alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Beda Instansi Bisa Beragam

Motif batik yang biasanya digunakan untuk sembong, udeng, dan jarit dalam pakaian khas Lumajangan memang tidak sepenuhnya sama. Ada yang berwarna coklat hingga kehijau-hijauan. Maklum saja, belum ada pakem warna yang jelas.

Mobile_AP_Rectangle 1

 LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beragamnya jenis kain dan warna batik yang digunakan untuk pemakaian PKL memang perlu dipertegas. Sebab, ada dua jenis kain dan tiga warna yang dipakai. Apalagi ternyata setelah ditelusuri bahan dasar jarit, sembong, dan udeng itu bikinan orang luar daerah, yaitu Solo.

Dalam sejarahnya, penetapan kain batik khas Lumajangan memang dilakukan pada tahun 2006. Kemudian, beberapa tahun berikutnya, geliat para perajin batik mulai bermunculan. Sayangnya, sampai sekarang tidak ada satu pun yang memahami betul karakter dan sifat batik yang digunakan setiap pertengahan bulan itu.

Khaidar Rokhiq, salah satu perajin batik asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, mengatakan, pihaknya tidak mengetahui betul asal muasal jenis kain batik yang digunakan pegawai untuk pakaian dinas lainnya. Namun yang jelas, kain batik itu memiliki motif buah pisang dan gapura.

Mobile_AP_Rectangle 2

Paguyuban perajin batik Lumajang memang sempat vakum beberapa waktu, namun menurutnya, tak ada satu pun perajin batik yang membuat jenis dan kain batik tersebut. Sehingga pihaknya hanya menerima pesanan untuk pembuatan PKL dengan jenis dan warna yang sudah ditentukan pembeli.

“Di Lumajang tidak ada yang bikin kain batik itu. Kebanyakan para perajin yang dapat pesanan baju PKL ya harus pesan dulu dari Solo. Seharusnya enakan bisa produksi sendiri di Lumajang. Itu eman, kalau misalkan Lumajang bisa produksi sendiri, harganya bisa sedikit murah,” ucapnya.

Menurut dia, pihaknya tidak bisa membendung beragamnya batik PKL. Sebab, permintaan sudah telanjur banyak. “Mau tidak mau memang kami layani. Karena tidak ada standar pembuatan baju khas itu. Kami hanya menerima pesanan dan membuatkan dengan sebaik mungkin,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan

- Advertisement -

 LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beragamnya jenis kain dan warna batik yang digunakan untuk pemakaian PKL memang perlu dipertegas. Sebab, ada dua jenis kain dan tiga warna yang dipakai. Apalagi ternyata setelah ditelusuri bahan dasar jarit, sembong, dan udeng itu bikinan orang luar daerah, yaitu Solo.

Dalam sejarahnya, penetapan kain batik khas Lumajangan memang dilakukan pada tahun 2006. Kemudian, beberapa tahun berikutnya, geliat para perajin batik mulai bermunculan. Sayangnya, sampai sekarang tidak ada satu pun yang memahami betul karakter dan sifat batik yang digunakan setiap pertengahan bulan itu.

Khaidar Rokhiq, salah satu perajin batik asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, mengatakan, pihaknya tidak mengetahui betul asal muasal jenis kain batik yang digunakan pegawai untuk pakaian dinas lainnya. Namun yang jelas, kain batik itu memiliki motif buah pisang dan gapura.

Paguyuban perajin batik Lumajang memang sempat vakum beberapa waktu, namun menurutnya, tak ada satu pun perajin batik yang membuat jenis dan kain batik tersebut. Sehingga pihaknya hanya menerima pesanan untuk pembuatan PKL dengan jenis dan warna yang sudah ditentukan pembeli.

“Di Lumajang tidak ada yang bikin kain batik itu. Kebanyakan para perajin yang dapat pesanan baju PKL ya harus pesan dulu dari Solo. Seharusnya enakan bisa produksi sendiri di Lumajang. Itu eman, kalau misalkan Lumajang bisa produksi sendiri, harganya bisa sedikit murah,” ucapnya.

Menurut dia, pihaknya tidak bisa membendung beragamnya batik PKL. Sebab, permintaan sudah telanjur banyak. “Mau tidak mau memang kami layani. Karena tidak ada standar pembuatan baju khas itu. Kami hanya menerima pesanan dan membuatkan dengan sebaik mungkin,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan

 LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Beragamnya jenis kain dan warna batik yang digunakan untuk pemakaian PKL memang perlu dipertegas. Sebab, ada dua jenis kain dan tiga warna yang dipakai. Apalagi ternyata setelah ditelusuri bahan dasar jarit, sembong, dan udeng itu bikinan orang luar daerah, yaitu Solo.

Dalam sejarahnya, penetapan kain batik khas Lumajangan memang dilakukan pada tahun 2006. Kemudian, beberapa tahun berikutnya, geliat para perajin batik mulai bermunculan. Sayangnya, sampai sekarang tidak ada satu pun yang memahami betul karakter dan sifat batik yang digunakan setiap pertengahan bulan itu.

Khaidar Rokhiq, salah satu perajin batik asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, mengatakan, pihaknya tidak mengetahui betul asal muasal jenis kain batik yang digunakan pegawai untuk pakaian dinas lainnya. Namun yang jelas, kain batik itu memiliki motif buah pisang dan gapura.

Paguyuban perajin batik Lumajang memang sempat vakum beberapa waktu, namun menurutnya, tak ada satu pun perajin batik yang membuat jenis dan kain batik tersebut. Sehingga pihaknya hanya menerima pesanan untuk pembuatan PKL dengan jenis dan warna yang sudah ditentukan pembeli.

“Di Lumajang tidak ada yang bikin kain batik itu. Kebanyakan para perajin yang dapat pesanan baju PKL ya harus pesan dulu dari Solo. Seharusnya enakan bisa produksi sendiri di Lumajang. Itu eman, kalau misalkan Lumajang bisa produksi sendiri, harganya bisa sedikit murah,” ucapnya.

Menurut dia, pihaknya tidak bisa membendung beragamnya batik PKL. Sebab, permintaan sudah telanjur banyak. “Mau tidak mau memang kami layani. Karena tidak ada standar pembuatan baju khas itu. Kami hanya menerima pesanan dan membuatkan dengan sebaik mungkin,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/