alexametrics
32.2 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Tetap Bertahan demi Penuhi Permintaan

Harga Kedelai Tembus Rp 10 Ribu, Produsen Menyiasati Ukuran

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Aktivitas produksi tempe dan tahu di Desa Bagusari, Jogotrunan, tetap berjalan. Meski harga kedelai tembus Rp 10 ribu per kilogram, mereka memilih bertahan. Sebab, tidak ada tanda-tanda penurunan permintaan. Oleh karena itu, produksi tetap dilakukan.
Safik, salah satu produsen tempe dan tahu di Desa Bagusari, mengatakan, harga kedelai per kilogram memang mahal. Kondisi tersebut berlangsung selama lima bulan. “Kurang lebih lima bulan, harga kedelai stabil. Sekitar Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu. Padahal dulu Rp 6 Ribu,” katanya.
Dia mengungkapkan, harga tersebut karena kenaikan harga kedelai dunia. Terutama dari Amerika. Sebab, selama ini, dia dan beberapa produsen lainnya impor kedelai Amerika. “Kami impor dari Amerika melalui agen-agen yang ada di Lumajang. Karena di sini, petani kedelai tidak mencukupi kebutuhan kedelai produsen tempe dan tahu,” ungkapnya.
Akibat kenaikan harga tersebut, dia menerima banyak keluhan. Baik dari pedagang mlijo hingga konsumen rumahan. Agar tetap produksi, dia menyiasati produk dengan mengecilkan ukuran. “Banyak keluhan yang kami terima. Otomatis, agar konsumen tetap membeli, ukurannya dikecilkan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, ukuran produk biasanya dapat dikonsumsi dua orang. Namun, setelah dikecilkan, irisan tempe atau tahu hanya cukup untuk satu orang. “Kalau tempe, irisannya diperkecil. Biasanya bisa untuk dimakan dua orang. Kalau kecil begini ya cukup satu orang. Malah, bisa kurang untuk dimakan satu orang. Kalau tahu, irisannya tetap, tetapi harganya naik,” jelasnya.
Menurut Safik, hal itu sebagai strategi bertahan para produsen. Sebab, modal untuk usaha tetap bisa berjalan. Akan tetapi, jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, para produsen bisa rugi dan gulung tikar. “Selama ini, kami masih bertahan. Bayangkan saja, jika kami mogok kerja, berapa banyak orang yang tidak akan makan tempe dan tahu. Apalagi di Lumajang, Bagusari jadi produsen tempe terbesar,” ucapnya.
Safik berharap, pemerintah segera menurunkan harga kedelai. Sehingga para produsen tetap mendapat keuntungan dari setiap penjualan. “Kalau bisa, harganya diturunkan. Jika tidak, minimal distabilkan, jangan terlalu mahal. Imbasnya ke kami yang produksi. Karena jumlah produksinya bermacam-macam. Misalnya mereka yang produksi hanya 50 kilogram per hari, ya rugi,” harapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Aktivitas produksi tempe dan tahu di Desa Bagusari, Jogotrunan, tetap berjalan. Meski harga kedelai tembus Rp 10 ribu per kilogram, mereka memilih bertahan. Sebab, tidak ada tanda-tanda penurunan permintaan. Oleh karena itu, produksi tetap dilakukan.
Safik, salah satu produsen tempe dan tahu di Desa Bagusari, mengatakan, harga kedelai per kilogram memang mahal. Kondisi tersebut berlangsung selama lima bulan. “Kurang lebih lima bulan, harga kedelai stabil. Sekitar Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu. Padahal dulu Rp 6 Ribu,” katanya.
Dia mengungkapkan, harga tersebut karena kenaikan harga kedelai dunia. Terutama dari Amerika. Sebab, selama ini, dia dan beberapa produsen lainnya impor kedelai Amerika. “Kami impor dari Amerika melalui agen-agen yang ada di Lumajang. Karena di sini, petani kedelai tidak mencukupi kebutuhan kedelai produsen tempe dan tahu,” ungkapnya.
