alexametrics
22.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Implementasi Kurikulum Merdeka di Lumajang

Tiga hari masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) telah selesai, kemarin. Selanjutnya, siswa bakal mengikuti pembelajaran normal di masing-masing jenjang. Tahun ajaran baru ini, implementasi kurikulum merdeka mulai diterapkan.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) resmi dimulai awal pekan ini. Tentu, setiap lembaga pendidikan harus beradaptasi terhadap proses pembelajaran. Sebab, IKM memberikan kebebasan bagi guru mengekespresikan diri dalam proses belajar-mengajar.

Tekankan Pembelajaran Berbasis IT

Implementasi ini tidak diberlakukan kepada semua lembaga. Sebab, ada beragam rangkaian yang harus dilakukan sebelum menerpkan kurikulum merdeka. Termasuk juga tidak seluruh jenjang kelas menggunakan IKM dalam pembelajarannya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jenjang SD/MI, IKM dilakukan bagi siswa kelas satu dan empat. Di jenjang SMP/MTs, IKM dilaksanakan untuk siswa kelas satu atau tujuh. Sementara di jenjang SMA/MA, IKM diterapkan bagi siswa kelas satu atau sepuluh. Selain jenjang itu, proses belajar-mengajar dengan Kurikulum tahun 2013 atau K-13d.

Kepala SMP N 5 Lumajang Isnentin mengatakan, IKM mampu menumbuhkan semangat dan kreativitas guru serta siswa. Menurutnya, kebebasan proses belajar itu dapat diekspresikan dalam bentuk apapun. Yang jelas, kebebasan belajar-mengajar itu tetap dalam aturan dan mekanisme sesuai kurikulum.

“Artinya, guru dibebaskan menciptakan suasana belajar di masing-masing kelas yang diajar. Karena bebas berekspresi, setiap sekolah bisa jadi berbeda pembelajarannya. Meski berbeda, aturannya tidak boleh dilanggar,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) resmi dimulai awal pekan ini. Tentu, setiap lembaga pendidikan harus beradaptasi terhadap proses pembelajaran. Sebab, IKM memberikan kebebasan bagi guru mengekespresikan diri dalam proses belajar-mengajar.

Tekankan Pembelajaran Berbasis IT

Implementasi ini tidak diberlakukan kepada semua lembaga. Sebab, ada beragam rangkaian yang harus dilakukan sebelum menerpkan kurikulum merdeka. Termasuk juga tidak seluruh jenjang kelas menggunakan IKM dalam pembelajarannya.

Jenjang SD/MI, IKM dilakukan bagi siswa kelas satu dan empat. Di jenjang SMP/MTs, IKM dilaksanakan untuk siswa kelas satu atau tujuh. Sementara di jenjang SMA/MA, IKM diterapkan bagi siswa kelas satu atau sepuluh. Selain jenjang itu, proses belajar-mengajar dengan Kurikulum tahun 2013 atau K-13d.

Kepala SMP N 5 Lumajang Isnentin mengatakan, IKM mampu menumbuhkan semangat dan kreativitas guru serta siswa. Menurutnya, kebebasan proses belajar itu dapat diekspresikan dalam bentuk apapun. Yang jelas, kebebasan belajar-mengajar itu tetap dalam aturan dan mekanisme sesuai kurikulum.

“Artinya, guru dibebaskan menciptakan suasana belajar di masing-masing kelas yang diajar. Karena bebas berekspresi, setiap sekolah bisa jadi berbeda pembelajarannya. Meski berbeda, aturannya tidak boleh dilanggar,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) resmi dimulai awal pekan ini. Tentu, setiap lembaga pendidikan harus beradaptasi terhadap proses pembelajaran. Sebab, IKM memberikan kebebasan bagi guru mengekespresikan diri dalam proses belajar-mengajar.

Tekankan Pembelajaran Berbasis IT

Implementasi ini tidak diberlakukan kepada semua lembaga. Sebab, ada beragam rangkaian yang harus dilakukan sebelum menerpkan kurikulum merdeka. Termasuk juga tidak seluruh jenjang kelas menggunakan IKM dalam pembelajarannya.

Jenjang SD/MI, IKM dilakukan bagi siswa kelas satu dan empat. Di jenjang SMP/MTs, IKM dilaksanakan untuk siswa kelas satu atau tujuh. Sementara di jenjang SMA/MA, IKM diterapkan bagi siswa kelas satu atau sepuluh. Selain jenjang itu, proses belajar-mengajar dengan Kurikulum tahun 2013 atau K-13d.

Kepala SMP N 5 Lumajang Isnentin mengatakan, IKM mampu menumbuhkan semangat dan kreativitas guru serta siswa. Menurutnya, kebebasan proses belajar itu dapat diekspresikan dalam bentuk apapun. Yang jelas, kebebasan belajar-mengajar itu tetap dalam aturan dan mekanisme sesuai kurikulum.

“Artinya, guru dibebaskan menciptakan suasana belajar di masing-masing kelas yang diajar. Karena bebas berekspresi, setiap sekolah bisa jadi berbeda pembelajarannya. Meski berbeda, aturannya tidak boleh dilanggar,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/