alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Rusak Parah, Pasang Penanda Ditabrak Pengendara

Kondisi Jalan Sepanjang 50 Meter Selatan Bundaran Pancasila

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kondisi Jalan Gatot Subroto, tepatnya selatan Bundaran Pancasila, Dawuhan Lor, Sukodono, mengalami kerusakan yang semakin parah. Sepanjang 50 meter sebelum bundaran, kerusakan begitu terlihat menonjol. Mulai dari jalan berlubang hingga bergelombang.
Meski warga sekitar memasang penanda, banyak pengendara yang tidak mengetahuinya. Akibatnya, penanda ditabrak dan roda kendaraan terantuk di lubang. Hal tersebut tentu mengkhawatirkan. Sebab, ketidaktahuan pengendara bisa menjadi salah satu faktor terjadinya kecelakaan sebelum pemberhentian.
Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, banyak pengendara yang masih menginjak gas kencang meskipun ada tiga penanda yang terpasang. Setelah penanda ditabrak dan terlempar ke luar jalan, mereka berhenti lalu mengembalikannya ke tempat semula. “Banyak pengendara yang tidak tahu. Padahal sudah ada penanda. Jadi, penanda itu ditabrak tapi dikembalikan lagi ke tempat semula,” kata Mursiah, salah satu pengendara yang melintas.
Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung lama. Dia menuturkan, petugas sering memperbaiki jalan dengan menambalnya. Namun, kualitas tambalan tidak dapat tahan lama. “Meski ditambal, sama saja. Beberapa hari kemudian akan rusak lagi. Menurut saya, tambalannya kurang kuat dan kualitas aspalnya tidak bagus. Akhirnya, rusak lagi,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, aktivitas truk pasir dan truk besar lain mendorong kerusakan jalan semakin parah. Sebab, sering kali dia harus berbagi jalan dengan truk-truk tersebut. Dia berharap ada tindakan tegas bagi sopir truk bertonase lebih.
“Muatannya terlalu banyak. Apalagi truk pasir yang tertiup angin. Pasirnya bisa mengenai wajah dan mengganggu pengendara. Kalau cuma pengendara motor seperti saya, ya jalannya tidak akan rusak seperti itu,” ungkapnya kesal.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kondisi Jalan Gatot Subroto, tepatnya selatan Bundaran Pancasila, Dawuhan Lor, Sukodono, mengalami kerusakan yang semakin parah. Sepanjang 50 meter sebelum bundaran, kerusakan begitu terlihat menonjol. Mulai dari jalan berlubang hingga bergelombang.
Meski warga sekitar memasang penanda, banyak pengendara yang tidak mengetahuinya. Akibatnya, penanda ditabrak dan roda kendaraan terantuk di lubang. Hal tersebut tentu mengkhawatirkan. Sebab, ketidaktahuan pengendara bisa menjadi salah satu faktor terjadinya kecelakaan sebelum pemberhentian.
Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, banyak pengendara yang masih menginjak gas kencang meskipun ada tiga penanda yang terpasang. Setelah penanda ditabrak dan terlempar ke luar jalan, mereka berhenti lalu mengembalikannya ke tempat semula. “Banyak pengendara yang tidak tahu. Padahal sudah ada penanda. Jadi, penanda itu ditabrak tapi dikembalikan lagi ke tempat semula,” kata Mursiah, salah satu pengendara yang melintas.
Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung lama. Dia menuturkan, petugas sering memperbaiki jalan dengan menambalnya. Namun, kualitas tambalan tidak dapat tahan lama. “Meski ditambal, sama saja. Beberapa hari kemudian akan rusak lagi. Menurut saya, tambalannya kurang kuat dan kualitas aspalnya tidak bagus. Akhirnya, rusak lagi,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, aktivitas truk pasir dan truk besar lain mendorong kerusakan jalan semakin parah. Sebab, sering kali dia harus berbagi jalan dengan truk-truk tersebut. Dia berharap ada tindakan tegas bagi sopir truk bertonase lebih.
“Muatannya terlalu banyak. Apalagi truk pasir yang tertiup angin. Pasirnya bisa mengenai wajah dan mengganggu pengendara. Kalau cuma pengendara motor seperti saya, ya jalannya tidak akan rusak seperti itu,” ungkapnya kesal.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kondisi Jalan Gatot Subroto, tepatnya selatan Bundaran Pancasila, Dawuhan Lor, Sukodono, mengalami kerusakan yang semakin parah. Sepanjang 50 meter sebelum bundaran, kerusakan begitu terlihat menonjol. Mulai dari jalan berlubang hingga bergelombang.
Meski warga sekitar memasang penanda, banyak pengendara yang tidak mengetahuinya. Akibatnya, penanda ditabrak dan roda kendaraan terantuk di lubang. Hal tersebut tentu mengkhawatirkan. Sebab, ketidaktahuan pengendara bisa menjadi salah satu faktor terjadinya kecelakaan sebelum pemberhentian.
Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, banyak pengendara yang masih menginjak gas kencang meskipun ada tiga penanda yang terpasang. Setelah penanda ditabrak dan terlempar ke luar jalan, mereka berhenti lalu mengembalikannya ke tempat semula. “Banyak pengendara yang tidak tahu. Padahal sudah ada penanda. Jadi, penanda itu ditabrak tapi dikembalikan lagi ke tempat semula,” kata Mursiah, salah satu pengendara yang melintas.
Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung lama. Dia menuturkan, petugas sering memperbaiki jalan dengan menambalnya. Namun, kualitas tambalan tidak dapat tahan lama. “Meski ditambal, sama saja. Beberapa hari kemudian akan rusak lagi. Menurut saya, tambalannya kurang kuat dan kualitas aspalnya tidak bagus. Akhirnya, rusak lagi,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, aktivitas truk pasir dan truk besar lain mendorong kerusakan jalan semakin parah. Sebab, sering kali dia harus berbagi jalan dengan truk-truk tersebut. Dia berharap ada tindakan tegas bagi sopir truk bertonase lebih.
“Muatannya terlalu banyak. Apalagi truk pasir yang tertiup angin. Pasirnya bisa mengenai wajah dan mengganggu pengendara. Kalau cuma pengendara motor seperti saya, ya jalannya tidak akan rusak seperti itu,” ungkapnya kesal.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/