alexametrics
30.3 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Harga Cabai Tembus Rp 120 Ribu per Kilogram

Bakal Dilakukan Evaluasi Bersama Instansi Terkait

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Semakin hari harga cabai rawit semakin naik. Belum ada tanda-tanda penurunan harga. Harga dan rasa cabai sama-sama pedas. Kini, harganya semakin menguat pada angka Rp 120 ribu per kilogram. Padahal pekan lalu, harga cabai rawit masih berkisar di angka Rp 100 hingga Rp 105 ribu per kilogram.
Awalnya, kenaikan harga cabai rawit di angka Rp 50 ribu per kilogram. Lalu, merangkak naik hingga saat ini seharga Rp 120 ribu per kilogram. Bahkan, harga ini lebih mahal dibandingkan dengan harga daging sapi yang masih berkisar Rp 100 ribu. Selain cabai rawit, harga cabai keriting dan cabai biasa ikut merangkak naik. Masing-masing di harga Rp 50 ribu dan Rp 40 ribu per kilogram.
Nur, salah satu pedagang, mengeluhkan kenaikan harga cabai rawit. Dia pun takut untuk membeli dari tengkulak dengan jumlah banyak. “Cabai ini cepat busuk, jadi saya tidak beli banyak. Takut tidak laku semua. Malah saya yang rugi,” keluhnya.
Menurutnya, harga tersebut selalu naik setiap pekan. Namun, kenaikan itu tidak dibarengi dengan kualitas cabai yang bagus. Justru, kualitasnya semakin buruk dengan ditandai tidak segar. “Terpaksa beli sedikit. Kualitasnya juga sudah tidak sebaik dulu. Sekarang banyak cabai yang tidak segar. Padahal, pembeli banyak yang mencari cabai segar,” katanya.
Sementara itu, Wawan, Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Kabupaten Lumajang, mengatakan, harga cabai rawit memang semakin naik. Rata-rata di pasar, harganya Rp 110 ribu. “Pantauan kami, rata-rata Rp 110 ribu per kilogram. Tetapi, ada juga yang menjual sampai Rp 120 ribu,” katanya.
Dia menjelaskan, saat ini belum masuk masa panen cabai. Hal tersebut menyebabkan harga cabai masih mahal di masyarakat. Selain itu, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan cabai tidak tumbuh normal dan segar. “Belum masuk masa panen, jadi masih mahal. Kalau sudah panen serentak, harganya akan turun. Hujan juga memengaruhi kualitas cabai. Otomatis, cabai yang segar menjadi sedikit,” jelasnya.
Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan evaluasi bersama lintas sektor untuk memetakan dan mencari solusi mahalnya cabai. “Kami akan evaluasi lintas sektor. Jadi, kami bisa mencari solusi bersama agar masyarakat tidak mengeluh mahalnya harga cabai lagi,” pungkasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Semakin hari harga cabai rawit semakin naik. Belum ada tanda-tanda penurunan harga. Harga dan rasa cabai sama-sama pedas. Kini, harganya semakin menguat pada angka Rp 120 ribu per kilogram. Padahal pekan lalu, harga cabai rawit masih berkisar di angka Rp 100 hingga Rp 105 ribu per kilogram.
Awalnya, kenaikan harga cabai rawit di angka Rp 50 ribu per kilogram. Lalu, merangkak naik hingga saat ini seharga Rp 120 ribu per kilogram. Bahkan, harga ini lebih mahal dibandingkan dengan harga daging sapi yang masih berkisar Rp 100 ribu. Selain cabai rawit, harga cabai keriting dan cabai biasa ikut merangkak naik. Masing-masing di harga Rp 50 ribu dan Rp 40 ribu per kilogram.
Nur, salah satu pedagang, mengeluhkan kenaikan harga cabai rawit. Dia pun takut untuk membeli dari tengkulak dengan jumlah banyak. “Cabai ini cepat busuk, jadi saya tidak beli banyak. Takut tidak laku semua. Malah saya yang rugi,” keluhnya.
