alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Diabetes Jadi Peringkat Empat Penyakit Berbahaya, Ini Urutannya

Kencing manis atau dengan nama lain diabetes melitus (DM) merupakan penyakit berbahaya. Di Lumajang, penyakit ini masuk sepuluh besar penyakit mematikan. Bahkan, peringkatnya nomor empat setelah penyakit stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu penyakit mematikan yang belakangan mengalami peningkatan adalah Diabetes Melitus. Hal itu terungkap setelah ratusan orang yang meninggal karena korona sebagian besar menderita Diabetes Melitus. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini memicu komplikasi hingga kematian.

Salah satu dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Muhammadiyah Lumajang, dr Ahmad Basyiruddin SpPD, menyebut, penderita Diabetes Melitus banyak didominasi usia 40 tahun ke atas. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan anak muda juga bisa menderita Diabetes Melitus. “Secara kasat jumlah lansia itu terbanyak,” ungkapnya.

Oleh karena itu, masyarakat harus lebih mengontrol kesehatannya. Terutama saat mengonsumsi gula. Memang tidak ada batasan khusus konsumsi gula. Sebab, ukuran setiap individu berbeda-beda. “Kalau konsumsi gulanya tinggi, akan menyebabkan komplikasi ke organ dan penyakit lainnya. Ini yang harus dicegah,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Wakil Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Lumajang Eni Kurniawati menjelaskan, belakangan penyakit ini terus menunjukkan kenaikan. Faktor penyebabnya banyak. Namun, paling sering adalah pola makan yang tidak teratur, kurang aktivitas, dan keturunan.

“Kalau salah satu atau kedua orang tuanya menderita Diabetes Melitus, kemungkinan besar penyakit ini akan menurun ke anaknya. Nah, risiko ini tidak bisa dicegah atau diobati. Tetapi, penyakit Diabetes Melitus ini bisa dikendalikan. Caranya dengan makan yang teratur seperti mengonsumsi gula sesuai takarannya, aktivitas atau olahraga. Artinya, pola hidup sehatnya harus benar-benar diperhatikan,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu penyakit mematikan yang belakangan mengalami peningkatan adalah Diabetes Melitus. Hal itu terungkap setelah ratusan orang yang meninggal karena korona sebagian besar menderita Diabetes Melitus. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini memicu komplikasi hingga kematian.

Salah satu dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Muhammadiyah Lumajang, dr Ahmad Basyiruddin SpPD, menyebut, penderita Diabetes Melitus banyak didominasi usia 40 tahun ke atas. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan anak muda juga bisa menderita Diabetes Melitus. “Secara kasat jumlah lansia itu terbanyak,” ungkapnya.

Oleh karena itu, masyarakat harus lebih mengontrol kesehatannya. Terutama saat mengonsumsi gula. Memang tidak ada batasan khusus konsumsi gula. Sebab, ukuran setiap individu berbeda-beda. “Kalau konsumsi gulanya tinggi, akan menyebabkan komplikasi ke organ dan penyakit lainnya. Ini yang harus dicegah,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Lumajang Eni Kurniawati menjelaskan, belakangan penyakit ini terus menunjukkan kenaikan. Faktor penyebabnya banyak. Namun, paling sering adalah pola makan yang tidak teratur, kurang aktivitas, dan keturunan.

“Kalau salah satu atau kedua orang tuanya menderita Diabetes Melitus, kemungkinan besar penyakit ini akan menurun ke anaknya. Nah, risiko ini tidak bisa dicegah atau diobati. Tetapi, penyakit Diabetes Melitus ini bisa dikendalikan. Caranya dengan makan yang teratur seperti mengonsumsi gula sesuai takarannya, aktivitas atau olahraga. Artinya, pola hidup sehatnya harus benar-benar diperhatikan,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Salah satu penyakit mematikan yang belakangan mengalami peningkatan adalah Diabetes Melitus. Hal itu terungkap setelah ratusan orang yang meninggal karena korona sebagian besar menderita Diabetes Melitus. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini memicu komplikasi hingga kematian.

Salah satu dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Muhammadiyah Lumajang, dr Ahmad Basyiruddin SpPD, menyebut, penderita Diabetes Melitus banyak didominasi usia 40 tahun ke atas. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan anak muda juga bisa menderita Diabetes Melitus. “Secara kasat jumlah lansia itu terbanyak,” ungkapnya.

Oleh karena itu, masyarakat harus lebih mengontrol kesehatannya. Terutama saat mengonsumsi gula. Memang tidak ada batasan khusus konsumsi gula. Sebab, ukuran setiap individu berbeda-beda. “Kalau konsumsi gulanya tinggi, akan menyebabkan komplikasi ke organ dan penyakit lainnya. Ini yang harus dicegah,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Lumajang Eni Kurniawati menjelaskan, belakangan penyakit ini terus menunjukkan kenaikan. Faktor penyebabnya banyak. Namun, paling sering adalah pola makan yang tidak teratur, kurang aktivitas, dan keturunan.

“Kalau salah satu atau kedua orang tuanya menderita Diabetes Melitus, kemungkinan besar penyakit ini akan menurun ke anaknya. Nah, risiko ini tidak bisa dicegah atau diobati. Tetapi, penyakit Diabetes Melitus ini bisa dikendalikan. Caranya dengan makan yang teratur seperti mengonsumsi gula sesuai takarannya, aktivitas atau olahraga. Artinya, pola hidup sehatnya harus benar-benar diperhatikan,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca