alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Bukan Letusan, tapi Gravitasi

Dalam dua bulan terakhir, aktivitas Gunung Semeru terus meningkat. Statusnya memang tidak berubah pada Level II waspada, tetapi menimbulkan kegelisahan karena asap membubung di luar kewajaran.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Akhir pekan kemarin tidak ada yang menyangka Gunung Semeru mengalami guguran. Erupsi terjadi kedua kalinya setelah 1 Desember 2020 lalu. Kondisinya sama persis dengan sebelumnya yang tidak memunculkan tanda-tanda yang bisa ditebak.

Pos pantau gunung api sekalipun tidak memperkirakan guguran itu terjadi. Namun tiba-tiba, guguran api meluncur dari kawah Jonggring Saloko. Lidah Lava Semeru menjulur sepanjang 4,5 kilometer.

Asap tebal yang keluar lebih parah. Warga sekitar sampai panik untuk mengungsi. Beberapa saat kemudian diketahui jika peningkatan itu bukan letusan. “Itu bukan letusan, tapi akibat gravitasi menyebabkan guguran awan panas. Kondisinya sudah aman,” ungkap Wabup Lumajang Ir Hj Indah AMperawati sesaat setelah erupsi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Memang ada guyuran abu, tetapi tidak sampai lama sudah hilang. “Erupsi skunder tentu masih membuat kita was-was, karena berpotensi terjadi lahar dingin,” tambahnya. Menurutnya, BPBD dan relawan bencana tetap stand by di lokasi.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Akhir pekan kemarin tidak ada yang menyangka Gunung Semeru mengalami guguran. Erupsi terjadi kedua kalinya setelah 1 Desember 2020 lalu. Kondisinya sama persis dengan sebelumnya yang tidak memunculkan tanda-tanda yang bisa ditebak.

Pos pantau gunung api sekalipun tidak memperkirakan guguran itu terjadi. Namun tiba-tiba, guguran api meluncur dari kawah Jonggring Saloko. Lidah Lava Semeru menjulur sepanjang 4,5 kilometer.

Asap tebal yang keluar lebih parah. Warga sekitar sampai panik untuk mengungsi. Beberapa saat kemudian diketahui jika peningkatan itu bukan letusan. “Itu bukan letusan, tapi akibat gravitasi menyebabkan guguran awan panas. Kondisinya sudah aman,” ungkap Wabup Lumajang Ir Hj Indah AMperawati sesaat setelah erupsi.

Memang ada guyuran abu, tetapi tidak sampai lama sudah hilang. “Erupsi skunder tentu masih membuat kita was-was, karena berpotensi terjadi lahar dingin,” tambahnya. Menurutnya, BPBD dan relawan bencana tetap stand by di lokasi.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Akhir pekan kemarin tidak ada yang menyangka Gunung Semeru mengalami guguran. Erupsi terjadi kedua kalinya setelah 1 Desember 2020 lalu. Kondisinya sama persis dengan sebelumnya yang tidak memunculkan tanda-tanda yang bisa ditebak.

Pos pantau gunung api sekalipun tidak memperkirakan guguran itu terjadi. Namun tiba-tiba, guguran api meluncur dari kawah Jonggring Saloko. Lidah Lava Semeru menjulur sepanjang 4,5 kilometer.

Asap tebal yang keluar lebih parah. Warga sekitar sampai panik untuk mengungsi. Beberapa saat kemudian diketahui jika peningkatan itu bukan letusan. “Itu bukan letusan, tapi akibat gravitasi menyebabkan guguran awan panas. Kondisinya sudah aman,” ungkap Wabup Lumajang Ir Hj Indah AMperawati sesaat setelah erupsi.

Memang ada guyuran abu, tetapi tidak sampai lama sudah hilang. “Erupsi skunder tentu masih membuat kita was-was, karena berpotensi terjadi lahar dingin,” tambahnya. Menurutnya, BPBD dan relawan bencana tetap stand by di lokasi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/