Menurutnya, harga tersebut selalu naik setiap pekan. Namun, kenaikan itu tidak dibarengi dengan kualitas cabai yang bagus. Justru, kualitasnya semakin buruk dengan ditandai tidak segar. “Terpaksa beli sedikit. Kualitasnya juga sudah tidak sebaik dulu. Sekarang banyak cabai yang tidak segar. Padahal, pembeli banyak yang mencari cabai segar,” katanya.
Sementara itu, Wawan, Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Kabupaten Lumajang, mengatakan, harga cabai rawit memang semakin naik. Rata-rata di pasar, harganya Rp 110 ribu. “Pantauan kami, rata-rata Rp 110 ribu per kilogram. Tetapi, ada juga yang menjual sampai Rp 120 ribu,” katanya.
Dia menjelaskan, saat ini belum masuk masa panen cabai. Hal tersebut menyebabkan harga cabai masih mahal di masyarakat. Selain itu, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan cabai tidak tumbuh normal dan segar. “Belum masuk masa panen, jadi masih mahal. Kalau sudah panen serentak, harganya akan turun. Hujan juga memengaruhi kualitas cabai. Otomatis, cabai yang segar menjadi sedikit,” jelasnya.
Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan evaluasi bersama lintas sektor untuk memetakan dan mencari solusi mahalnya cabai. “Kami akan evaluasi lintas sektor. Jadi, kami bisa mencari solusi bersama agar masyarakat tidak mengeluh mahalnya harga cabai lagi,” pungkasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Semakin hari harga cabai rawit semakin naik. Belum ada tanda-tanda penurunan harga. Harga dan rasa cabai sama-sama pedas. Kini, harganya semakin menguat pada angka Rp 120 ribu per kilogram. Padahal pekan lalu, harga cabai rawit masih berkisar di angka Rp 100 hingga Rp 105 ribu per kilogram.
Awalnya, kenaikan harga cabai rawit di angka Rp 50 ribu per kilogram. Lalu, merangkak naik hingga saat ini seharga Rp 120 ribu per kilogram. Bahkan, harga ini lebih mahal dibandingkan dengan harga daging sapi yang masih berkisar Rp 100 ribu. Selain cabai rawit, harga cabai keriting dan cabai biasa ikut merangkak naik. Masing-masing di harga Rp 50 ribu dan Rp 40 ribu per kilogram.
Nur, salah satu pedagang, mengeluhkan kenaikan harga cabai rawit. Dia pun takut untuk membeli dari tengkulak dengan jumlah banyak. “Cabai ini cepat busuk, jadi saya tidak beli banyak. Takut tidak laku semua. Malah saya yang rugi,” keluhnya.
Menurutnya, harga tersebut selalu naik setiap pekan. Namun, kenaikan itu tidak dibarengi dengan kualitas cabai yang bagus. Justru, kualitasnya semakin buruk dengan ditandai tidak segar. “Terpaksa beli sedikit. Kualitasnya juga sudah tidak sebaik dulu. Sekarang banyak cabai yang tidak segar. Padahal, pembeli banyak yang mencari cabai segar,” katanya.
Sementara itu, Wawan, Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Kabupaten Lumajang, mengatakan, harga cabai rawit memang semakin naik. Rata-rata di pasar, harganya Rp 110 ribu. “Pantauan kami, rata-rata Rp 110 ribu per kilogram. Tetapi, ada juga yang menjual sampai Rp 120 ribu,” katanya.
Dia menjelaskan, saat ini belum masuk masa panen cabai. Hal tersebut menyebabkan harga cabai masih mahal di masyarakat. Selain itu, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan cabai tidak tumbuh normal dan segar. “Belum masuk masa panen, jadi masih mahal. Kalau sudah panen serentak, harganya akan turun. Hujan juga memengaruhi kualitas cabai. Otomatis, cabai yang segar menjadi sedikit,” jelasnya.
Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan evaluasi bersama lintas sektor untuk memetakan dan mencari solusi mahalnya cabai. “Kami akan evaluasi lintas sektor. Jadi, kami bisa mencari solusi bersama agar masyarakat tidak mengeluh mahalnya harga cabai lagi,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/