alexametrics
21.3 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Masih Laris, Teruskan Tradisi Keluarga

Eksistensi toko-toko roti modern tidak menyisihkan nilai tawar jajanan tradisional. Meski kalah dalam pemasaran, kue tradisonal tetap diburu pembeli. Tradisional hanyalah nama, cita rasa tetap juara.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tangan perempuan tua itu lihai dan cekatan saat memarut kelapa. Suaranya ramah menjawab pertanyaan pembeli. Di depannya ada jajanan tradisional seperti ketan putih dan hitam, putu, rok-korok, tiwul, buki, tawonan, dan cenil. Delapan jenis jajanan tradisional tersebut menemani dalam puluhan tahun berjualan.

Fatimah, perempuan asal Desa Rogotrunan tersebut tetap setia menjual jajanan tradisional. Di usianya yang hampir 70 tahun, dia masih cepat melayani pembeli. Beberapa jenis kue diletakkan di atas daun pisang. Parutan kelapa ditaburkan, gula merah cair dituangkan. “Lima ribu,” ucapnya, seraya menyerahkan bungkusan kudapan.

Dia menjualnya dengan harga murah. Mulai dari lima ribu hingga sepuluh ribu. Jenis jajanan juga disesuaikan dengan selera pembeli. “Mereka bisa memilih jajan mana saja. Lima jenis jajan itu harganya lima ribu. Kalau semuanya (delapan, Red) sepuluh ribu, dan porsinya ditambah. Jadi lebih banyak,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Fatimah menjelaskan, jajanan tradisionalnya merupakan usaha turun-temurun. Dia meneruskan tradisi keluarga. Saking lamanya, Mak Mah, sapaan akrabnya, tidak mengetahui usia perjalanan jajanan tradisional. “Sudah dari buyutnya buyut usaha seperti ini. Saya tanya ke mereka juga tidak tahu kapan usaha ini dimulai,” katanya, lalu geleng-geleng kepala.

Kini, dia bersama bibinya menjadi generasi terakhir. Sebab, pendahulu mereka sudah tiada. Anak-anak mereka pun memilih bekerja di bidang lain ketimbang menjual jajanan. “Pendahulu saya sudah meninggal. Anak saya juga tidak mau meneruskan. Ya sudah, saya dan bibi jadi generasi terakhir,” ujar ibu dua anak tersebut.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tangan perempuan tua itu lihai dan cekatan saat memarut kelapa. Suaranya ramah menjawab pertanyaan pembeli. Di depannya ada jajanan tradisional seperti ketan putih dan hitam, putu, rok-korok, tiwul, buki, tawonan, dan cenil. Delapan jenis jajanan tradisional tersebut menemani dalam puluhan tahun berjualan.

Fatimah, perempuan asal Desa Rogotrunan tersebut tetap setia menjual jajanan tradisional. Di usianya yang hampir 70 tahun, dia masih cepat melayani pembeli. Beberapa jenis kue diletakkan di atas daun pisang. Parutan kelapa ditaburkan, gula merah cair dituangkan. “Lima ribu,” ucapnya, seraya menyerahkan bungkusan kudapan.

Dia menjualnya dengan harga murah. Mulai dari lima ribu hingga sepuluh ribu. Jenis jajanan juga disesuaikan dengan selera pembeli. “Mereka bisa memilih jajan mana saja. Lima jenis jajan itu harganya lima ribu. Kalau semuanya (delapan, Red) sepuluh ribu, dan porsinya ditambah. Jadi lebih banyak,” tuturnya.

Fatimah menjelaskan, jajanan tradisionalnya merupakan usaha turun-temurun. Dia meneruskan tradisi keluarga. Saking lamanya, Mak Mah, sapaan akrabnya, tidak mengetahui usia perjalanan jajanan tradisional. “Sudah dari buyutnya buyut usaha seperti ini. Saya tanya ke mereka juga tidak tahu kapan usaha ini dimulai,” katanya, lalu geleng-geleng kepala.

Kini, dia bersama bibinya menjadi generasi terakhir. Sebab, pendahulu mereka sudah tiada. Anak-anak mereka pun memilih bekerja di bidang lain ketimbang menjual jajanan. “Pendahulu saya sudah meninggal. Anak saya juga tidak mau meneruskan. Ya sudah, saya dan bibi jadi generasi terakhir,” ujar ibu dua anak tersebut.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tangan perempuan tua itu lihai dan cekatan saat memarut kelapa. Suaranya ramah menjawab pertanyaan pembeli. Di depannya ada jajanan tradisional seperti ketan putih dan hitam, putu, rok-korok, tiwul, buki, tawonan, dan cenil. Delapan jenis jajanan tradisional tersebut menemani dalam puluhan tahun berjualan.

Fatimah, perempuan asal Desa Rogotrunan tersebut tetap setia menjual jajanan tradisional. Di usianya yang hampir 70 tahun, dia masih cepat melayani pembeli. Beberapa jenis kue diletakkan di atas daun pisang. Parutan kelapa ditaburkan, gula merah cair dituangkan. “Lima ribu,” ucapnya, seraya menyerahkan bungkusan kudapan.

Dia menjualnya dengan harga murah. Mulai dari lima ribu hingga sepuluh ribu. Jenis jajanan juga disesuaikan dengan selera pembeli. “Mereka bisa memilih jajan mana saja. Lima jenis jajan itu harganya lima ribu. Kalau semuanya (delapan, Red) sepuluh ribu, dan porsinya ditambah. Jadi lebih banyak,” tuturnya.

Fatimah menjelaskan, jajanan tradisionalnya merupakan usaha turun-temurun. Dia meneruskan tradisi keluarga. Saking lamanya, Mak Mah, sapaan akrabnya, tidak mengetahui usia perjalanan jajanan tradisional. “Sudah dari buyutnya buyut usaha seperti ini. Saya tanya ke mereka juga tidak tahu kapan usaha ini dimulai,” katanya, lalu geleng-geleng kepala.

Kini, dia bersama bibinya menjadi generasi terakhir. Sebab, pendahulu mereka sudah tiada. Anak-anak mereka pun memilih bekerja di bidang lain ketimbang menjual jajanan. “Pendahulu saya sudah meninggal. Anak saya juga tidak mau meneruskan. Ya sudah, saya dan bibi jadi generasi terakhir,” ujar ibu dua anak tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/