alexametrics
28.7 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Menangis dan Tertawa Bersama

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Momen yang berbeda terlihat selama Lebaran tahun ini. Saat malam takbiran, misalnya. Biasanya dilakukan dengan megah, tetapi kini sangat sederhana. “Hanya menggunakan mikrofon, sound system kecil, dan beberapa alat musik islami saja,” kata Kuswantoro, salah satu warga setempat.

Lantunan takbir pun sangat berbeda. Dia mengungkapkan, ada getaran yang mengundang air mata saat takbir diucapkan. Bahkan, beberapa warga menitikkan air mata. “Kami haru. Seolah-olah takbir itu juga ikut merasakan apa yang kami rasakan. Sehingga, suara yang terdengar akan mengundang air mata. Sebagian dari kami tidak kuasa membendung saat takbir dikumandangkan melalui pelantang suara,” ungkapnya.

Poniran, Sekretaris Takmir masjid Al Falah, mengatakan, pemandangan tersebut baru terjadi Lebaran tahun ini. “Selama merayakan Lebaran, masyarakat memang bahagia, tetapi tidak sampai merasakan haru dan menangis. Tetapi, tahun ini, mereka benar-benar bahagia masih bisa berpuasa dan bertemu hari raya,” kata Ketua Ranting Muhammadiyah Kaliuling tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah salat Id di tenda, mereka kembali ke hunian sementara. Meski tidak ada lagi rumah yang mereka tempati, tenda dan sejumlah hunian sementara dimanfaatkan sebagai ruang tamu bertemu dengan tetangga. “Silaturahmi tetap terjaga walaupun tidak berkunjung ke rumah tetangga. Meski tidak ada lagi hidangan ketupat, lontong, dan opor ayam, kami tetap bisa tertawa bersama,” terangnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Momen yang berbeda terlihat selama Lebaran tahun ini. Saat malam takbiran, misalnya. Biasanya dilakukan dengan megah, tetapi kini sangat sederhana. “Hanya menggunakan mikrofon, sound system kecil, dan beberapa alat musik islami saja,” kata Kuswantoro, salah satu warga setempat.

Lantunan takbir pun sangat berbeda. Dia mengungkapkan, ada getaran yang mengundang air mata saat takbir diucapkan. Bahkan, beberapa warga menitikkan air mata. “Kami haru. Seolah-olah takbir itu juga ikut merasakan apa yang kami rasakan. Sehingga, suara yang terdengar akan mengundang air mata. Sebagian dari kami tidak kuasa membendung saat takbir dikumandangkan melalui pelantang suara,” ungkapnya.

Poniran, Sekretaris Takmir masjid Al Falah, mengatakan, pemandangan tersebut baru terjadi Lebaran tahun ini. “Selama merayakan Lebaran, masyarakat memang bahagia, tetapi tidak sampai merasakan haru dan menangis. Tetapi, tahun ini, mereka benar-benar bahagia masih bisa berpuasa dan bertemu hari raya,” kata Ketua Ranting Muhammadiyah Kaliuling tersebut.

Setelah salat Id di tenda, mereka kembali ke hunian sementara. Meski tidak ada lagi rumah yang mereka tempati, tenda dan sejumlah hunian sementara dimanfaatkan sebagai ruang tamu bertemu dengan tetangga. “Silaturahmi tetap terjaga walaupun tidak berkunjung ke rumah tetangga. Meski tidak ada lagi hidangan ketupat, lontong, dan opor ayam, kami tetap bisa tertawa bersama,” terangnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Momen yang berbeda terlihat selama Lebaran tahun ini. Saat malam takbiran, misalnya. Biasanya dilakukan dengan megah, tetapi kini sangat sederhana. “Hanya menggunakan mikrofon, sound system kecil, dan beberapa alat musik islami saja,” kata Kuswantoro, salah satu warga setempat.

Lantunan takbir pun sangat berbeda. Dia mengungkapkan, ada getaran yang mengundang air mata saat takbir diucapkan. Bahkan, beberapa warga menitikkan air mata. “Kami haru. Seolah-olah takbir itu juga ikut merasakan apa yang kami rasakan. Sehingga, suara yang terdengar akan mengundang air mata. Sebagian dari kami tidak kuasa membendung saat takbir dikumandangkan melalui pelantang suara,” ungkapnya.

Poniran, Sekretaris Takmir masjid Al Falah, mengatakan, pemandangan tersebut baru terjadi Lebaran tahun ini. “Selama merayakan Lebaran, masyarakat memang bahagia, tetapi tidak sampai merasakan haru dan menangis. Tetapi, tahun ini, mereka benar-benar bahagia masih bisa berpuasa dan bertemu hari raya,” kata Ketua Ranting Muhammadiyah Kaliuling tersebut.

Setelah salat Id di tenda, mereka kembali ke hunian sementara. Meski tidak ada lagi rumah yang mereka tempati, tenda dan sejumlah hunian sementara dimanfaatkan sebagai ruang tamu bertemu dengan tetangga. “Silaturahmi tetap terjaga walaupun tidak berkunjung ke rumah tetangga. Meski tidak ada lagi hidangan ketupat, lontong, dan opor ayam, kami tetap bisa tertawa bersama,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/