Akibat kenaikan harga tersebut, dia menerima banyak keluhan. Baik dari pedagang mlijo hingga konsumen rumahan. Agar tetap produksi, dia menyiasati produk dengan mengecilkan ukuran. “Banyak keluhan yang kami terima. Otomatis, agar konsumen tetap membeli, ukurannya dikecilkan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, ukuran produk biasanya dapat dikonsumsi dua orang. Namun, setelah dikecilkan, irisan tempe atau tahu hanya cukup untuk satu orang. “Kalau tempe, irisannya diperkecil. Biasanya bisa untuk dimakan dua orang. Kalau kecil begini ya cukup satu orang. Malah, bisa kurang untuk dimakan satu orang. Kalau tahu, irisannya tetap, tetapi harganya naik,” jelasnya.
Menurut Safik, hal itu sebagai strategi bertahan para produsen. Sebab, modal untuk usaha tetap bisa berjalan. Akan tetapi, jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, para produsen bisa rugi dan gulung tikar. “Selama ini, kami masih bertahan. Bayangkan saja, jika kami mogok kerja, berapa banyak orang yang tidak akan makan tempe dan tahu. Apalagi di Lumajang, Bagusari jadi produsen tempe terbesar,” ucapnya.
Safik berharap, pemerintah segera menurunkan harga kedelai. Sehingga para produsen tetap mendapat keuntungan dari setiap penjualan. “Kalau bisa, harganya diturunkan. Jika tidak, minimal distabilkan, jangan terlalu mahal. Imbasnya ke kami yang produksi. Karena jumlah produksinya bermacam-macam. Misalnya mereka yang produksi hanya 50 kilogram per hari, ya rugi,” harapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Aktivitas produksi tempe dan tahu di Desa Bagusari, Jogotrunan, tetap berjalan. Meski harga kedelai tembus Rp 10 ribu per kilogram, mereka memilih bertahan. Sebab, tidak ada tanda-tanda penurunan permintaan. Oleh karena itu, produksi tetap dilakukan.
Safik, salah satu produsen tempe dan tahu di Desa Bagusari, mengatakan, harga kedelai per kilogram memang mahal. Kondisi tersebut berlangsung selama lima bulan. “Kurang lebih lima bulan, harga kedelai stabil. Sekitar Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu. Padahal dulu Rp 6 Ribu,” katanya.
Dia mengungkapkan, harga tersebut karena kenaikan harga kedelai dunia. Terutama dari Amerika. Sebab, selama ini, dia dan beberapa produsen lainnya impor kedelai Amerika. “Kami impor dari Amerika melalui agen-agen yang ada di Lumajang. Karena di sini, petani kedelai tidak mencukupi kebutuhan kedelai produsen tempe dan tahu,” ungkapnya.
Akibat kenaikan harga tersebut, dia menerima banyak keluhan. Baik dari pedagang mlijo hingga konsumen rumahan. Agar tetap produksi, dia menyiasati produk dengan mengecilkan ukuran. “Banyak keluhan yang kami terima. Otomatis, agar konsumen tetap membeli, ukurannya dikecilkan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, ukuran produk biasanya dapat dikonsumsi dua orang. Namun, setelah dikecilkan, irisan tempe atau tahu hanya cukup untuk satu orang. “Kalau tempe, irisannya diperkecil. Biasanya bisa untuk dimakan dua orang. Kalau kecil begini ya cukup satu orang. Malah, bisa kurang untuk dimakan satu orang. Kalau tahu, irisannya tetap, tetapi harganya naik,” jelasnya.
Menurut Safik, hal itu sebagai strategi bertahan para produsen. Sebab, modal untuk usaha tetap bisa berjalan. Akan tetapi, jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, para produsen bisa rugi dan gulung tikar. “Selama ini, kami masih bertahan. Bayangkan saja, jika kami mogok kerja, berapa banyak orang yang tidak akan makan tempe dan tahu. Apalagi di Lumajang, Bagusari jadi produsen tempe terbesar,” ucapnya.
Safik berharap, pemerintah segera menurunkan harga kedelai. Sehingga para produsen tetap mendapat keuntungan dari setiap penjualan. “Kalau bisa, harganya diturunkan. Jika tidak, minimal distabilkan, jangan terlalu mahal. Imbasnya ke kami yang produksi. Karena jumlah produksinya bermacam-macam. Misalnya mereka yang produksi hanya 50 kilogram per hari, ya rugi,” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/