alexametrics
25 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Dampingi Orang Tua Sakit Hati

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Bertemu dengan banyak orang dengan karakter berbeda-beda tentu tidak mudah. Apalagi jika yang dihadapi adalah barisan orang-orang yang sakit hati. Beragam cara harus disiapkan. Sebab, setiap permasalahan berbeda solusi. Seperti yang dialami oleh Khamidatun Nissa’ beberapa tahun lalu.

Perempuan yang akrab disapa Nanis tersebut berbagi pengalamannya mendampingi kelompok orang tua yang sakit hati. Sebagai founder Math Science Club (MSC) Lumajang, dia sering menerima aduan dari para orang tua. Baik permasalahan kecil hingga masalah besar yang harus segera diselesaikan. “Saya dan teman-teman di MSC sering menerima aduan dari orang tua yang sakit hati. Terutama pada masalah zonasi sekolah,” ungkapnya, memulai cerita.

Menurutnya, zonasi sekolah yang diterapkan beberapa tahun ini menjadi polemik. Tidak hanya bagi sekolah, tetapi orang tua juga. Banyak orang tua yang pesimistis bahkan sakit hati. Sebab, anak-anak mereka yang berprestasi tidak dapat melanjutkan ke sekolah favorit.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Adanya zonasi sekolah memberikan efek luar biasa. Banyak orang tua sakit hati. Mereka tidak bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah yang dituju. Meski berprestasi dan memiliki sertifikat kejuaraan, pesaingnya sangat banyak. Di awal zonasi, hanya disediakan kuota jalur prestasi lima persen. Sedangkan mereka yang berprestasi jumlahnya banyak. Tentu ini tidak seimbang,” katanya.

Lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut menjelaskan, orang tua menjadi putus asa. Hal tersebut berdampak terhadap semangat belajar anak-anaknya. “Mereka putus asa. Bahkan beberapa menelepon saya seperti menyesal. Katanya, tidak penting lagi anak-anaknya ikut lomba dan juara. Toh, ujung-ujungnya mereka hanya sekolah di sekitar rumah saja. Hampir setiap hari kami menerima aduan tersebut. Itu membuat anak-anak menjadi tidak semangat belajar,” jelas perempuan yang pernah menjadi dosen di Unmuh Gresik tersebut.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Bertemu dengan banyak orang dengan karakter berbeda-beda tentu tidak mudah. Apalagi jika yang dihadapi adalah barisan orang-orang yang sakit hati. Beragam cara harus disiapkan. Sebab, setiap permasalahan berbeda solusi. Seperti yang dialami oleh Khamidatun Nissa’ beberapa tahun lalu.

Perempuan yang akrab disapa Nanis tersebut berbagi pengalamannya mendampingi kelompok orang tua yang sakit hati. Sebagai founder Math Science Club (MSC) Lumajang, dia sering menerima aduan dari para orang tua. Baik permasalahan kecil hingga masalah besar yang harus segera diselesaikan. “Saya dan teman-teman di MSC sering menerima aduan dari orang tua yang sakit hati. Terutama pada masalah zonasi sekolah,” ungkapnya, memulai cerita.

Menurutnya, zonasi sekolah yang diterapkan beberapa tahun ini menjadi polemik. Tidak hanya bagi sekolah, tetapi orang tua juga. Banyak orang tua yang pesimistis bahkan sakit hati. Sebab, anak-anak mereka yang berprestasi tidak dapat melanjutkan ke sekolah favorit.

“Adanya zonasi sekolah memberikan efek luar biasa. Banyak orang tua sakit hati. Mereka tidak bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah yang dituju. Meski berprestasi dan memiliki sertifikat kejuaraan, pesaingnya sangat banyak. Di awal zonasi, hanya disediakan kuota jalur prestasi lima persen. Sedangkan mereka yang berprestasi jumlahnya banyak. Tentu ini tidak seimbang,” katanya.

Lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut menjelaskan, orang tua menjadi putus asa. Hal tersebut berdampak terhadap semangat belajar anak-anaknya. “Mereka putus asa. Bahkan beberapa menelepon saya seperti menyesal. Katanya, tidak penting lagi anak-anaknya ikut lomba dan juara. Toh, ujung-ujungnya mereka hanya sekolah di sekitar rumah saja. Hampir setiap hari kami menerima aduan tersebut. Itu membuat anak-anak menjadi tidak semangat belajar,” jelas perempuan yang pernah menjadi dosen di Unmuh Gresik tersebut.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Bertemu dengan banyak orang dengan karakter berbeda-beda tentu tidak mudah. Apalagi jika yang dihadapi adalah barisan orang-orang yang sakit hati. Beragam cara harus disiapkan. Sebab, setiap permasalahan berbeda solusi. Seperti yang dialami oleh Khamidatun Nissa’ beberapa tahun lalu.

Perempuan yang akrab disapa Nanis tersebut berbagi pengalamannya mendampingi kelompok orang tua yang sakit hati. Sebagai founder Math Science Club (MSC) Lumajang, dia sering menerima aduan dari para orang tua. Baik permasalahan kecil hingga masalah besar yang harus segera diselesaikan. “Saya dan teman-teman di MSC sering menerima aduan dari orang tua yang sakit hati. Terutama pada masalah zonasi sekolah,” ungkapnya, memulai cerita.

Menurutnya, zonasi sekolah yang diterapkan beberapa tahun ini menjadi polemik. Tidak hanya bagi sekolah, tetapi orang tua juga. Banyak orang tua yang pesimistis bahkan sakit hati. Sebab, anak-anak mereka yang berprestasi tidak dapat melanjutkan ke sekolah favorit.

“Adanya zonasi sekolah memberikan efek luar biasa. Banyak orang tua sakit hati. Mereka tidak bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah yang dituju. Meski berprestasi dan memiliki sertifikat kejuaraan, pesaingnya sangat banyak. Di awal zonasi, hanya disediakan kuota jalur prestasi lima persen. Sedangkan mereka yang berprestasi jumlahnya banyak. Tentu ini tidak seimbang,” katanya.

Lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut menjelaskan, orang tua menjadi putus asa. Hal tersebut berdampak terhadap semangat belajar anak-anaknya. “Mereka putus asa. Bahkan beberapa menelepon saya seperti menyesal. Katanya, tidak penting lagi anak-anaknya ikut lomba dan juara. Toh, ujung-ujungnya mereka hanya sekolah di sekitar rumah saja. Hampir setiap hari kami menerima aduan tersebut. Itu membuat anak-anak menjadi tidak semangat belajar,” jelas perempuan yang pernah menjadi dosen di Unmuh Gresik tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/