alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Biosolar Langka, Ternyata Ini Alasannya

Terhambat Ombak Besar Saat Pengiriman

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Akhir-akhir ini cuaca cukup ekstrem terjadi di sejumlah daerah. Tak terkecuali di kawasan pesisir. Ombak besar dan tinggi menyebabkan kapal kesulitan berlayar dan berlabuh. Akibatnya, distribusi biosolar dari kapal pembawa bahan bakar minyak (BBM) mengalami kendala.

Oleh karena itu, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mengalami kekosongan stok. Kosongnya BBM subsidi jenis biosolar itu dikeluhkan para sopir. Sebab, perjalanan mereka harus molor dari jadwal. Imbasnya, mereka harus menerima konsekuensi keterlambatan pengiriman barang.

“Terkadang konsumen itu tidak mau tahu ada peristiwa apa di jalan. Yang pasti, mereka ingin barangnya datang tepat waktu. Padahal, para sopir juga kesulitan jika ada antrean panjang atau kesulitan mengisi di pom (SPBU, Red),” keluh Anwar, sopir truk asal Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengungkapkan, untuk mengantisipasi agar tidak terlambat, dia memutuskan untuk mengisi biosolar sebelum waktunya. Menurut dia, itu bisa menghindarkan dari antrean panjang di SPBU. Terlebih jika berada di jalan yang jauh dari SPBU. Tentu akan menyulitkan jika bahan bakar habis di tengah jalan. “Beberapa hari yang lalu pernah mau mengisi, tetapi biosolarnya habis. Jadi, terpaksa mengisi di SPBU selanjutnya dengan jarak tempuh lumayan lebih jauh,” tambahnya.

Sementara itu, Murdiyanto, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Lumajang, menjelaskan, distribusi biosolar mengalami kendala. Informasi yang diterima menyebutkan, cuaca ekstrem menyebabkan pendistribusian terganggu. Kapal-kapal pembawa bahan bakar kesulitan berlayar dan berlabuh. Akibatnya, keterlambatan pengiriman terjadi beberapa kali.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Akhir-akhir ini cuaca cukup ekstrem terjadi di sejumlah daerah. Tak terkecuali di kawasan pesisir. Ombak besar dan tinggi menyebabkan kapal kesulitan berlayar dan berlabuh. Akibatnya, distribusi biosolar dari kapal pembawa bahan bakar minyak (BBM) mengalami kendala.

Oleh karena itu, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mengalami kekosongan stok. Kosongnya BBM subsidi jenis biosolar itu dikeluhkan para sopir. Sebab, perjalanan mereka harus molor dari jadwal. Imbasnya, mereka harus menerima konsekuensi keterlambatan pengiriman barang.

“Terkadang konsumen itu tidak mau tahu ada peristiwa apa di jalan. Yang pasti, mereka ingin barangnya datang tepat waktu. Padahal, para sopir juga kesulitan jika ada antrean panjang atau kesulitan mengisi di pom (SPBU, Red),” keluh Anwar, sopir truk asal Jember.

Dia mengungkapkan, untuk mengantisipasi agar tidak terlambat, dia memutuskan untuk mengisi biosolar sebelum waktunya. Menurut dia, itu bisa menghindarkan dari antrean panjang di SPBU. Terlebih jika berada di jalan yang jauh dari SPBU. Tentu akan menyulitkan jika bahan bakar habis di tengah jalan. “Beberapa hari yang lalu pernah mau mengisi, tetapi biosolarnya habis. Jadi, terpaksa mengisi di SPBU selanjutnya dengan jarak tempuh lumayan lebih jauh,” tambahnya.

Sementara itu, Murdiyanto, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Lumajang, menjelaskan, distribusi biosolar mengalami kendala. Informasi yang diterima menyebutkan, cuaca ekstrem menyebabkan pendistribusian terganggu. Kapal-kapal pembawa bahan bakar kesulitan berlayar dan berlabuh. Akibatnya, keterlambatan pengiriman terjadi beberapa kali.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Akhir-akhir ini cuaca cukup ekstrem terjadi di sejumlah daerah. Tak terkecuali di kawasan pesisir. Ombak besar dan tinggi menyebabkan kapal kesulitan berlayar dan berlabuh. Akibatnya, distribusi biosolar dari kapal pembawa bahan bakar minyak (BBM) mengalami kendala.

Oleh karena itu, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mengalami kekosongan stok. Kosongnya BBM subsidi jenis biosolar itu dikeluhkan para sopir. Sebab, perjalanan mereka harus molor dari jadwal. Imbasnya, mereka harus menerima konsekuensi keterlambatan pengiriman barang.

“Terkadang konsumen itu tidak mau tahu ada peristiwa apa di jalan. Yang pasti, mereka ingin barangnya datang tepat waktu. Padahal, para sopir juga kesulitan jika ada antrean panjang atau kesulitan mengisi di pom (SPBU, Red),” keluh Anwar, sopir truk asal Jember.

Dia mengungkapkan, untuk mengantisipasi agar tidak terlambat, dia memutuskan untuk mengisi biosolar sebelum waktunya. Menurut dia, itu bisa menghindarkan dari antrean panjang di SPBU. Terlebih jika berada di jalan yang jauh dari SPBU. Tentu akan menyulitkan jika bahan bakar habis di tengah jalan. “Beberapa hari yang lalu pernah mau mengisi, tetapi biosolarnya habis. Jadi, terpaksa mengisi di SPBU selanjutnya dengan jarak tempuh lumayan lebih jauh,” tambahnya.

Sementara itu, Murdiyanto, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Lumajang, menjelaskan, distribusi biosolar mengalami kendala. Informasi yang diterima menyebutkan, cuaca ekstrem menyebabkan pendistribusian terganggu. Kapal-kapal pembawa bahan bakar kesulitan berlayar dan berlabuh. Akibatnya, keterlambatan pengiriman terjadi beberapa kali.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca