alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Beda Instansi Bisa Beragam

Motif batik yang biasanya digunakan untuk sembong, udeng, dan jarit dalam pakaian khas Lumajangan memang tidak sepenuhnya sama. Ada yang berwarna coklat hingga kehijau-hijauan. Maklum saja, belum ada pakem warna yang jelas.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sejak seluruh instansi pemerintahan diwajibkan memakai pakaian khas Lumajang (PKL), cukup banyak yang memaknai beragam. Banyak yang menerjemahkan kata khas menurut pandangan dan pemikirannya sendiri-sendiri. Buktinya, pemilihan warna dan jenis kainnya beragam.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, detail PKL secara terperinci memang belum diatur. Akibatnya, baju perempuan dan laki-laki yang seharusnya bisa dibanggakan tidak seragam. Antarlembaga pemerintahan, baik sekolah, kantor desa, kantor kecamatan, maupun kantor dinas, tidak sama.

Setelah diteliti, penyebab keberagaman tersebut mengarah pada Peraturan Bupati Nomor 23 Tahun 2016. Di dalamnya mengatur motif batik yang harus digunakan, yaitu batik Sidodrajad. Padahal, motif batik tersebut merupakan kain batik yang berasal dari Keraton Jogjakarta, bukan Lumajang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Khaidar Rokhiq, salah satu perajin batik asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, mengatakan, pihaknya sempat kebingungan membuatkan PKL yang sesuai dengan ketentuan. Sehingga, pihaknya hanya memenuhi kebutuhan permintaan saja. “Tidak ada aturan standar untuk pedoman kami,” ungkapnya.

Sekretaris Daerah Lumajang Agus Triyono ketika dikonfirmasi mengenai kesamaan nama motif batik antara Lumajang dengan Keraton Jogjakarta, mengaku memang tidak ada masalah. Sebab, menurutnya, motif batik tersebut tidak harus diperdebatkan asal muasalnya. Bahkan, perbedaan jenis dan warna kain setiap dinas juga sangat wajar.

“Menurut saya, itu motif batik, tidak harus diperdebatkan asalnya. Ya tidak harus sama persis, kan memang swadaya. Kecuali kalau pengadaan dengan menggunakan dana APBD. Yang pakem ya sesuai contoh,” katanya.

Ada dua jenis batik yang digunakan untuk sembong, jarit, serta udeng yang dipakai setiap instansi pemerintahan. Pertama adalah jenis prima dan kedua jenis primis. Sehingga warnanya pun berkembang menjadi tiga. Warna batik yang cenderung ke warna coklat, sedikit putih, dan warna hijau.

Selain batik, warna kebaya yang biasanya dikenakan perempuan pun kadang berbeda-beda. Ada yang berwarna merah muda hingga jingga. Padahal, menurut perbup sudah diatur dengan cukup jelas, modelnya harus model Kartinian dengan warna kuning blewah.

 

Kain Batiknya Berasal dari Solo

BIKIN UDENG: Salah satu perajin asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, saat membuat udeng yang digunakan untuk pelengkap pakaian khas Lumajang (PKL). Ada dua jenis dan tiga warna kain batik yang beredar.
- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sejak seluruh instansi pemerintahan diwajibkan memakai pakaian khas Lumajang (PKL), cukup banyak yang memaknai beragam. Banyak yang menerjemahkan kata khas menurut pandangan dan pemikirannya sendiri-sendiri. Buktinya, pemilihan warna dan jenis kainnya beragam.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, detail PKL secara terperinci memang belum diatur. Akibatnya, baju perempuan dan laki-laki yang seharusnya bisa dibanggakan tidak seragam. Antarlembaga pemerintahan, baik sekolah, kantor desa, kantor kecamatan, maupun kantor dinas, tidak sama.

Setelah diteliti, penyebab keberagaman tersebut mengarah pada Peraturan Bupati Nomor 23 Tahun 2016. Di dalamnya mengatur motif batik yang harus digunakan, yaitu batik Sidodrajad. Padahal, motif batik tersebut merupakan kain batik yang berasal dari Keraton Jogjakarta, bukan Lumajang.

Khaidar Rokhiq, salah satu perajin batik asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, mengatakan, pihaknya sempat kebingungan membuatkan PKL yang sesuai dengan ketentuan. Sehingga, pihaknya hanya memenuhi kebutuhan permintaan saja. “Tidak ada aturan standar untuk pedoman kami,” ungkapnya.

