alexametrics
24.8 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Ekspor Manggis ke Tiongkok Gagal

Imbas Pandemi, Kemarau Panjang, dan Musim Hujan

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tahun ini, para petani manggis di Lumajang harus mengelus dada. Pasalnya, buah manggis yang mereka tanam tidak bisa menghasilkan keuntungan. Di musim panen tahun ini, hasilnya tidak maksimal. Karenanya, aktivitas ekspor ke Tiongkok tidak bisa dilakukan.

Setiap tahun, negara dengan permintaan manggis tertinggi adalah Tiongkok. Namun, musim yang tidak menentu selama kurun waktu satu tahun menyebabkan rencana ekspor gagal. “Tahun lalu, Tiongkok meminta kita mengirim manggis. Tetapi tahun 2021 ini, kita tidak bisa mengirim lagi. Karena hasil panen manggis tidak sesuai harapan,” ujar Donny Ananto, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Lumajang.

Menurut Donny, penyebab utama gagal panen adalah musim kemarau yang panjang di tahun kemarin. “Paling berpengaruh itu musim kemarau tahun kemarin. Kemaraunya panjang, sehingga pohon manggis kekurangan air. Padahal, pohon itu membutuhkan air yang cukup. Kami juga tidak bisa mengaliri pohon itu dengan air yang kami buat sendiri. Sebab, hasilnya pasti akan beda,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, di awal tahun ini, hujan dengan intensitas tinggi disertai angin menyebabkan bunga manggis berguguran. Akibatnya, buah tidak bisa tumbuh dengan maksimal. Hal tersebut diperparah dengan kondisi pandemi. Sebab, para eksportir luar negeri tidak ingin membeli buah dari negeri ini. “Selain hasil buahnya tidak bagus, di musim pandemi juga mereka tidak mau pesan,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, ada empat kecamatan yang gagal panen dan ekspor ke luar negeri. Empat kecamatan tersebut adalah Senduro, Pasrujambe, Gucialit, dan Randuagung. Tidak hanya manggis, namun varietas buah lain juga terkena imbasnya. “Tidak hanya manggis yang gagal kita ekspor, tetapi pisang agung juga gagal kita ekspor ke Malaysia,” ungkapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tahun ini, para petani manggis di Lumajang harus mengelus dada. Pasalnya, buah manggis yang mereka tanam tidak bisa menghasilkan keuntungan. Di musim panen tahun ini, hasilnya tidak maksimal. Karenanya, aktivitas ekspor ke Tiongkok tidak bisa dilakukan.

Setiap tahun, negara dengan permintaan manggis tertinggi adalah Tiongkok. Namun, musim yang tidak menentu selama kurun waktu satu tahun menyebabkan rencana ekspor gagal. “Tahun lalu, Tiongkok meminta kita mengirim manggis. Tetapi tahun 2021 ini, kita tidak bisa mengirim lagi. Karena hasil panen manggis tidak sesuai harapan,” ujar Donny Ananto, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Lumajang.

Menurut Donny, penyebab utama gagal panen adalah musim kemarau yang panjang di tahun kemarin. “Paling berpengaruh itu musim kemarau tahun kemarin. Kemaraunya panjang, sehingga pohon manggis kekurangan air. Padahal, pohon itu membutuhkan air yang cukup. Kami juga tidak bisa mengaliri pohon itu dengan air yang kami buat sendiri. Sebab, hasilnya pasti akan beda,” jelasnya.

Selain itu, di awal tahun ini, hujan dengan intensitas tinggi disertai angin menyebabkan bunga manggis berguguran. Akibatnya, buah tidak bisa tumbuh dengan maksimal. Hal tersebut diperparah dengan kondisi pandemi. Sebab, para eksportir luar negeri tidak ingin membeli buah dari negeri ini. “Selain hasil buahnya tidak bagus, di musim pandemi juga mereka tidak mau pesan,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, ada empat kecamatan yang gagal panen dan ekspor ke luar negeri. Empat kecamatan tersebut adalah Senduro, Pasrujambe, Gucialit, dan Randuagung. Tidak hanya manggis, namun varietas buah lain juga terkena imbasnya. “Tidak hanya manggis yang gagal kita ekspor, tetapi pisang agung juga gagal kita ekspor ke Malaysia,” ungkapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tahun ini, para petani manggis di Lumajang harus mengelus dada. Pasalnya, buah manggis yang mereka tanam tidak bisa menghasilkan keuntungan. Di musim panen tahun ini, hasilnya tidak maksimal. Karenanya, aktivitas ekspor ke Tiongkok tidak bisa dilakukan.

Setiap tahun, negara dengan permintaan manggis tertinggi adalah Tiongkok. Namun, musim yang tidak menentu selama kurun waktu satu tahun menyebabkan rencana ekspor gagal. “Tahun lalu, Tiongkok meminta kita mengirim manggis. Tetapi tahun 2021 ini, kita tidak bisa mengirim lagi. Karena hasil panen manggis tidak sesuai harapan,” ujar Donny Ananto, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Lumajang.

Menurut Donny, penyebab utama gagal panen adalah musim kemarau yang panjang di tahun kemarin. “Paling berpengaruh itu musim kemarau tahun kemarin. Kemaraunya panjang, sehingga pohon manggis kekurangan air. Padahal, pohon itu membutuhkan air yang cukup. Kami juga tidak bisa mengaliri pohon itu dengan air yang kami buat sendiri. Sebab, hasilnya pasti akan beda,” jelasnya.

Selain itu, di awal tahun ini, hujan dengan intensitas tinggi disertai angin menyebabkan bunga manggis berguguran. Akibatnya, buah tidak bisa tumbuh dengan maksimal. Hal tersebut diperparah dengan kondisi pandemi. Sebab, para eksportir luar negeri tidak ingin membeli buah dari negeri ini. “Selain hasil buahnya tidak bagus, di musim pandemi juga mereka tidak mau pesan,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, ada empat kecamatan yang gagal panen dan ekspor ke luar negeri. Empat kecamatan tersebut adalah Senduro, Pasrujambe, Gucialit, dan Randuagung. Tidak hanya manggis, namun varietas buah lain juga terkena imbasnya. “Tidak hanya manggis yang gagal kita ekspor, tetapi pisang agung juga gagal kita ekspor ke Malaysia,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/