alexametrics
23.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Lulusan SMK Kaget pada Dunia Kerja

Ada yang Resign setelah Masuk Sehari di Tempat Kerja

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Mau kerja apa dan di mana? Itulah yang ada di benak lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Meski siswa SMK dipersiapkan untuk siap kerja, tak sedikit mereka bingung mencari kerja. Akibatnya, saat bekerja, mereka tidak tahan banting.

Berdasarkan data pencari kerja (pencaker) di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lumajang, selama 2020 terdapat 84 orang lulusan SMK yang memohon AK-1 atau surat pencaker. Jumlah tersebut menurun drastis dibanding tahun sebelumnya. “Ada penurunan. Pencaker tahun 2019 sebanyak 659 orang lulusan SMK,” ujar Wastu Adiriyono, Kasi Penempatan Kerja dalam Negeri Disnaker Lumajang.

Dia mengatakan, selain pandemi korona yang berimbas pada pembatasan sosial, ketidaksiapan lulusan SMK juga berpengaruh pada serapan tenaga kerja. Meskipun dibekali keterampilan melalui program magang SMK, hal itu belum cukup. Sebab, kesiapan mental pencaker menjadi penting.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Setelah mereka masuk kerja, menjalani dan merasakan pekerjaannya, justru sebagian besar keluar. Mereka kaget dunia kerja. Karena hal itu berbeda dengan keseharian mereka sebelumnya. Bahkan temuan kami, mereka hanya masuk sehari, setelah itu keluar,” jelasnya.

Mahrus Syamsul, Kepala Cabang Pendidikan Wilayah Jember, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, ada ketidaksesuaian harapan dengan realitas di lapangan. Pencaker berharap dunia kerja menjadi tempat nyaman, sedangkan faktanya dibutuhkan banyak keterampilan agar tetap bertahan. “Tidak sesuai ekspektasi mereka,” ucapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Mau kerja apa dan di mana? Itulah yang ada di benak lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Meski siswa SMK dipersiapkan untuk siap kerja, tak sedikit mereka bingung mencari kerja. Akibatnya, saat bekerja, mereka tidak tahan banting.

Berdasarkan data pencari kerja (pencaker) di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lumajang, selama 2020 terdapat 84 orang lulusan SMK yang memohon AK-1 atau surat pencaker. Jumlah tersebut menurun drastis dibanding tahun sebelumnya. “Ada penurunan. Pencaker tahun 2019 sebanyak 659 orang lulusan SMK,” ujar Wastu Adiriyono, Kasi Penempatan Kerja dalam Negeri Disnaker Lumajang.

Dia mengatakan, selain pandemi korona yang berimbas pada pembatasan sosial, ketidaksiapan lulusan SMK juga berpengaruh pada serapan tenaga kerja. Meskipun dibekali keterampilan melalui program magang SMK, hal itu belum cukup. Sebab, kesiapan mental pencaker menjadi penting.

“Setelah mereka masuk kerja, menjalani dan merasakan pekerjaannya, justru sebagian besar keluar. Mereka kaget dunia kerja. Karena hal itu berbeda dengan keseharian mereka sebelumnya. Bahkan temuan kami, mereka hanya masuk sehari, setelah itu keluar,” jelasnya.

Mahrus Syamsul, Kepala Cabang Pendidikan Wilayah Jember, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, ada ketidaksesuaian harapan dengan realitas di lapangan. Pencaker berharap dunia kerja menjadi tempat nyaman, sedangkan faktanya dibutuhkan banyak keterampilan agar tetap bertahan. “Tidak sesuai ekspektasi mereka,” ucapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Mau kerja apa dan di mana? Itulah yang ada di benak lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Meski siswa SMK dipersiapkan untuk siap kerja, tak sedikit mereka bingung mencari kerja. Akibatnya, saat bekerja, mereka tidak tahan banting.

Berdasarkan data pencari kerja (pencaker) di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lumajang, selama 2020 terdapat 84 orang lulusan SMK yang memohon AK-1 atau surat pencaker. Jumlah tersebut menurun drastis dibanding tahun sebelumnya. “Ada penurunan. Pencaker tahun 2019 sebanyak 659 orang lulusan SMK,” ujar Wastu Adiriyono, Kasi Penempatan Kerja dalam Negeri Disnaker Lumajang.

Dia mengatakan, selain pandemi korona yang berimbas pada pembatasan sosial, ketidaksiapan lulusan SMK juga berpengaruh pada serapan tenaga kerja. Meskipun dibekali keterampilan melalui program magang SMK, hal itu belum cukup. Sebab, kesiapan mental pencaker menjadi penting.

“Setelah mereka masuk kerja, menjalani dan merasakan pekerjaannya, justru sebagian besar keluar. Mereka kaget dunia kerja. Karena hal itu berbeda dengan keseharian mereka sebelumnya. Bahkan temuan kami, mereka hanya masuk sehari, setelah itu keluar,” jelasnya.

Mahrus Syamsul, Kepala Cabang Pendidikan Wilayah Jember, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, ada ketidaksesuaian harapan dengan realitas di lapangan. Pencaker berharap dunia kerja menjadi tempat nyaman, sedangkan faktanya dibutuhkan banyak keterampilan agar tetap bertahan. “Tidak sesuai ekspektasi mereka,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/