alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Setahun Jembatan Penghubung di Lumajang Mangkrak

Jembatan darurat penghubung Kecamatan Tempeh dan Kecamatan Pasirian memang cukup efektif. Salah satunya dapat digunakan lalu lalang warga yang mengendarai kendaraan bermotor. Sayangnya, jembatan yang terbuat dari bambu itu mudah rusak.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kurang lebih sembilan bulan, terhitung sejak akhir bulan Februari lalu, jembatan penghubung yang memiliki panjang 20 meter dan lebar 6 meter tersebut putus. Sejak saat itu, warga setempat berulang kali membangun jembatan darurat di sebelah selatan jembatan. Namun, sering putus dihantam banjir lahar.

Muhammad Abdul Basid, warga Desa Gesang, Kecamatan Tempeh, menjelaskan, dirinya bersama belasan warga lainnya berinisiatif membangun jembatan darurat itu. Mereka mengelola dana dari warga yang menyumbang ketika melintasi jembatan. Niatnya untuk memudahkan warga supaya lebih cepat sampai tujuan.

“Ada kira-kira enam kali kami bangun jembatan, terus rusak terkena banjir. Biayanya tidak sedikit. Kira-kira habis Rp 3 juta lebih sekali bangun. Untuk itu, kami berharap jembatan yang rusak dan mangkrak itu perlu diperbaiki, karena kasihan warga yang lewat. Harus putar jauh kalau jembatan rusak,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, sekalipun tidak rusak, di musim hujan dan banjir lahar mulai meninggi hingga mencapai dasar jembatan, warga yang berencana lewat dicegah oleh penjaga. Sebab, kondisi itu cukup membahayakan pengendara yang ingin lewat. Khawatir putus seperti Selasa (16/11) lalu.

Anggota Komisi B DPRD Lumajang Yudha Adji Kusuma mengatakan, tidak terlaksananya pembangunan jembatan putus di beberapa titik tahun ini dinilai cukup wajar. Sebab, musibah itu datang ketika tahun anggaran berjalan. Namun, untuk tahun depan wajib dimasukkan perencanaan.

“Pembangunan jembatan di perbatasan Kecamatan Tempeh sama Pasirian harus masuk perencanaan anggaran tahun depan. Karena akses jembatan itu putus sudah terlalu lama. Lebih lagi, jembatan itu sering digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Jembatan itu mempercepat akses,” katanya.

Menurut dia, pembangunan jalan yang berasal dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kurang efektif jika beberapa titik jembatan yang rusak tidak diperbaiki. “Bukan hanya di Gesang saja, jembatan lainnya juga. Karena percuma kalau jalannya mulus, tetapi jembatannya kurang layak,” pungkasnya.

 

Aneh, Belum Masuk Perencanaan

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kurang lebih sembilan bulan, terhitung sejak akhir bulan Februari lalu, jembatan penghubung yang memiliki panjang 20 meter dan lebar 6 meter tersebut putus. Sejak saat itu, warga setempat berulang kali membangun jembatan darurat di sebelah selatan jembatan. Namun, sering putus dihantam banjir lahar.

Muhammad Abdul Basid, warga Desa Gesang, Kecamatan Tempeh, menjelaskan, dirinya bersama belasan warga lainnya berinisiatif membangun jembatan darurat itu. Mereka mengelola dana dari warga yang menyumbang ketika melintasi jembatan. Niatnya untuk memudahkan warga supaya lebih cepat sampai tujuan.

“Ada kira-kira enam kali kami bangun jembatan, terus rusak terkena banjir. Biayanya tidak sedikit. Kira-kira habis Rp 3 juta lebih sekali bangun. Untuk itu, kami berharap jembatan yang rusak dan mangkrak itu perlu diperbaiki, karena kasihan warga yang lewat. Harus putar jauh kalau jembatan rusak,” katanya.

Bahkan, sekalipun tidak rusak, di musim hujan dan banjir lahar mulai meninggi hingga mencapai dasar jembatan, warga yang berencana lewat dicegah oleh penjaga. Sebab, kondisi itu cukup membahayakan pengendara yang ingin lewat. Khawatir putus seperti Selasa (16/11) lalu.

Anggota Komisi B DPRD Lumajang Yudha Adji Kusuma mengatakan, tidak terlaksananya pembangunan jembatan putus di beberapa titik tahun ini dinilai cukup wajar. Sebab, musibah itu datang ketika tahun anggaran berjalan. Namun, untuk tahun depan wajib dimasukkan perencanaan.

“Pembangunan jembatan di perbatasan Kecamatan Tempeh sama Pasirian harus masuk perencanaan anggaran tahun depan. Karena akses jembatan itu putus sudah terlalu lama. Lebih lagi, jembatan itu sering digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Jembatan itu mempercepat akses,” katanya.

Menurut dia, pembangunan jalan yang berasal dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kurang efektif jika beberapa titik jembatan yang rusak tidak diperbaiki. “Bukan hanya di Gesang saja, jembatan lainnya juga. Karena percuma kalau jalannya mulus, tetapi jembatannya kurang layak,” pungkasnya.

 

Aneh, Belum Masuk Perencanaan

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Kurang lebih sembilan bulan, terhitung sejak akhir bulan Februari lalu, jembatan penghubung yang memiliki panjang 20 meter dan lebar 6 meter tersebut putus. Sejak saat itu, warga setempat berulang kali membangun jembatan darurat di sebelah selatan jembatan. Namun, sering putus dihantam banjir lahar.

Muhammad Abdul Basid, warga Desa Gesang, Kecamatan Tempeh, menjelaskan, dirinya bersama belasan warga lainnya berinisiatif membangun jembatan darurat itu. Mereka mengelola dana dari warga yang menyumbang ketika melintasi jembatan. Niatnya untuk memudahkan warga supaya lebih cepat sampai tujuan.

“Ada kira-kira enam kali kami bangun jembatan, terus rusak terkena banjir. Biayanya tidak sedikit. Kira-kira habis Rp 3 juta lebih sekali bangun. Untuk itu, kami berharap jembatan yang rusak dan mangkrak itu perlu diperbaiki, karena kasihan warga yang lewat. Harus putar jauh kalau jembatan rusak,” katanya.

Bahkan, sekalipun tidak rusak, di musim hujan dan banjir lahar mulai meninggi hingga mencapai dasar jembatan, warga yang berencana lewat dicegah oleh penjaga. Sebab, kondisi itu cukup membahayakan pengendara yang ingin lewat. Khawatir putus seperti Selasa (16/11) lalu.

Anggota Komisi B DPRD Lumajang Yudha Adji Kusuma mengatakan, tidak terlaksananya pembangunan jembatan putus di beberapa titik tahun ini dinilai cukup wajar. Sebab, musibah itu datang ketika tahun anggaran berjalan. Namun, untuk tahun depan wajib dimasukkan perencanaan.

“Pembangunan jembatan di perbatasan Kecamatan Tempeh sama Pasirian harus masuk perencanaan anggaran tahun depan. Karena akses jembatan itu putus sudah terlalu lama. Lebih lagi, jembatan itu sering digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Jembatan itu mempercepat akses,” katanya.

Menurut dia, pembangunan jalan yang berasal dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kurang efektif jika beberapa titik jembatan yang rusak tidak diperbaiki. “Bukan hanya di Gesang saja, jembatan lainnya juga. Karena percuma kalau jalannya mulus, tetapi jembatannya kurang layak,” pungkasnya.

 

Aneh, Belum Masuk Perencanaan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/