alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Bahaya Penyakit, Lumajang Gencarkan Pengelolaan Sanitasi

Sanitasi tak aman bukan hanya menjadi ancaman. Lebih dari itu, sanitasi tak aman bisa memicu beragam penyakit datang. Meski semua desa di Lumajang sudah mendeklarasikan diri sebagai desa open defecation free (ODF), namun perilaku masyarakat belum banyak berubah.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona memang memberikan dampak perubahan perilaku masyarakat. Salah satunya mencuci tangan. Sebelum korona, banyak masyarakat yang mengabaikan. Namun, belakangan menjadi tren baik di tengah kehidupan. Tanpa paksaan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) mulai diterapkan.

Meski demikian, kesadaran sebagian kecil masyarakat mulai berkurang. Faktornya sangat beragam. Yang pasti, hal itu menjadi ancaman. Terlebih, 30 persen penyakit berbasis lingkungan yang menular berawal dari sanitasi tak aman. Penyelesaiannya, ada investasi kehidupan melalui pengelolaan dan penerapan sanitasi aman.

Arie Risdiyanti, Kasi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkes Lumajang, mengatakan, secara umum kesadaran masyarakat meninggi. Terbukti, beberapa kawasan sekitar aliran sungai tidak lagi buang air besar sembarangan (BABS) di sungai. Namun, mencuci baju dan barang hingga membuang sampah masih sering dilakukan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Ini menjadi ancaman mendatangkan banyak penyakit. Kalau BABS, kualitas air akan tercemar. Karena ada bakteri E. coli. Masyarakat yang mengonsumsi airnya bisa jadi terkena diare. Sementara, sampah yang dibuang di sungai juga bisa menjadi tempat nyamuk berkembang biak sehingga ada potensi penyakit malaria. Tidak hanya itu, penyakit lainnya akan terus berdatangan,” jelasnya.

Dia melanjutkan, lima pilar harus terus dilakukan. Hal itu meliputi stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga, serta pengamanan limbah cair rumah tangga. Jika hal ini tidak mulai dilakukan, ancaman tersebut menjadi kenyataan.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona memang memberikan dampak perubahan perilaku masyarakat. Salah satunya mencuci tangan. Sebelum korona, banyak masyarakat yang mengabaikan. Namun, belakangan menjadi tren baik di tengah kehidupan. Tanpa paksaan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) mulai diterapkan.

Meski demikian, kesadaran sebagian kecil masyarakat mulai berkurang. Faktornya sangat beragam. Yang pasti, hal itu menjadi ancaman. Terlebih, 30 persen penyakit berbasis lingkungan yang menular berawal dari sanitasi tak aman. Penyelesaiannya, ada investasi kehidupan melalui pengelolaan dan penerapan sanitasi aman.

Arie Risdiyanti, Kasi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkes Lumajang, mengatakan, secara umum kesadaran masyarakat meninggi. Terbukti, beberapa kawasan sekitar aliran sungai tidak lagi buang air besar sembarangan (BABS) di sungai. Namun, mencuci baju dan barang hingga membuang sampah masih sering dilakukan.

“Ini menjadi ancaman mendatangkan banyak penyakit. Kalau BABS, kualitas air akan tercemar. Karena ada bakteri E. coli. Masyarakat yang mengonsumsi airnya bisa jadi terkena diare. Sementara, sampah yang dibuang di sungai juga bisa menjadi tempat nyamuk berkembang biak sehingga ada potensi penyakit malaria. Tidak hanya itu, penyakit lainnya akan terus berdatangan,” jelasnya.

Dia melanjutkan, lima pilar harus terus dilakukan. Hal itu meliputi stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga, serta pengamanan limbah cair rumah tangga. Jika hal ini tidak mulai dilakukan, ancaman tersebut menjadi kenyataan.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona memang memberikan dampak perubahan perilaku masyarakat. Salah satunya mencuci tangan. Sebelum korona, banyak masyarakat yang mengabaikan. Namun, belakangan menjadi tren baik di tengah kehidupan. Tanpa paksaan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) mulai diterapkan.

Meski demikian, kesadaran sebagian kecil masyarakat mulai berkurang. Faktornya sangat beragam. Yang pasti, hal itu menjadi ancaman. Terlebih, 30 persen penyakit berbasis lingkungan yang menular berawal dari sanitasi tak aman. Penyelesaiannya, ada investasi kehidupan melalui pengelolaan dan penerapan sanitasi aman.

Arie Risdiyanti, Kasi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkes Lumajang, mengatakan, secara umum kesadaran masyarakat meninggi. Terbukti, beberapa kawasan sekitar aliran sungai tidak lagi buang air besar sembarangan (BABS) di sungai. Namun, mencuci baju dan barang hingga membuang sampah masih sering dilakukan.

“Ini menjadi ancaman mendatangkan banyak penyakit. Kalau BABS, kualitas air akan tercemar. Karena ada bakteri E. coli. Masyarakat yang mengonsumsi airnya bisa jadi terkena diare. Sementara, sampah yang dibuang di sungai juga bisa menjadi tempat nyamuk berkembang biak sehingga ada potensi penyakit malaria. Tidak hanya itu, penyakit lainnya akan terus berdatangan,” jelasnya.

Dia melanjutkan, lima pilar harus terus dilakukan. Hal itu meliputi stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga, serta pengamanan limbah cair rumah tangga. Jika hal ini tidak mulai dilakukan, ancaman tersebut menjadi kenyataan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/