alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Banjir Informasi tapi Minim Literasi

Novi Istina, Aktivis Literasi dan Pendiri Forum Lingkar Pena di Lumajang Belajar dan mengenyam pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) membuat Novi Istina melakukan gebrakan perubahan. November 2015, dia menjadi inisiator pendirian Forum Lingkar Pena (FLP) Lumajang. Dan di masa pandemi, sebuah penerbitan sederhana berhasil dia wujudkan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perempuan berkacamata itu ramah memperkenalkan diri dalam program Radar Semeru TV di Obrolan Perempuan, akhir pekan kemarin. Dipandu oleh Silvi Asna, perempuan yang akrab disapa Bunda Novi itu menjelaskan suka duka dunia literasi yang dilalui.
Perempuan ini menceritakan pengalaman diskusi literasi di Malang membuatnya mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Lumajang. Hal itu dilakukan sebagai bentuk komitmen meningkatkan literasi. “Awalnya, hanya diskusi di Malang dari tahun 2002 sampai 2012. Nah, saat balik ke Lumajang, saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Akhirnya saya beranikan diri dirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Lumajang,” ujarnya.
Sempat mengajar anak sekolah dasar (SD) selama lima tahun di Lumajang, Novi mengakui literasi masyarakat masih rendah. Untuk itu, dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk meningkatkannya. “Fenomena saat ini, anak-anak lebih suka hal-hal yang viral dan rating-nya tinggi. Apalagi indeks pembangunan manusia (IPM) di Lumajang sangat rendah. Makanya, harus ada usaha yang lebih besar untuk peningkatan literasi,” katanya.
Literasi, lanjut dia, menjadi bagian penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, pendirian FLP Lumajang diharapkan mampu meningkatkan minat literasi masyarakat. Sebab, selama ini, masyarakat enggan untuk memahami literasi dengan serius dan mendalam. “Kita sangat butuh literasi pencerahan. Terutama di masa pandemi. Karena masih banyak orang tidak memahami hal tersebut. Misalnya saja mereka mendapatkan informasi tertentu, langsung membagikan ke yang lain tapa disaring dahulu,” jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri di masa pandemi. Sebab, tidak semua literasi, khususnya literasi digital, memberikan edukasi. Sehingga literasi pencerahan menjadi jawaban rendahnya literasi di Lumajang.
“Kami berkomitmen untuk membawa literasi dan hal-hal lain yang bermisi pencerahan. Selain mencerahkan, itu akan menginspirasi masyarakat Lumajang untuk sadar literasi. Bagi penulis, itu tidak sekadar menulis untuk menghasilkan uang. Tetapi, bagaimana tulisan itu dapat dipertanggungjawabkan ke depan,” tuturnya.
Di era digital sekarang, dia berpesan, masyarakat harus berhati-hati. Sebab, jumlah informasi yang ada tidak terbendung. “Kalau dulu, kita yang mencari informasi, saat ini kita kebanjiran informasi. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam dunia sosial media, terutama berkenaan dengan literasi. Sebab, jarimu harimaumu,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perempuan berkacamata itu ramah memperkenalkan diri dalam program Radar Semeru TV di Obrolan Perempuan, akhir pekan kemarin. Dipandu oleh Silvi Asna, perempuan yang akrab disapa Bunda Novi itu menjelaskan suka duka dunia literasi yang dilalui.
Perempuan ini menceritakan pengalaman diskusi literasi di Malang membuatnya mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Lumajang. Hal itu dilakukan sebagai bentuk komitmen meningkatkan literasi. “Awalnya, hanya diskusi di Malang dari tahun 2002 sampai 2012. Nah, saat balik ke Lumajang, saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Akhirnya saya beranikan diri dirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Lumajang,” ujarnya.
Sempat mengajar anak sekolah dasar (SD) selama lima tahun di Lumajang, Novi mengakui literasi masyarakat masih rendah. Untuk itu, dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk meningkatkannya. “Fenomena saat ini, anak-anak lebih suka hal-hal yang viral dan rating-nya tinggi. Apalagi indeks pembangunan manusia (IPM) di Lumajang sangat rendah. Makanya, harus ada usaha yang lebih besar untuk peningkatan literasi,” katanya.
