alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Upaya Mewujudkan Masyarakat Mandiri Sampah

Permasalahan sampah telah menjadi isu nasional. Pengelolaannya harus dilakukan dengan tepat dan berwawasan lingkungan. Salah satunya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengelolanya. Sehingga masyarakat terbentuk secara mandiri untuk mengelola sampah.

Mobile_AP_Rectangle 1

PASIRIAN, Radar Semeru – Penanganan dan pengelolaan sampah perlu diperhatikan seiring dengan perkembangan kabupaten dan laju pertumbuhan yang semakin meningkat. Selama ini, masyarakat mengelola sampah dengan konvensional. Yakni mengumpulkannya, mengangkut, dan membuangnya. Padahal, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lempeni milik Pemkab Lumajang sangat terbatas.

BACA JUGA : Berdalih Terhimpit Ekonomi Tega Membunuh

Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk mengurangi jumlah residu sampah yang dibuang ke TPA. Salah satunya dengan mengedukasi pengelolaan sampah. Sebab, Bupati Lumajang telah mengeluarkan Keputusan Bupati tentang pedoman teknis Masyarakat Mandiri Sampah (Mamarisa).

Mobile_AP_Rectangle 2

Secara resmi, Mamarisa diluncurkan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Selasa lalu (5/7). Desa/Kecamatan Pasirian menjadi satu-satunya desa yang mendapatkan penghargaan sebagai desa percontohan mandiri sampah di Lumajang. Artinya, hampir semua desa belum bisa mandiri mengelola sampah.

Sekretaris Desa/Kecamatan Pasirian Aris Agus L.W mengungkapkan, kemandirian itu tidak terbentuk secara ajaib. Gebrakan mengelola sampah mandiri muncul tahun 2017. Awalnya, para petani, khususnya petani di hilir sungai, selalu mengeluh. Sebab, sampah yang dibuang ke sungai itu selalu berakhir di lahan pertanian. Akibatnya, lahan pertanian dipenuhi sampah dan menjadi tidak subur. Dampaknya, panen tidak maksimal.

- Advertisement -

PASIRIAN, Radar Semeru – Penanganan dan pengelolaan sampah perlu diperhatikan seiring dengan perkembangan kabupaten dan laju pertumbuhan yang semakin meningkat. Selama ini, masyarakat mengelola sampah dengan konvensional. Yakni mengumpulkannya, mengangkut, dan membuangnya. Padahal, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lempeni milik Pemkab Lumajang sangat terbatas.

BACA JUGA : Berdalih Terhimpit Ekonomi Tega Membunuh

Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk mengurangi jumlah residu sampah yang dibuang ke TPA. Salah satunya dengan mengedukasi pengelolaan sampah. Sebab, Bupati Lumajang telah mengeluarkan Keputusan Bupati tentang pedoman teknis Masyarakat Mandiri Sampah (Mamarisa).

Secara resmi, Mamarisa diluncurkan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Selasa lalu (5/7). Desa/Kecamatan Pasirian menjadi satu-satunya desa yang mendapatkan penghargaan sebagai desa percontohan mandiri sampah di Lumajang. Artinya, hampir semua desa belum bisa mandiri mengelola sampah.

Sekretaris Desa/Kecamatan Pasirian Aris Agus L.W mengungkapkan, kemandirian itu tidak terbentuk secara ajaib. Gebrakan mengelola sampah mandiri muncul tahun 2017. Awalnya, para petani, khususnya petani di hilir sungai, selalu mengeluh. Sebab, sampah yang dibuang ke sungai itu selalu berakhir di lahan pertanian. Akibatnya, lahan pertanian dipenuhi sampah dan menjadi tidak subur. Dampaknya, panen tidak maksimal.

PASIRIAN, Radar Semeru – Penanganan dan pengelolaan sampah perlu diperhatikan seiring dengan perkembangan kabupaten dan laju pertumbuhan yang semakin meningkat. Selama ini, masyarakat mengelola sampah dengan konvensional. Yakni mengumpulkannya, mengangkut, dan membuangnya. Padahal, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lempeni milik Pemkab Lumajang sangat terbatas.

BACA JUGA : Berdalih Terhimpit Ekonomi Tega Membunuh

Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk mengurangi jumlah residu sampah yang dibuang ke TPA. Salah satunya dengan mengedukasi pengelolaan sampah. Sebab, Bupati Lumajang telah mengeluarkan Keputusan Bupati tentang pedoman teknis Masyarakat Mandiri Sampah (Mamarisa).

Secara resmi, Mamarisa diluncurkan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Selasa lalu (5/7). Desa/Kecamatan Pasirian menjadi satu-satunya desa yang mendapatkan penghargaan sebagai desa percontohan mandiri sampah di Lumajang. Artinya, hampir semua desa belum bisa mandiri mengelola sampah.

Sekretaris Desa/Kecamatan Pasirian Aris Agus L.W mengungkapkan, kemandirian itu tidak terbentuk secara ajaib. Gebrakan mengelola sampah mandiri muncul tahun 2017. Awalnya, para petani, khususnya petani di hilir sungai, selalu mengeluh. Sebab, sampah yang dibuang ke sungai itu selalu berakhir di lahan pertanian. Akibatnya, lahan pertanian dipenuhi sampah dan menjadi tidak subur. Dampaknya, panen tidak maksimal.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/