Sekretaris Daerah Lumajang Agus Triyono ketika dikonfirmasi mengenai kesamaan nama motif batik antara Lumajang dengan Keraton Jogjakarta, mengaku memang tidak ada masalah. Sebab, menurutnya, motif batik tersebut tidak harus diperdebatkan asal muasalnya. Bahkan, perbedaan jenis dan warna kain setiap dinas juga sangat wajar.

“Menurut saya, itu motif batik, tidak harus diperdebatkan asalnya. Ya tidak harus sama persis, kan memang swadaya. Kecuali kalau pengadaan dengan menggunakan dana APBD. Yang pakem ya sesuai contoh,” katanya.

Ada dua jenis batik yang digunakan untuk sembong, jarit, serta udeng yang dipakai setiap instansi pemerintahan. Pertama adalah jenis prima dan kedua jenis primis. Sehingga warnanya pun berkembang menjadi tiga. Warna batik yang cenderung ke warna coklat, sedikit putih, dan warna hijau.

Selain batik, warna kebaya yang biasanya dikenakan perempuan pun kadang berbeda-beda. Ada yang berwarna merah muda hingga jingga. Padahal, menurut perbup sudah diatur dengan cukup jelas, modelnya harus model Kartinian dengan warna kuning blewah.

 

Kain Batiknya Berasal dari Solo

BIKIN UDENG: Salah satu perajin asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, saat membuat udeng yang digunakan untuk pelengkap pakaian khas Lumajang (PKL). Ada dua jenis dan tiga warna kain batik yang beredar.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sejak seluruh instansi pemerintahan diwajibkan memakai pakaian khas Lumajang (PKL), cukup banyak yang memaknai beragam. Banyak yang menerjemahkan kata khas menurut pandangan dan pemikirannya sendiri-sendiri. Buktinya, pemilihan warna dan jenis kainnya beragam.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, detail PKL secara terperinci memang belum diatur. Akibatnya, baju perempuan dan laki-laki yang seharusnya bisa dibanggakan tidak seragam. Antarlembaga pemerintahan, baik sekolah, kantor desa, kantor kecamatan, maupun kantor dinas, tidak sama.

Setelah diteliti, penyebab keberagaman tersebut mengarah pada Peraturan Bupati Nomor 23 Tahun 2016. Di dalamnya mengatur motif batik yang harus digunakan, yaitu batik Sidodrajad. Padahal, motif batik tersebut merupakan kain batik yang berasal dari Keraton Jogjakarta, bukan Lumajang.

Khaidar Rokhiq, salah satu perajin batik asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, mengatakan, pihaknya sempat kebingungan membuatkan PKL yang sesuai dengan ketentuan. Sehingga, pihaknya hanya memenuhi kebutuhan permintaan saja. “Tidak ada aturan standar untuk pedoman kami,” ungkapnya.

Sekretaris Daerah Lumajang Agus Triyono ketika dikonfirmasi mengenai kesamaan nama motif batik antara Lumajang dengan Keraton Jogjakarta, mengaku memang tidak ada masalah. Sebab, menurutnya, motif batik tersebut tidak harus diperdebatkan asal muasalnya. Bahkan, perbedaan jenis dan warna kain setiap dinas juga sangat wajar.

“Menurut saya, itu motif batik, tidak harus diperdebatkan asalnya. Ya tidak harus sama persis, kan memang swadaya. Kecuali kalau pengadaan dengan menggunakan dana APBD. Yang pakem ya sesuai contoh,” katanya.

Ada dua jenis batik yang digunakan untuk sembong, jarit, serta udeng yang dipakai setiap instansi pemerintahan. Pertama adalah jenis prima dan kedua jenis primis. Sehingga warnanya pun berkembang menjadi tiga. Warna batik yang cenderung ke warna coklat, sedikit putih, dan warna hijau.

Selain batik, warna kebaya yang biasanya dikenakan perempuan pun kadang berbeda-beda. Ada yang berwarna merah muda hingga jingga. Padahal, menurut perbup sudah diatur dengan cukup jelas, modelnya harus model Kartinian dengan warna kuning blewah.

 

Kain Batiknya Berasal dari Solo

BIKIN UDENG: Salah satu perajin asal Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, saat membuat udeng yang digunakan untuk pelengkap pakaian khas Lumajang (PKL). Ada dua jenis dan tiga warna kain batik yang beredar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/