Literasi, lanjut dia, menjadi bagian penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, pendirian FLP Lumajang diharapkan mampu meningkatkan minat literasi masyarakat. Sebab, selama ini, masyarakat enggan untuk memahami literasi dengan serius dan mendalam. “Kita sangat butuh literasi pencerahan. Terutama di masa pandemi. Karena masih banyak orang tidak memahami hal tersebut. Misalnya saja mereka mendapatkan informasi tertentu, langsung membagikan ke yang lain tapa disaring dahulu,” jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri di masa pandemi. Sebab, tidak semua literasi, khususnya literasi digital, memberikan edukasi. Sehingga literasi pencerahan menjadi jawaban rendahnya literasi di Lumajang.
“Kami berkomitmen untuk membawa literasi dan hal-hal lain yang bermisi pencerahan. Selain mencerahkan, itu akan menginspirasi masyarakat Lumajang untuk sadar literasi. Bagi penulis, itu tidak sekadar menulis untuk menghasilkan uang. Tetapi, bagaimana tulisan itu dapat dipertanggungjawabkan ke depan,” tuturnya.
Di era digital sekarang, dia berpesan, masyarakat harus berhati-hati. Sebab, jumlah informasi yang ada tidak terbendung. “Kalau dulu, kita yang mencari informasi, saat ini kita kebanjiran informasi. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam dunia sosial media, terutama berkenaan dengan literasi. Sebab, jarimu harimaumu,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perempuan berkacamata itu ramah memperkenalkan diri dalam program Radar Semeru TV di Obrolan Perempuan, akhir pekan kemarin. Dipandu oleh Silvi Asna, perempuan yang akrab disapa Bunda Novi itu menjelaskan suka duka dunia literasi yang dilalui.
Perempuan ini menceritakan pengalaman diskusi literasi di Malang membuatnya mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Lumajang. Hal itu dilakukan sebagai bentuk komitmen meningkatkan literasi. “Awalnya, hanya diskusi di Malang dari tahun 2002 sampai 2012. Nah, saat balik ke Lumajang, saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Akhirnya saya beranikan diri dirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Lumajang,” ujarnya.
Sempat mengajar anak sekolah dasar (SD) selama lima tahun di Lumajang, Novi mengakui literasi masyarakat masih rendah. Untuk itu, dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk meningkatkannya. “Fenomena saat ini, anak-anak lebih suka hal-hal yang viral dan rating-nya tinggi. Apalagi indeks pembangunan manusia (IPM) di Lumajang sangat rendah. Makanya, harus ada usaha yang lebih besar untuk peningkatan literasi,” katanya.
Literasi, lanjut dia, menjadi bagian penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, pendirian FLP Lumajang diharapkan mampu meningkatkan minat literasi masyarakat. Sebab, selama ini, masyarakat enggan untuk memahami literasi dengan serius dan mendalam. “Kita sangat butuh literasi pencerahan. Terutama di masa pandemi. Karena masih banyak orang tidak memahami hal tersebut. Misalnya saja mereka mendapatkan informasi tertentu, langsung membagikan ke yang lain tapa disaring dahulu,” jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri di masa pandemi. Sebab, tidak semua literasi, khususnya literasi digital, memberikan edukasi. Sehingga literasi pencerahan menjadi jawaban rendahnya literasi di Lumajang.
“Kami berkomitmen untuk membawa literasi dan hal-hal lain yang bermisi pencerahan. Selain mencerahkan, itu akan menginspirasi masyarakat Lumajang untuk sadar literasi. Bagi penulis, itu tidak sekadar menulis untuk menghasilkan uang. Tetapi, bagaimana tulisan itu dapat dipertanggungjawabkan ke depan,” tuturnya.
Di era digital sekarang, dia berpesan, masyarakat harus berhati-hati. Sebab, jumlah informasi yang ada tidak terbendung. “Kalau dulu, kita yang mencari informasi, saat ini kita kebanjiran informasi. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam dunia sosial media, terutama berkenaan dengan literasi. Sebab, jarimu harimaumu,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/