alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Permintaan Tembakau Merosot, Dua Perusahaan Mitra Petani Hengkang

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Permintaan tembakau tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat ini permintaan tembakau merosot cukup tajam. Sebab, beberapa perusahaan yang sebelumnya menjadi mitra petani tembakau telah meninggalkan Lumajang. Kini hanya tersisa satu perusahaan.
Dua perusahaan mitra petani tembakau yang pergi tersebut adalah PT Sadhana dan PT Alliance One Indonesia (AOI). Sedangkan PT Indonesia Dwi Sejahtera (IDS) tetap membuka register petani tembakau untuk melakukan penanaman. Total permintaan tahun ini kurang lebih sekitar 200 ton tembakau rajangan.
Ketua Kelompok Petani Tembakau Desa Sarikemuning Anang mengatakan, ada ratusan petani tembakau krosok yang sudah tidak bisa melakukan penanaman. Sebab, perusahaan yang menerima tembakau tersebut tidak membuka pendaftaran. Sehingga banyak yang meneruskan pertanian padi.
“Biasanya bulan-bulan ini petani krosok sibuk melakukan pendaftaran untuk bisa menanam tembakau, sekarang sepi. Kalau yang saya dengar, mereka sudah tidak berkantor di Lumajang. Mungkin banyak tembakau luar yang lebih murah. Belum lagi melihat sawah yang tidak mampu produksi maksimal,” jelasnya.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang Dwi Wahyono menjelaskan, permintaan tembakau bakal turun sekitar lima puluh persen. Dua perusahaan dipastikan tidak menerima penjualan tembakau. Padahal, sebelumnya kebutuhan tembakau pernah tembus sekitar 400 ton, kini tinggal separuhnya.
Menurutnya, penurunan kebutuhan tembakau itu bakal berpengaruh pada penerimaan dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT). Tetapi, dampaknya tidak langsung tahun depan. “Mungkin ya tahun 2023, salah satu pendapatan pemkab berkurang. Karena perhitungannya tiga tahun,” pungkasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Permintaan tembakau tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat ini permintaan tembakau merosot cukup tajam. Sebab, beberapa perusahaan yang sebelumnya menjadi mitra petani tembakau telah meninggalkan Lumajang. Kini hanya tersisa satu perusahaan.
Dua perusahaan mitra petani tembakau yang pergi tersebut adalah PT Sadhana dan PT Alliance One Indonesia (AOI). Sedangkan PT Indonesia Dwi Sejahtera (IDS) tetap membuka register petani tembakau untuk melakukan penanaman. Total permintaan tahun ini kurang lebih sekitar 200 ton tembakau rajangan.
Ketua Kelompok Petani Tembakau Desa Sarikemuning Anang mengatakan, ada ratusan petani tembakau krosok yang sudah tidak bisa melakukan penanaman. Sebab, perusahaan yang menerima tembakau tersebut tidak membuka pendaftaran. Sehingga banyak yang meneruskan pertanian padi.
“Biasanya bulan-bulan ini petani krosok sibuk melakukan pendaftaran untuk bisa menanam tembakau, sekarang sepi. Kalau yang saya dengar, mereka sudah tidak berkantor di Lumajang. Mungkin banyak tembakau luar yang lebih murah. Belum lagi melihat sawah yang tidak mampu produksi maksimal,” jelasnya.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang Dwi Wahyono menjelaskan, permintaan tembakau bakal turun sekitar lima puluh persen. Dua perusahaan dipastikan tidak menerima penjualan tembakau. Padahal, sebelumnya kebutuhan tembakau pernah tembus sekitar 400 ton, kini tinggal separuhnya.
Menurutnya, penurunan kebutuhan tembakau itu bakal berpengaruh pada penerimaan dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT). Tetapi, dampaknya tidak langsung tahun depan. “Mungkin ya tahun 2023, salah satu pendapatan pemkab berkurang. Karena perhitungannya tiga tahun,” pungkasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Permintaan tembakau tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat ini permintaan tembakau merosot cukup tajam. Sebab, beberapa perusahaan yang sebelumnya menjadi mitra petani tembakau telah meninggalkan Lumajang. Kini hanya tersisa satu perusahaan.
Dua perusahaan mitra petani tembakau yang pergi tersebut adalah PT Sadhana dan PT Alliance One Indonesia (AOI). Sedangkan PT Indonesia Dwi Sejahtera (IDS) tetap membuka register petani tembakau untuk melakukan penanaman. Total permintaan tahun ini kurang lebih sekitar 200 ton tembakau rajangan.
Ketua Kelompok Petani Tembakau Desa Sarikemuning Anang mengatakan, ada ratusan petani tembakau krosok yang sudah tidak bisa melakukan penanaman. Sebab, perusahaan yang menerima tembakau tersebut tidak membuka pendaftaran. Sehingga banyak yang meneruskan pertanian padi.
“Biasanya bulan-bulan ini petani krosok sibuk melakukan pendaftaran untuk bisa menanam tembakau, sekarang sepi. Kalau yang saya dengar, mereka sudah tidak berkantor di Lumajang. Mungkin banyak tembakau luar yang lebih murah. Belum lagi melihat sawah yang tidak mampu produksi maksimal,” jelasnya.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang Dwi Wahyono menjelaskan, permintaan tembakau bakal turun sekitar lima puluh persen. Dua perusahaan dipastikan tidak menerima penjualan tembakau. Padahal, sebelumnya kebutuhan tembakau pernah tembus sekitar 400 ton, kini tinggal separuhnya.
Menurutnya, penurunan kebutuhan tembakau itu bakal berpengaruh pada penerimaan dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT). Tetapi, dampaknya tidak langsung tahun depan. “Mungkin ya tahun 2023, salah satu pendapatan pemkab berkurang. Karena perhitungannya tiga tahun,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/