alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Jadi Panggilan Hati dan Pengabdian kepada Masyarakat

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Banyak masyarakat yang tidak mengerti cara menangani perkara hukum yang menimpanya. Padahal, ketika dihadapkan dengan hukum, seseorang yang diduga bersalah memiliki hak didampingi advokat atau pengacara. Namun, sebagian dari mereka takut. Bahkan, menganggap perlu merogoh saku lebih dalam untuk menyewa seorang pengacara.

Hal itulah yang dihadapi Abdul Rokhim, salah satu pengacara di Lumajang. Lelaki yang berkecimpung di dunia pengacara selama 14 tahun tersebut mengungkapkan perjalanan berliku. Mulai dari diputus kontrak di tengah perkara, hingga keberhasilannya mendampingi klien sampai dinyatakan bebas tidak bersalah.

Menurutnya, pengacara bukan hanya sebuah profesi. Melainkan panggilan dan bagian dari pengabdian. “Pada prinsipnya, bagi saya advokat itu panggilan hati. Menikmatinya tidak hanya sebagai sebuah profesi, tetapi juga bagian dari pengabdian ke masyarakat. Karena, ilmu yang didapat harus diamalkan,” ungkap lelaki yang akrab disapa Rokhim tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lelaki yang menjabat Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Lumajang itu mengatakan, profesi pengacara sangat dibutuhkan. Sebab, pengacara menjamin terduga bersalah mendapatkan hak-haknya. “Jadi, kalau ada yang mengatakan pengacara membela orang yang bersalah, itu tidak benar. Saat kami menjadi pengacara, maka tugas kami menjamin hak orang yang diduga bersalah. Misalnya, dia tidak tertekan dalam memberikan keterangan. Kalau sakit, kami yang menjamin klien mendapatkan perawatan kesehatan dan lainnya,” katanya.

Meski sering dianggap negatif, lulusan hukum dan magister administrasi publik tersebut menjelaskan, profesi pengacara sama dengan penegak hukum yang lain. “Oleh karena itu, profesi ini sama pentingnya dengan penegak hukum lain. Tetapi, masyarakat luas masih belum mengerti itu. Padahal, sejak kuliah saya sering turun ke masyarakat. Sedangkan, rata-rata mereka awam berbicara hukum,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Banyak masyarakat yang tidak mengerti cara menangani perkara hukum yang menimpanya. Padahal, ketika dihadapkan dengan hukum, seseorang yang diduga bersalah memiliki hak didampingi advokat atau pengacara. Namun, sebagian dari mereka takut. Bahkan, menganggap perlu merogoh saku lebih dalam untuk menyewa seorang pengacara.

Hal itulah yang dihadapi Abdul Rokhim, salah satu pengacara di Lumajang. Lelaki yang berkecimpung di dunia pengacara selama 14 tahun tersebut mengungkapkan perjalanan berliku. Mulai dari diputus kontrak di tengah perkara, hingga keberhasilannya mendampingi klien sampai dinyatakan bebas tidak bersalah.

Menurutnya, pengacara bukan hanya sebuah profesi. Melainkan panggilan dan bagian dari pengabdian. “Pada prinsipnya, bagi saya advokat itu panggilan hati. Menikmatinya tidak hanya sebagai sebuah profesi, tetapi juga bagian dari pengabdian ke masyarakat. Karena, ilmu yang didapat harus diamalkan,” ungkap lelaki yang akrab disapa Rokhim tersebut.

Lelaki yang menjabat Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Lumajang itu mengatakan, profesi pengacara sangat dibutuhkan. Sebab, pengacara menjamin terduga bersalah mendapatkan hak-haknya. “Jadi, kalau ada yang mengatakan pengacara membela orang yang bersalah, itu tidak benar. Saat kami menjadi pengacara, maka tugas kami menjamin hak orang yang diduga bersalah. Misalnya, dia tidak tertekan dalam memberikan keterangan. Kalau sakit, kami yang menjamin klien mendapatkan perawatan kesehatan dan lainnya,” katanya.

Meski sering dianggap negatif, lulusan hukum dan magister administrasi publik tersebut menjelaskan, profesi pengacara sama dengan penegak hukum yang lain. “Oleh karena itu, profesi ini sama pentingnya dengan penegak hukum lain. Tetapi, masyarakat luas masih belum mengerti itu. Padahal, sejak kuliah saya sering turun ke masyarakat. Sedangkan, rata-rata mereka awam berbicara hukum,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Banyak masyarakat yang tidak mengerti cara menangani perkara hukum yang menimpanya. Padahal, ketika dihadapkan dengan hukum, seseorang yang diduga bersalah memiliki hak didampingi advokat atau pengacara. Namun, sebagian dari mereka takut. Bahkan, menganggap perlu merogoh saku lebih dalam untuk menyewa seorang pengacara.

Hal itulah yang dihadapi Abdul Rokhim, salah satu pengacara di Lumajang. Lelaki yang berkecimpung di dunia pengacara selama 14 tahun tersebut mengungkapkan perjalanan berliku. Mulai dari diputus kontrak di tengah perkara, hingga keberhasilannya mendampingi klien sampai dinyatakan bebas tidak bersalah.

Menurutnya, pengacara bukan hanya sebuah profesi. Melainkan panggilan dan bagian dari pengabdian. “Pada prinsipnya, bagi saya advokat itu panggilan hati. Menikmatinya tidak hanya sebagai sebuah profesi, tetapi juga bagian dari pengabdian ke masyarakat. Karena, ilmu yang didapat harus diamalkan,” ungkap lelaki yang akrab disapa Rokhim tersebut.

Lelaki yang menjabat Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Lumajang itu mengatakan, profesi pengacara sangat dibutuhkan. Sebab, pengacara menjamin terduga bersalah mendapatkan hak-haknya. “Jadi, kalau ada yang mengatakan pengacara membela orang yang bersalah, itu tidak benar. Saat kami menjadi pengacara, maka tugas kami menjamin hak orang yang diduga bersalah. Misalnya, dia tidak tertekan dalam memberikan keterangan. Kalau sakit, kami yang menjamin klien mendapatkan perawatan kesehatan dan lainnya,” katanya.

Meski sering dianggap negatif, lulusan hukum dan magister administrasi publik tersebut menjelaskan, profesi pengacara sama dengan penegak hukum yang lain. “Oleh karena itu, profesi ini sama pentingnya dengan penegak hukum lain. Tetapi, masyarakat luas masih belum mengerti itu. Padahal, sejak kuliah saya sering turun ke masyarakat. Sedangkan, rata-rata mereka awam berbicara hukum,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/