alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Berangkat Surut, Pulang-Pulang Harus Diangkut

Para Nakes Dokter Muter Terjebak Lahar Dingin Semeru

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Program Dokter Muter Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang tahun ini sudah dimulai sejak Februari. Selama dua kali dalam sepekan, para tenaga kesehatan (nakes) melakukan pemeriksaan gratis bagi warga Lumajang. Mereka yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan (faskes) menjadi sasaran utama program.
Tak terkecuali di Kampung Jobong dan Kajangkosong, Kebondeli, Sumberwuluh, Candipuro. Kawasan yang sulit dijangkau dengan akses darat tersebut menjadi sasaran program, kemarin. Lokasi program berdekatan dengan aliran Sungai Bondeli. “Jadwal Dokter Muter hari ini (kemarin, Red) berada di Sumberwuluh. Jadi, para nakes berangkat ke sana,” kata dr Bayu Wibowo.
Nakes terpaksa menyeberangi Sungai Bondeli. Sebab, itu merupakan akses satu-satunya menuju lokasi pelayanan Dokter Muter. Meski demikian, mereka tetap semangat menjalankan tugas. Warga pun merespons dengan sangat antusias program tersebut. “Saya salut pengorbanan para nakes. Mereka rela berjuang dan melayani rakyat di daerah yang jauh dari faskes seperti di Sumberwuluh. Sampai-sampai mereka menyeberangi sungai,” ujarnya.

Sungai Bondeli dikenal sebagai jalur aliran lahar dingin Gunung Semeru saat hujan. Oleh sebab itu, tidak banyak masyarakat yang berani menyeberanginya. Apalagi, saat hujan di Gunung Semeru deras, praktis masyarakat tidak akan bisa menyeberang. Nakes pun terjebak saat hendak pulang.
“Mereka berangkat pagi hari, kondisi sungai surut. Jadi, mereka bisa menuju lokasi dengan aman. Namun, aksesnya yang sulit menyebabkan mobil pelayanan tidak bisa menyeberang. Nah, ternyata di bagian Gunung Semeru turun hujan deras. Sehingga aliran lahar datang. Akhirnya, nakes terjebak karena banjir lahar dingin,” jelasnya.
Kekhawatiran tersebut tidak bertahan lama. Sebab, tim pelaksana konstruksi jembatan gantung Kebondeli berada di dekat lokasi nakes. Mereka yang tengah membangun dengan beberapa alat berat membantu nakes menyeberangi sungai. “Tim pelaksana membantu nakes menyeberangi sungai dengan alat berat,” tambahnya.
Bayu berharap, program Dokter Muter terus berjalan. Agar masyarakat di kawasan terpencil dan jauh dari faskes tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. “Meski seperti di Sumberwuuh, program harus tetap berlanjut,” pungkasnya.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Istimewa
Editor: Hafid Asnan

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Program Dokter Muter Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang tahun ini sudah dimulai sejak Februari. Selama dua kali dalam sepekan, para tenaga kesehatan (nakes) melakukan pemeriksaan gratis bagi warga Lumajang. Mereka yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan (faskes) menjadi sasaran utama program.
Tak terkecuali di Kampung Jobong dan Kajangkosong, Kebondeli, Sumberwuluh, Candipuro. Kawasan yang sulit dijangkau dengan akses darat tersebut menjadi sasaran program, kemarin. Lokasi program berdekatan dengan aliran Sungai Bondeli. “Jadwal Dokter Muter hari ini (kemarin, Red) berada di Sumberwuluh. Jadi, para nakes berangkat ke sana,” kata dr Bayu Wibowo.
Nakes terpaksa menyeberangi Sungai Bondeli. Sebab, itu merupakan akses satu-satunya menuju lokasi pelayanan Dokter Muter. Meski demikian, mereka tetap semangat menjalankan tugas. Warga pun merespons dengan sangat antusias program tersebut. “Saya salut pengorbanan para nakes. Mereka rela berjuang dan melayani rakyat di daerah yang jauh dari faskes seperti di Sumberwuluh. Sampai-sampai mereka menyeberangi sungai,” ujarnya.

