alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Lahan Ditanam Sengon, Jalur Tambang Terblokade Berujung Deadlock

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Polemik jalur tambang yang dirintis tiga tahun lalu selalu bermasalah. Awal permasalahannya adalah keterlambatan pekerjaan jalan. Kini muncul masalah baru. Salah satu bidang tanah milik warga yang dijadikan jalan tambang diambil alih pemilik dengan ditanami sengon.

Informasinya, persoalan lahan yang jadi jalur tambang tersebut sudah dilakukan mediasi. Namun, beberapa kali digelar musyawarah, selalu menemui jalan buntu. Deadlock tak dapat dihindari. Puncaknya, kemarin pemilik memilih menanami sengon.

Kondisi itu terjadi di Desa Bago, Pasirian. Akibatnya, ratusan sopir dan armadanya tidak bisa melintasi jalur tersebut. Mereka terhenti dan antre sekitar enam jam. Ratusan sopir tersebut terpaksa berjalan ke lokasi penutupan. Setelah dilakukan negosiasi dengan pemilik lahan, sopir akhirnya putar balik dan melalui jalan tambang yang cukup jauh.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Sebelumnya, kami tidak mendapatkan informasi atau pemberitahuan apa pun dari pemilik lahan. Saat berangkat masih bisa melintas. Tapi, saat mau mengantar pasir ke tujuan, banyak truk berhenti dan antre. Ternyata, jalannya ditutup,” ujar Ahmad, salah satu sopir asal desa setempat.

Arsyad Subekti, pemilik lahan, mengaku tidak menutup jalan. Namun, hanya menanam pohon sengon di lahan miliknya. Selain untuk mendapatkan hasil dari sengon, dia berharap lahan miliknya itu tidak dilalui armada truk. Sebab, lahan itu masih miliknya dan sah secara hukum.

“Saya tidak menutup jalan tambang. Saya mau menanam sengon di tanah sendiri yang selama ini dilewati jalan tambang. Saya baru tahu sekitar enam bulan ini. Sebenarnya saya sudah mempertanyakan ke pemerintah. Tetapi selalu disanggah dengan dalih bermacam-macam. Sehingga tidak pernah ada kesepakatan yang bisa diterima kedua belah pihak. Secara hukum ini sah. Ini adalah tanah saya dan ada suratnya,” katanya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Polemik jalur tambang yang dirintis tiga tahun lalu selalu bermasalah. Awal permasalahannya adalah keterlambatan pekerjaan jalan. Kini muncul masalah baru. Salah satu bidang tanah milik warga yang dijadikan jalan tambang diambil alih pemilik dengan ditanami sengon.

Informasinya, persoalan lahan yang jadi jalur tambang tersebut sudah dilakukan mediasi. Namun, beberapa kali digelar musyawarah, selalu menemui jalan buntu. Deadlock tak dapat dihindari. Puncaknya, kemarin pemilik memilih menanami sengon.

Kondisi itu terjadi di Desa Bago, Pasirian. Akibatnya, ratusan sopir dan armadanya tidak bisa melintasi jalur tersebut. Mereka terhenti dan antre sekitar enam jam. Ratusan sopir tersebut terpaksa berjalan ke lokasi penutupan. Setelah dilakukan negosiasi dengan pemilik lahan, sopir akhirnya putar balik dan melalui jalan tambang yang cukup jauh.

“Sebelumnya, kami tidak mendapatkan informasi atau pemberitahuan apa pun dari pemilik lahan. Saat berangkat masih bisa melintas. Tapi, saat mau mengantar pasir ke tujuan, banyak truk berhenti dan antre. Ternyata, jalannya ditutup,” ujar Ahmad, salah satu sopir asal desa setempat.

Arsyad Subekti, pemilik lahan, mengaku tidak menutup jalan. Namun, hanya menanam pohon sengon di lahan miliknya. Selain untuk mendapatkan hasil dari sengon, dia berharap lahan miliknya itu tidak dilalui armada truk. Sebab, lahan itu masih miliknya dan sah secara hukum.

“Saya tidak menutup jalan tambang. Saya mau menanam sengon di tanah sendiri yang selama ini dilewati jalan tambang. Saya baru tahu sekitar enam bulan ini. Sebenarnya saya sudah mempertanyakan ke pemerintah. Tetapi selalu disanggah dengan dalih bermacam-macam. Sehingga tidak pernah ada kesepakatan yang bisa diterima kedua belah pihak. Secara hukum ini sah. Ini adalah tanah saya dan ada suratnya,” katanya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Polemik jalur tambang yang dirintis tiga tahun lalu selalu bermasalah. Awal permasalahannya adalah keterlambatan pekerjaan jalan. Kini muncul masalah baru. Salah satu bidang tanah milik warga yang dijadikan jalan tambang diambil alih pemilik dengan ditanami sengon.

Informasinya, persoalan lahan yang jadi jalur tambang tersebut sudah dilakukan mediasi. Namun, beberapa kali digelar musyawarah, selalu menemui jalan buntu. Deadlock tak dapat dihindari. Puncaknya, kemarin pemilik memilih menanami sengon.

Kondisi itu terjadi di Desa Bago, Pasirian. Akibatnya, ratusan sopir dan armadanya tidak bisa melintasi jalur tersebut. Mereka terhenti dan antre sekitar enam jam. Ratusan sopir tersebut terpaksa berjalan ke lokasi penutupan. Setelah dilakukan negosiasi dengan pemilik lahan, sopir akhirnya putar balik dan melalui jalan tambang yang cukup jauh.

“Sebelumnya, kami tidak mendapatkan informasi atau pemberitahuan apa pun dari pemilik lahan. Saat berangkat masih bisa melintas. Tapi, saat mau mengantar pasir ke tujuan, banyak truk berhenti dan antre. Ternyata, jalannya ditutup,” ujar Ahmad, salah satu sopir asal desa setempat.

Arsyad Subekti, pemilik lahan, mengaku tidak menutup jalan. Namun, hanya menanam pohon sengon di lahan miliknya. Selain untuk mendapatkan hasil dari sengon, dia berharap lahan miliknya itu tidak dilalui armada truk. Sebab, lahan itu masih miliknya dan sah secara hukum.

“Saya tidak menutup jalan tambang. Saya mau menanam sengon di tanah sendiri yang selama ini dilewati jalan tambang. Saya baru tahu sekitar enam bulan ini. Sebenarnya saya sudah mempertanyakan ke pemerintah. Tetapi selalu disanggah dengan dalih bermacam-macam. Sehingga tidak pernah ada kesepakatan yang bisa diterima kedua belah pihak. Secara hukum ini sah. Ini adalah tanah saya dan ada suratnya,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/