidakpercayaan masyarakat terhadap desa mereka sendiri. “Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kami lakukan pemberdayaan sedikit demi sedikit. Kami kikis ketidakpercayaan diri masyarakat dengan mendorong mereka untuk berani dan percaya satu sama lain. Sehingga jargon itu kami tetapkan. Itulah yang membuat mereka terpacu dan merasa memiliki desa ini,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/