Sungai Bondeli dikenal sebagai jalur aliran lahar dingin Gunung Semeru saat hujan. Oleh sebab itu, tidak banyak masyarakat yang berani menyeberanginya. Apalagi, saat hujan di Gunung Semeru deras, praktis masyarakat tidak akan bisa menyeberang. Nakes pun terjebak saat hendak pulang.
“Mereka berangkat pagi hari, kondisi sungai surut. Jadi, mereka bisa menuju lokasi dengan aman. Namun, aksesnya yang sulit menyebabkan mobil pelayanan tidak bisa menyeberang. Nah, ternyata di bagian Gunung Semeru turun hujan deras. Sehingga aliran lahar datang. Akhirnya, nakes terjebak karena banjir lahar dingin,” jelasnya.
Kekhawatiran tersebut tidak bertahan lama. Sebab, tim pelaksana konstruksi jembatan gantung Kebondeli berada di dekat lokasi nakes. Mereka yang tengah membangun dengan beberapa alat berat membantu nakes menyeberangi sungai. “Tim pelaksana membantu nakes menyeberangi sungai dengan alat berat,” tambahnya.
Bayu berharap, program Dokter Muter terus berjalan. Agar masyarakat di kawasan terpencil dan jauh dari faskes tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. “Meski seperti di Sumberwuuh, program harus tetap berlanjut,” pungkasnya.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Istimewa
Editor: Hafid Asnan

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Program Dokter Muter Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang tahun ini sudah dimulai sejak Februari. Selama dua kali dalam sepekan, para tenaga kesehatan (nakes) melakukan pemeriksaan gratis bagi warga Lumajang. Mereka yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan (faskes) menjadi sasaran utama program.
Tak terkecuali di Kampung Jobong dan Kajangkosong, Kebondeli, Sumberwuluh, Candipuro. Kawasan yang sulit dijangkau dengan akses darat tersebut menjadi sasaran program, kemarin. Lokasi program berdekatan dengan aliran Sungai Bondeli. “Jadwal Dokter Muter hari ini (kemarin, Red) berada di Sumberwuluh. Jadi, para nakes berangkat ke sana,” kata dr Bayu Wibowo.
Nakes terpaksa menyeberangi Sungai Bondeli. Sebab, itu merupakan akses satu-satunya menuju lokasi pelayanan Dokter Muter. Meski demikian, mereka tetap semangat menjalankan tugas. Warga pun merespons dengan sangat antusias program tersebut. “Saya salut pengorbanan para nakes. Mereka rela berjuang dan melayani rakyat di daerah yang jauh dari faskes seperti di Sumberwuluh. Sampai-sampai mereka menyeberangi sungai,” ujarnya.

Sungai Bondeli dikenal sebagai jalur aliran lahar dingin Gunung Semeru saat hujan. Oleh sebab itu, tidak banyak masyarakat yang berani menyeberanginya. Apalagi, saat hujan di Gunung Semeru deras, praktis masyarakat tidak akan bisa menyeberang. Nakes pun terjebak saat hendak pulang.
“Mereka berangkat pagi hari, kondisi sungai surut. Jadi, mereka bisa menuju lokasi dengan aman. Namun, aksesnya yang sulit menyebabkan mobil pelayanan tidak bisa menyeberang. Nah, ternyata di bagian Gunung Semeru turun hujan deras. Sehingga aliran lahar datang. Akhirnya, nakes terjebak karena banjir lahar dingin,” jelasnya.
Kekhawatiran tersebut tidak bertahan lama. Sebab, tim pelaksana konstruksi jembatan gantung Kebondeli berada di dekat lokasi nakes. Mereka yang tengah membangun dengan beberapa alat berat membantu nakes menyeberangi sungai. “Tim pelaksana membantu nakes menyeberangi sungai dengan alat berat,” tambahnya.
Bayu berharap, program Dokter Muter terus berjalan. Agar masyarakat di kawasan terpencil dan jauh dari faskes tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. “Meski seperti di Sumberwuuh, program harus tetap berlanjut,” pungkasnya.

Jurnalis: mg2
Fotografer: Istimewa
Editor: Hafid Asnan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/