alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Lumajang Terpilih Jadi Bagian Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Keberadaan perpustakaan sebagai jantung dan pusat literasi butuh perhatian lebih. Sebab, di Kabupaten Lumajang, perpustakaan berbasis inklusi sosial yang berjalan sejak tahun 2018, kini seperti mati suri. Selain karena pandemi, anggaran pengelolaan perpus juga dikepras.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perpustakaan digadang-gadang menjadi tempat mempelajari semua ilmu. Sebab, melalui perpustakaan, buku dan ilmu pengetahuan tersedia. Namun, jika pengelolaan perpustakaan tidak maksimal, program perpustakaan berbasis inklusi sosial juga tidak akan optimal.

Tutik Endriyani, Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Lumajang, mengungkapkan, Kabupaten Lumajang terpilih menjadi salah satu kabupaten percontohan dalam program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Sejak 2018, program tersebut resmi diterapkan di Lumajang. Hal tersebut merupakan kelanjutan program PerpuSeru-CCFI.

“Tahun 2011, kami bermitra dengan Program PerpuSeru-CCFI yang merupakan embrio program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kami terpilih menjadi salah satu dari 50 kabupaten yang memperoleh program tersebut. Awalnya ada delapan desa. Setiap tahun terus bertambah hingga ada 66 perpustakaan desa (perpusdes) yang sudah berbasis inklusi,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tutik menjelaskan, program tersebut memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensi desa. Hal tersebut meliputi keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya serta hak asasi manusia. Sebab, tujuan program tersebut adalah menciptakan masyarakat sejahtera.

“Jadi, tidak hanya perpustakaan itu sebagai tempat meminjam atau membaca buku. Tetapi, sudah merambah ke hal lainnya. Misalnya ada kegiatan perkumpulan komunitas atau organisasi, pelatihan teknologi informasi, hingga teknologi tepat guna dan praktik keterampilan. Melalui perpustakaan juga, masyarakat bisa belajar wirausaha. Mulai dari idenya, prosesnya, sampai cara pemasarannya seperti apa,” jelasnya.

Kegiatan tersebut, lanjutnya, tidak hanya dimulai sejak program bergulir. Namun, sejak awal perpustakaan, terutama perpustakaan desa, sudah dibekali hal tersebut. Hasilnya, prestasi demi prestasi terus diraih setiap tahun. Namun, dua tahun terakhir, tidak ada satu pun prestasi yang diraih.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perpustakaan digadang-gadang menjadi tempat mempelajari semua ilmu. Sebab, melalui perpustakaan, buku dan ilmu pengetahuan tersedia. Namun, jika pengelolaan perpustakaan tidak maksimal, program perpustakaan berbasis inklusi sosial juga tidak akan optimal.

Tutik Endriyani, Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Lumajang, mengungkapkan, Kabupaten Lumajang terpilih menjadi salah satu kabupaten percontohan dalam program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Sejak 2018, program tersebut resmi diterapkan di Lumajang. Hal tersebut merupakan kelanjutan program PerpuSeru-CCFI.

“Tahun 2011, kami bermitra dengan Program PerpuSeru-CCFI yang merupakan embrio program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kami terpilih menjadi salah satu dari 50 kabupaten yang memperoleh program tersebut. Awalnya ada delapan desa. Setiap tahun terus bertambah hingga ada 66 perpustakaan desa (perpusdes) yang sudah berbasis inklusi,” katanya.

Tutik menjelaskan, program tersebut memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensi desa. Hal tersebut meliputi keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya serta hak asasi manusia. Sebab, tujuan program tersebut adalah menciptakan masyarakat sejahtera.

“Jadi, tidak hanya perpustakaan itu sebagai tempat meminjam atau membaca buku. Tetapi, sudah merambah ke hal lainnya. Misalnya ada kegiatan perkumpulan komunitas atau organisasi, pelatihan teknologi informasi, hingga teknologi tepat guna dan praktik keterampilan. Melalui perpustakaan juga, masyarakat bisa belajar wirausaha. Mulai dari idenya, prosesnya, sampai cara pemasarannya seperti apa,” jelasnya.

Kegiatan tersebut, lanjutnya, tidak hanya dimulai sejak program bergulir. Namun, sejak awal perpustakaan, terutama perpustakaan desa, sudah dibekali hal tersebut. Hasilnya, prestasi demi prestasi terus diraih setiap tahun. Namun, dua tahun terakhir, tidak ada satu pun prestasi yang diraih.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perpustakaan digadang-gadang menjadi tempat mempelajari semua ilmu. Sebab, melalui perpustakaan, buku dan ilmu pengetahuan tersedia. Namun, jika pengelolaan perpustakaan tidak maksimal, program perpustakaan berbasis inklusi sosial juga tidak akan optimal.

Tutik Endriyani, Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Lumajang, mengungkapkan, Kabupaten Lumajang terpilih menjadi salah satu kabupaten percontohan dalam program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Sejak 2018, program tersebut resmi diterapkan di Lumajang. Hal tersebut merupakan kelanjutan program PerpuSeru-CCFI.

“Tahun 2011, kami bermitra dengan Program PerpuSeru-CCFI yang merupakan embrio program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kami terpilih menjadi salah satu dari 50 kabupaten yang memperoleh program tersebut. Awalnya ada delapan desa. Setiap tahun terus bertambah hingga ada 66 perpustakaan desa (perpusdes) yang sudah berbasis inklusi,” katanya.

Tutik menjelaskan, program tersebut memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensi desa. Hal tersebut meliputi keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya serta hak asasi manusia. Sebab, tujuan program tersebut adalah menciptakan masyarakat sejahtera.

“Jadi, tidak hanya perpustakaan itu sebagai tempat meminjam atau membaca buku. Tetapi, sudah merambah ke hal lainnya. Misalnya ada kegiatan perkumpulan komunitas atau organisasi, pelatihan teknologi informasi, hingga teknologi tepat guna dan praktik keterampilan. Melalui perpustakaan juga, masyarakat bisa belajar wirausaha. Mulai dari idenya, prosesnya, sampai cara pemasarannya seperti apa,” jelasnya.

Kegiatan tersebut, lanjutnya, tidak hanya dimulai sejak program bergulir. Namun, sejak awal perpustakaan, terutama perpustakaan desa, sudah dibekali hal tersebut. Hasilnya, prestasi demi prestasi terus diraih setiap tahun. Namun, dua tahun terakhir, tidak ada satu pun prestasi yang diraih.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/